Langsung ke konten utama

Satu-satunya Pilihan

Manusia adalah makhluk proses, bukan makhluk hasil. Nilai lebih manusia terdapat pada proses atau usahanya, bukan pada hasil dari proses atau usaha tersebut. Manusia tidak berhak menetukan hasil, Tuhanlah yang berhak menetukanya.

Kesadaran akan makhluk proses ini mulai memudar seiring berkembangnya pradigma materialis yang juga berbanding lurus dengan pragmatis dan hedonis. Paradigma-pradigma tersebut telah menghilangkan kesadaran manusia tentang substansu bahwa dirinya adalah makhluk proses. Hilangnya kesdaran ini bukan tidak berdampak apa-apa, tetapi berdampak cukup fatal bagi kelangsunga hidup manusia. Terutama dalam hubungan sosial.

Manusia selalu memfokuskan pada hasil bukan mengusahakan proses yang maksimal. Padahal nilai terdapat pada proses, bukan pada hasil. Yang dimaksud dengan nilai disini bersifat kualitatif bukan kuantitatif. Sebagai contoh, wakil rakyat yang hanya memikirkan uang saja bukan mengabdi kepada rakyat secara ikhlas, orientasi kerjanya pasti mengarah kepada pendapatan materi yang melimpah, akhirnya ia menghalalkan segala cara, salah satunya korupsi. Contoh lain, seorang guru yang mempunyai tujuan mengajar untuk menjadi kaya akan cenderung lebih pragmatis dari pada seorang guru yang mempunyai niat untuk membantu mencerdaskan bangsa.

Paradigma yang berorientasi pada hasil ini akan membentuk mata rantai tak terputus jika tidak ada yang mau memulai untuk memutusnya. Ketika mata rantai ini semakin kuat manusia akan mengatakan, “ini adalah satu-satunya pilihan”.

Komentar