Langsung ke konten utama

Gamang Sepanjang Hidup

Iqro' (bacalah) adalah kata pertama yang didengar oleh Rasulullah SAW dari penyampai pesan Allah, yaitu Malaikat Jibril. Begitu pentingnya kata itu, sehingga harus disampaikan pertama kali. Mendahului kata yang berfungsi untuk mengenalkan diri Allah sendiri. Apakah itu Allah, Ar-rahman, Ar-rahim atau nama-nama Allah yang lain. Namun, kata yang sangat penting itu sudah mulai diabaikan. Kata itu kini terletak di bagian dasar tumpukan-tumpukan kata yang dikoleksi oleh manusia. Masih kalah dengan kata harta, tahta, wanita.

Bacalah merupakan sebuah kata perintah. Maksudnya disuruh untuk membaca, melakukan suatu aktivitas baca. Aktivitas baca adalah suatu proses belajar. Karena iqro itu sudah mulai diabaikan, belajar itu sudah mulai ditinggalkan, orang tahunya membaca itu ya menghadap sebuah tulisan, belajar itu ya di sekolah atau sebuah institusi pendidikan atau menghafal materi yang diberikan disekolah maupun institusi pendidikan lain yang fungsinya seperti sekolah.   

Penyempitan makna belajar yang sudah terimplementasi secara mainstream itu mengakibatkan sebuah penyempitan yang semakin sempit, semakin sempit dan semakin sempit. Belajar-sekolah-ijazah-bekerja-uang-merasa lebih hebat dari orang lain. Sudah berapa lapis penyempitan dari kata belajar itu sendiri. Padahal belajar mempunyai dimensi yang sangat luas dan sebenarnya tidak ada hubungan yang terikat dengan sekolah. Sekolah ada atau tidak, ya tetap harus belajar.

Penyempitan-penyempitan yang dijunjung secara masal dan mengakibatkan kegamangan hidup itu, anehnya terus dipelahara. Bahkan terus diperkuat, ditinggikan sampai menjulang ke langit pagar-pagarnya agar kesempitan tetap terjaga. Kalau perlu pagarnya dipertebal, sehingga ruang yang tersisa akan semakin sempit. Ketika pagarnya sudah mempunyai ketebalan yang cukup dan sangat sulit dirobohkan, pilihannya hanya dua, menikmati ruangan sempit itu atau mencari cara untuk keluar dari pagar super power itu walaupun mustahil. Kedua pilihan itu akan berakibat sama ketika pagarnya semakin tebal sampai tak tersisa ruangan sedikitpun, yaitu mati terhimpit pagar. Perbedaannya terletak pada nilai perjuangannya.

Kelihatannya, pagar mulai semakin tebal. Indikasinya adalah manusia sudah mulai bingung mencari korelasi antara “nasib suatu kaum tergantung dari kaum itu sendiri” dengan “cerita Nabi Khidzir membunuh anak kecil”. Atau “siapa yang menanam pasti menuai” dengan “terbunuhnya cucu Rasulullah SAW karena diracun oleh istrinya sendiri”.

Kemudian, bagaimana jika memang gamang sepanjang hidup itu sudah ketentuan Allah ?

Komentar