Langsung ke konten utama

Makna Baru

Semenjak masa kecil, seseorang telah mengenal kelas. Sewaktu masih TK ada kelas nol kecil dan nol besar. SD ada kelas1-6, SMP 7-9, SMA 10-12. Di dalam kelas itu sendiri dibangun kelas lagi, antara yang dikatakan sebagai anak pintar dan anak kurang pintar (secara halus). Sistem yang dibangun tersebut bukan berarti tidak menimbulkan dampak apa-apa. Sistem tersebut membutakan manusia yang dicekoki dengan sistem kelas semenjak TK-SMA, akhirnya manusia terpaksa melakukan pembenaran terhadap sistem kelas. Keburukan yang ditampakkan secara terus-menerus akan diyakini sebagai kebenaran. Dari sistem kelas itu muncul sesuatu yang bersifat intimidatif, senior mengintimidasi junior, guru memihak kepada yang dianggap pintar secara kognitif, dll. Pada akhirnya sistem kelas tersebut termanifestasi pada kehidupan sosial dan dianggap sebagai sesuatu yang benar.

Terlepas dari apakah cara tersebut direncanakan oleh kelompok tertentu atau tidak, model sekolah seperti ini telah membutakan dan meredam pemikiran kritis manusia yang pada akhirnya manusia menganggap sistem tersebut sebagai sebuah kebenaran. Jika memang sistem tersebut benar, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah benar ketika suatu sistem selalu berdampak pada penindasan ?

Pembatasan akses yang dulu telah dilakukan pada masa kolonial atau dapat juga disebut sebagai pembodohan masih terasa pada masa saat ini. Hal tersebut membuat kelas yang disebut sebagai kelas bawah dalam tatanan sosial tidak mampu berbuat banyak terhadap aktifitasnya membangun ekonomi yang bersifat individual maupun keluarga. Mereka hanya mampu melakukan itu, dan satu-satunya yang bisa dilakukan itu dihambat oleh orang-orang yang menyatakan dirinya berada diatas, supaya orang tersebut kokoh berada di puncak strata sosial.

Artinya akibat dari masa kolonial adalah sesuatu yang harus diterima oleh Indonesia, sama halnya seseorang menerima bawaan sejak lahir. Tetapi yang terjadi bukan penerimaan, melainkan penghambatan. Orang-orang yang di atas terus menghambat mereka yang dibawah. Media selalu memojokkan yang dibawah. Berbagai media mayoritas menampilkan berbagai periatiwa penindasan disisi lain bangga menampilkan kehidupan glamour orang-orang yang berada di atas. Sistem kelas ini tentu saja sangat tidak relevan dari konsep kesetaraan di antara manusia yang relevan dengan konsep perdamaian. Selama sistem kelas masih ada tak akan ada perdamaian yang sebenarnya. Perdamaian hanya akan bisa dicapai ketika antar manusia tidak mengintimidasi manusia lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bukan dengan sistem kapitalisme maupun komunisme.

Kedua sistem tersebut, komunisme dan kapitalisme adalah dua sistem yang saling mengintimidasi satu sama lain. Kapitalisme menganggap komunisme buruk, komunisme menganggap kapitalisme buruk. Akhirnya ketika kapitalisme dianggap mengimintidasi kelas bawah dengan ditandai munculnya komunisme, kelompok komunis tersebut secara brutal membantai orang-orang yang menganut paham kapitalis. Kedua sistem tersebut adalah sistem adu domba dalam bentuk yang hampir tak terlihat. Mungkin pada awalnya memang muncul secara alamiah akibat respon tertentu tetapi setelah berjalan lama dari kemunculan awal, sistem tersebut digunakan sebagai alat politik yang memang bertujuan untuk menimbulkan intimidasi bagi kelompok lain.

Hal tersebut menegaskan bahwa harus ada sistem baru yang benar-benar bisa merangkul semua orang dan memberikan makna hidup baru bagi manusia, sehingga bisa menghapuskan makna hidup kompetisi yang sekarang dipercayai sebagai alasan terkuat manusia melanjutkan hidup. Orang-orang yang berada di atas harus berhenti menggerakkan ego rendah orang-orang yang ada di tengah dan mengorbankan orang yang di bawah. Orang-orang yang di tengah harus mulai sadar bahwa ego rendah mereka sedang digerakkan sehingga mereka bisa serakah walaupun dalam keadaan tidak mampu. Orang-orang yang di bawah harus tetap bersemangat untuk melanjutkan hidup.

Sistem ini bisa dimulai dengan pemaknaan baru terhadap produktivitas. Suatu produktivitas dianggap maju dan bermakna ketika bisa menghasilkan uang banyak. Artinya tujuan utamanya adalah materi. Pemaknaan tersebut harus mulai dihilangkan jika intimidasi ingin benar-benar dihilangkan. Pemaknaan yang pas adalah produktivitas berfungsi untuk kemaslahatan manusia secara universal. Uang tetap dipakai sebagai alat tukar. Namun produktivitas tidak diarahkan semata-mata dalam rangka pengumpulan modal. Artinya bertujuan untuk memelihara kelangsungan hidup manusia di seluruh dunia. Hal ini bisa terlaksana ketika terjadi sebuah keseimbangan, artinya bukan hanya satu pihak atau dua pihak yang melakukan pemaknaan tetapi mayoritas pihak. Dengan alasan itu manusia akan menjadi sadar bahwa hidup bukan untuk berkompetisi tetapi untuk memelihara kehidupan. Pemaknaan inilah yang harus menyertakan Tuhan, walaupun hanya dipakai untuk sebuah politisasi dalam rangka memberikan makna baru dan menghapuskan makna kompetisi. Pemaknaan tersebut adalah “salah satu tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi wakil-Nya di dunia dalam rangka memelihara kehidupan dunia”.

Sehingga materi bukanlah menjadi satu-satunya tujuan manusia hidup. Orang bekerja bukan semata-mata untuk mencari materi, tetapi untuk memajukan peradaban manusia itu sendiri. Manusia harus mulai sadar bahwa secara substansial manusia satu dengan yang lain itu sama. Setiap manusia memang mempunyai hak tetapi di sisi lain hak manusia dibatasi oleh hak manusia lain. Secara tidak langsung hal tersebut menunjukkan bahwa kehidupan saling membantu satu sama lain harus dikedepankan, minimal dengan tidak menghambat orang lain. Manusia harus mulai membuat sebuah tatanan dunia yang menyatukan antar satu negara dengan negara lain, rasa saling memiliki karena sama-sama terlahir sebagai manusia harus dikedepankan. Motivasi terbesar untuk hidup seharusnya untuk memajukan kehidupan dunia secara universal. Bukan saling merebut strata sosial teratas sehingga salah satu manusia menjadi yang paling kaya, hebat, terkenal di antara manusia lain. Manusia hanya salah paham tentang tantangan dan terjebak kebosanan. Tantangan bukanlah dengan melakukan sesuatu yang buruk tetapi mempertahankan perbuatan baik adalah tantangan tersendiri. Manusia salah melakukan pemaknaan sehingga terjebak kebosanan akhirnya mengisi kehidupan dengan kompetisi.

Komentar