Jangan heran jika
engkau kuajak untuk masuk ke negeriku.
Negeriku adalah negeri yang dipimpin oleh Nyi Roro Kidul. Sudah lama beliau
tidak menampakkan diri. Beliau bersembunyi sudah cukup lama. Para abdinya
sangat loyal kepadanya. Walaupun mereka sudah lama tidak melihat pemimpinnya, nilai-nilai
yang dibawa beliau selalu mereka junjung dengan sangat tinggi. Mereka bawa
kemana-mana. Begitu setianya mereka.
Aku benar-benar tidak kerasan. Rasanya ingin kembali ke lingkungan masyarakat biasa saja. Bisa dengan mudahnya ngobrol dimana saja, ikut membantu mengangkat karung padi milik siapa saja, membantu membagikan makanan dan minuman dalam acara-acara masyarakat dengan tanpa ada beban.
Aku berasal dari
negeri antah brantah. Aku memasuki negeri pimpinan Nyi Roro Kidul ini juga
bukan karena keinginanku. Entah kenapa, kakiku ini seperti melangkah sendiri,
tanpa aku sadar akan tujuan dari langkah-langkah kakiku. Awalnya alasan dari
langkah kakiku ini adalah sebuah kabar yang aku dengar tentang sebuah negeri
yang penduduknya memiliki nilai-nilai kehidupan yang begitu arif. Aku ingin
mempelajarinya, supaya aku tidak kebingungan untuk menentukan langkah-langkah
kehidupan. Aku hanya mengikuti naluriku saja. Ketika kuikuti naluriku, tanpa
sadar aku memasuki negeri yang dipimpin oleh Nyi Roro Kidul ini. Saat itu aku
belum menganggap negeri ini sebagai negeriku.
Layaknya seorang
pendatang baru, aku beradaptasi dengan lingkungan sekitarku. Aku menyesuaikan
diri tentang bagaimana berjalan, berkata-kata terhadap orang yang lebih tua,
apa tema-tema perbincangannya, bagaimana karakteristik masyaraktnya. Kuakui
begitu adiluhung nilai-nilainya. Berbeda dengan negeri asalku. Tak ada
perbedaan antara berkata-kata dengan orang tua atau dengan seorang anak kecil.
Tak ada pemilihan pakaian yang sesuai situasi dan kondisi. Antara acara resmi
dan tidak, tidak masalah memakai kaos. Tetapi, kalau di sini acara resmi atau
acara-acara yang bersifat religius sewajarnya memakai sarung, kemeja dan peci.
Aku mulai menikmati
kehidupan di sini. Nilai-nilainya mulai kuresapi. Aku mulai kerasan. Sudah
sekitar 50 persen aku menganggap negeri ini sebagai negeriku. Di sini ada
semacam strata di masyarakatnya, untuk naik ke strata yang lebih tinggi harus
mendapat legitimasi oleh Nyi Roro Kidul sendiri walaupun hanya disampaikan oleh
pasukan-pasukannya atau tidak secara langsung.
Orang-orang di sini
mulai menyukaiku. Entah apa yang mereka suka dari diriku. Aku hanya bergaul
semampuku saja, tidak menjanjikan apa-apa kepada mereka. Mungkin, ini hanya ke-GR-anku
saja, aku dianggap cukup bermanfaat bagi mereka, sehingaa mereka sungkan kalau
tidak memberikan apa-apa kepada diriku. Itu salah satu nilai yang mereka
pegang, rasa sungkan. Sesuatu yang ingin mereka berikan kepadaku adalah sesuatu
yang sangat istimewa bagi mereka, tetapi bagiku awalnya biasa saja, entah ilmu
hipnotis seperti apa yang membuatku merasa yang akan diberikan jadi istimewa.
Hadiah itu adalah aku akan diusulkan oleh mereka untuk dinaikkan stratanya. Selain
istimewa, itu adalah sesuatu yang sulit. Untuk naik strata ada dua hal yang
harus aku pegang, pertama harus mengakui ini adalah negeriku, kedua tidak boleh
menolak, kalau menolak berarti penghinaan. Mau tidak mau aku harus mengakui
negeri ini sebagai negeriku. Mungkin ini sudah jalan hidup yang diberikan oleh Tuhan
kepadaku.
Naik strata adalah
suatu proses penyesuain diri pada level yang lebih tinggi. Perlahan-lahan aku
mempraktikkan apa-apa yang sudah aku pelajari ketika awal-awal dulu aku
memasuki negeri ini. Ternyata, secara garis besar sama. Cara berbicaranya,
bergaulnya, berjalannya. Di tengah proses itu aku menemukan sesuatu yang agak
berbeda. Ketika naik strata, aku dimungkinkan untuk bergaul dengan banyak orang
berstrata yang lebih tinggi daripada ketika aku dulu hanya sebagai masyarakat
biasa. Kali ini lebih sulit, karena mayoritas dari mereka hanya mau ngobrol,
berteman dengan yang stratanya sama atau lebih tinggi. Aku di sini tidak
mempunyai teman. Hanya satu, dua, tiga orang, terkadang hanya sendiri. Beginilah
nasib strata yang rendah, harus siap mengabdi kepada strata yang lebih tinggi.
Ini membuatku tidak kerasan. Rasa-rasanya aku tidak ingin menjadi bagian dari
strata ini, ingin kembali ke masyarakat biasa saja. Sesuatu yang juga tidak aku
suka adalah orang-orang yang naik stratanya benar-benar harus melupakan bahwa
ia dulu juga masyarakat biasa, mereka harus mau untuk tidak menghabiskan
keringat dengan berogotong royong, untuk tidak mengotori tangan dengan tanah,
peti jenazah. Mereka hanya boleh dalam posisi memberikan instruksi-instruksi
saja.
Aku benar-benar tidak kerasan. Rasanya ingin kembali ke lingkungan masyarakat biasa saja. Bisa dengan mudahnya ngobrol dimana saja, ikut membantu mengangkat karung padi milik siapa saja, membantu membagikan makanan dan minuman dalam acara-acara masyarakat dengan tanpa ada beban.
Ada satu hal yang
belum aku beri tahu. Terpaksa harus aku beri tahu. Awalnya aku merahasiakannya.
Sebenarnya aku mendapat kabar bahwa Nyi Roro Kidul sudah berjilbab, kalau dulu
kan memakai konde dan atribut-atribut tradisionalnya. Aku ingin mencari negeri
baru yang dipimpinnya, karena dari kabar yang aku dengar nilai-nilai yang
dipegang kebih mendalam, lebih luas jangkauannya, serta lebih bersifat
transendental. Kabarnya beliau sudah pusing bagaimana cara membuat
masyarakatnya menerima bahwa beliau harus merubah penampilannya, akhirnya
beliau pergi dengan beberapa pasukan-pasukannya yang paling militan tanpa
diketahui oleh penduduknya beserta pengikut-pengikutnya yang kurang loyal dan
militan, kemudian mendirkan negeri baru. Aku berusaha mencari lokasi negeri
barunya, e ternyata malah kesasar ke negerinya yang lama. Ya sudahlah. Sesekali
aku ingin meneriakkan, “ Hoi! Nyi Roro Kidul sudah berubah penampilan, sudah
pakai jilbab !”, Atau “Nyi Roro Kidul sudah punya negeri baru ! kalian sudah
ditinggalkannya”, kepada penduduk negeri
lamanya. Namun, sampai sekarang tak
kunjung mampu juga.
Komentar
Posting Komentar