Diantara banyak
bebatuan, pasti ada satu atau beberapa batu yang istimewa. Begitu juga diantara
banyak manusia ada manusia-manusia yang istimewa. Manusia-manusia istimewa ini
yang seringkali menjadi pembeda. Ia bisa memotivasi, mengoordinir,
mengorganisir manusia-manusia lain untuk menuju kebaikan.
Bukan sebuah rahasia
lagi apabila terjadi pengkultusan-pengkultusan terhadap manusia-manusia
istimewa tersebut. Banyak sekali
kisah-kisah dalam sejarah umat manusia yang dipenuhi dengan nuansa
pengkultusan, sampai-sampai manusia yang dikultuskan itu dianggap setara dengan
Tuhan.
Naluri untuk kagum
dengan manusia istimewa, kalau sekarang ada yang menyebutnya sebagai tokoh,
secara tidak langsung diwariskan secara turun-temurun. Efeknya adalah banyak
sekali peristiwa sejarah yang terjadi karena hilangnya sosok-sosok istimewa.
Entah itu kemunduran kerajaan, goyahnya tatanan sosial-politik. Biasanya karena
penerusnya tidak sekharismatik pendahulunya. Naluri itu membawa manusia kepada
perilaku yang sebenarnya tidak dikendalikan olehnya, sudah otomatis.
Kesilauannya dengan tokoh kharismatik membuat ia berbelok dari nilai-nilai yang
diajarkan sang tokoh.
Bangsa indonesia
adalah salah satu bangsa yang mempunyai naluri pengkultusan cukup tinggi. Bisa
jadi apa yang menjadi permasalahan besar bangsa Indonesia saat ini adalah
akibat dari naluri itu.
Naluri yang sangat
mendarah daging itu bisa kita amati melalui sekumpulan anak pada jenjang
persekolahan, bahkan pada orang dewasa pun seperti itu. Banyak kejadian, suatu
kelas akan menjadi kondusif jika diampu oleh guru tertentu, dan kembali menjadi
gaduh jika diampu oleh guru selain guru tertentu tersebut. Padahal guru
tertentu itu tidak pernah menyuruh anaknya untuk kondusif. Atau suatu forum
menjadi kondusif secara seketika jika orang tertentu sedang berbicara dan
menjadi sebaliknya jika orang lain berbicara. Artinya dalam proses tersebut ada
semacam unsur istimewa dari guru tertentu atau orang tertentu tersebut, yang
membuat naluri pengkultusan itu bergerak dan akhirnya secara sendirinya menjadi
kondusif, walaupun posisi saat itu tidak sampai kepada pengkultusan. Kondisi
tersebut hanya akan berlangsung baik ketika ada sosok-sosok tertentu dan
berlangsung memburuk jika sosok-sosok tertentu yang istimewa itu pergi dari
lingkungan tersebut.
Jika benar masalah
yang menghimpit bangsa Indonesia ini karena tiadanya tokoh sekaliber gajah mada
atau wali songo, celakalah bangsa Indonesia. Tambah celaka kalau naluri-naluri pengkultusan
itu terus dipertahankan.
Inilah yang terjadi
jika sepanjang hidup manusia harapannya digantungkan kepada
manusia-manusia juga, bukan kepada nilai-nilai yang bersifat sejati. Mungkin
derita panjang dari generasi ke generasi ini adalah teguran Tuhan bagi umat
manusia, Tuhan ingin mengingatkan bahwa sandaran utama hidup itu ya Tuhan,
bukan yang lain. Qul huwallahu ahad. Katakanlah, “Dialah Allah yang Maha
Tunggal”.
Sejak awal Tuhan
memang sadar bahwa manusia diciptakan dengan naluri “Allahu Akbar” yang bisa
berbelok jika manusia tidak mampu mengarahkannya kepada arah yang tepat. Tuhan
tidak tega, akhirnya Tuhan menjadi Tuhan, bukan menjadi sejatinya Dia.
Kemurahan hati-Nya itupun belum tentu bisa dibaca dan dimengerti dengan baik
oleh manusia. Kemudian Dia memberikan bonus berupa Maha Pengampun, Maha
Penerima Taubat. Serta masih banyak sekali bonus yang disiapkan oleh Tuhan
untuk manusia karena kelemahan tidak terkira yang dimiliki oleh manusia.
Komentar
Posting Komentar