Hidup
adalah perjalanan. Suatu perjalanan mempunyai dua unsur utama, pertama subyek
yang berjalan, kedua jalan sebagai media untuk berjalan. Dalam kehidupan ada
jalan yang konteksnya di dalam ruang dan
jalan yang konteksnya berupa waktu. Jalan dalam konteks ruang adalah jalanan
fisik. Terlihat jelas oleh mata, lebar, panjang, lika-liku, kerataannya. Terasa
dikulit apabila diraba menggunakan telapan kaki atau telapak tangan. Terdengar
suara apabila kaki dihentakkan ke jalan tersebut. Jalan dalam konteks waktu
tidak kasat mata, tidak bisa diraba dengan telapak tangan, juga tidak ada media
fisiknya jika kaki akan dihentakkan ke jalan tersebut. Hanya diberi tanda-tanda
bahwa waktu terus berjalan. Tanda-tanda tersebut berupa siang-malam, posisi
matahari, posisi bulan, musim, perubahan bentuk fisik. Manusia hanya mampu
berdaulat terhadap jalan dalam konteks ruang. Bisa berhenti, maju, mundur atau
memilih jalan lain. Dan tidak berdaulat sedikitpun dengan jalan dalam konteks
waktu. Hanya terus maju ke depan. Tak bisa mundur, berhenti, belok atau memilih
jenis waktu yang berbeda.
Waktu
dalam kebutuhannya untuk belajar kehidupan, secara umum ada beberapa bagian, masa
lalu, masa sekarang dan masa depan. Pada prosesnya masa sekarang sangatlah
sebentar karena dengan segera akan menjadi masa lalu jika mengingat gerak
perjalanan waktu adalah ke depan. Seringkali manusia mengalami sebuah
halusinasi yang aneh dengan menganggap waktu seakan-akan berhenti. Sehingga
mereka merasa menikmati sebuah pencapaian. Melupakan segala-galanya. Mabuk
kebahagiaan. Padahal pencapaian adalah titik waktu yang menghubungkan dengan
titik waktu berikutnya. Bukan titik pemberhentian sehingga waktu bisa
dimanipulasi dan dinikmati senikmat-nikmatnya.
Masa
depan adalah kenyataan yang akan segera dihadapi oleh manusia. Konsep masa
depan itu sebenarnya sederhana saja, seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi
Muhammad SAW bahwa jika hari esok lebih buruk dari hari ini maka ia adalah
orang yang celaka, jika hari esok sama dengan hari ini maka ia adalah orang
yang rugi, jika hari esok lebih baik dari hari ini maka ia adalah orang yang
beruntung.
Bukan
berarti masa lalu tidak penting. Walaupun sudah berlalu, untuk menjalani hari
ini dengan baik dan meraba masa depan secara akurat diperlukan masa lalu. Dan
di dalam pembelajaran manapun, dalam memajukan sesuatu dalam bidang apapun masa
lalu adalah unsur penting sebagai titik jarak untuk melontar ke depan. (Bersambung)
Komentar
Posting Komentar