Langsung ke konten utama

Menikmati Keintiman dengan Sang Waktu (Bagian 1)

Hidup adalah perjalanan. Suatu perjalanan mempunyai dua unsur utama, pertama subyek yang berjalan, kedua jalan sebagai media untuk berjalan. Dalam kehidupan ada jalan yang  konteksnya di dalam ruang dan jalan yang konteksnya berupa waktu. Jalan dalam konteks ruang adalah jalanan fisik. Terlihat jelas oleh mata, lebar, panjang, lika-liku, kerataannya. Terasa dikulit apabila diraba menggunakan telapan kaki atau telapak tangan. Terdengar suara apabila kaki dihentakkan ke jalan tersebut. Jalan dalam konteks waktu tidak kasat mata, tidak bisa diraba dengan telapak tangan, juga tidak ada media fisiknya jika kaki akan dihentakkan ke jalan tersebut. Hanya diberi tanda-tanda bahwa waktu terus berjalan. Tanda-tanda tersebut berupa siang-malam, posisi matahari, posisi bulan, musim, perubahan bentuk fisik. Manusia hanya mampu berdaulat terhadap jalan dalam konteks ruang. Bisa berhenti, maju, mundur atau memilih jalan lain. Dan tidak berdaulat sedikitpun dengan jalan dalam konteks waktu. Hanya terus maju ke depan. Tak bisa mundur, berhenti, belok atau memilih jenis waktu yang berbeda.

Waktu dalam kebutuhannya untuk belajar kehidupan, secara umum ada beberapa bagian, masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Pada prosesnya masa sekarang sangatlah sebentar karena dengan segera akan menjadi masa lalu jika mengingat gerak perjalanan waktu adalah ke depan. Seringkali manusia mengalami sebuah halusinasi yang aneh dengan menganggap waktu seakan-akan berhenti. Sehingga mereka merasa menikmati sebuah pencapaian. Melupakan segala-galanya. Mabuk kebahagiaan. Padahal pencapaian adalah titik waktu yang menghubungkan dengan titik waktu berikutnya. Bukan titik pemberhentian sehingga waktu bisa dimanipulasi dan dinikmati senikmat-nikmatnya.


Masa depan adalah kenyataan yang akan segera dihadapi oleh manusia. Konsep masa depan itu sebenarnya sederhana saja, seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa jika hari esok lebih buruk dari hari ini maka ia adalah orang yang celaka, jika hari esok sama dengan hari ini maka ia adalah orang yang rugi, jika hari esok lebih baik dari hari ini maka ia adalah orang yang beruntung.


Bukan berarti masa lalu tidak penting. Walaupun sudah berlalu, untuk menjalani hari ini dengan baik dan meraba masa depan secara akurat diperlukan masa lalu. Dan di dalam pembelajaran manapun, dalam memajukan sesuatu dalam bidang apapun masa lalu adalah unsur penting sebagai titik jarak untuk melontar ke depan. (Bersambung)

Komentar