Langsung ke konten utama

Berteriak ! Tak Kunjung Mampu (Seri Negeri Nyi Roro Kidul 1)

Jangan heran jika engkau kuajak untuk masuk  ke negeriku. Negeriku adalah negeri yang dipimpin oleh Nyi Roro Kidul. Sudah lama beliau tidak menampakkan diri. Beliau bersembunyi sudah cukup lama. Para abdinya sangat loyal kepadanya. Walaupun mereka sudah lama tidak melihat pemimpinnya, nilai-nilai yang dibawa beliau selalu mereka junjung dengan sangat tinggi. Mereka bawa kemana-mana. Begitu setianya mereka.


Aku berasal dari negeri antah brantah. Aku memasuki negeri pimpinan Nyi Roro Kidul ini juga bukan karena keinginanku. Entah kenapa, kakiku ini seperti melangkah sendiri, tanpa aku sadar akan tujuan dari langkah-langkah kakiku. Awalnya alasan dari langkah kakiku ini adalah sebuah kabar yang aku dengar tentang sebuah negeri yang penduduknya memiliki nilai-nilai kehidupan yang begitu arif. Aku ingin mempelajarinya, supaya aku tidak kebingungan untuk menentukan langkah-langkah kehidupan. Aku hanya mengikuti naluriku saja. Ketika kuikuti naluriku, tanpa sadar aku memasuki negeri yang dipimpin oleh Nyi Roro Kidul ini. Saat itu aku belum menganggap negeri ini sebagai negeriku.

Layaknya seorang pendatang baru, aku beradaptasi dengan lingkungan sekitarku. Aku menyesuaikan diri tentang bagaimana berjalan, berkata-kata terhadap orang yang lebih tua, apa tema-tema perbincangannya, bagaimana karakteristik masyaraktnya. Kuakui begitu adiluhung nilai-nilainya. Berbeda dengan negeri asalku. Tak ada perbedaan antara berkata-kata dengan orang tua atau dengan seorang anak kecil. Tak ada pemilihan pakaian yang sesuai situasi dan kondisi. Antara acara resmi dan tidak, tidak masalah memakai kaos. Tetapi, kalau di sini acara resmi atau acara-acara yang bersifat religius sewajarnya memakai sarung, kemeja dan peci.

Aku mulai menikmati kehidupan di sini. Nilai-nilainya mulai kuresapi. Aku mulai kerasan. Sudah sekitar 50 persen aku menganggap negeri ini sebagai negeriku. Di sini ada semacam strata di masyarakatnya, untuk naik ke strata yang lebih tinggi harus mendapat legitimasi oleh Nyi Roro Kidul sendiri walaupun hanya disampaikan oleh pasukan-pasukannya atau tidak secara langsung.

Orang-orang di sini mulai menyukaiku. Entah apa yang mereka suka dari diriku. Aku hanya bergaul semampuku saja, tidak menjanjikan apa-apa kepada mereka. Mungkin, ini hanya ke-GR-anku saja, aku dianggap cukup bermanfaat bagi mereka, sehingaa mereka sungkan kalau tidak memberikan apa-apa kepada diriku. Itu salah satu nilai yang mereka pegang, rasa sungkan. Sesuatu yang ingin mereka berikan kepadaku adalah sesuatu yang sangat istimewa bagi mereka, tetapi bagiku awalnya biasa saja, entah ilmu hipnotis seperti apa yang membuatku merasa yang akan diberikan jadi istimewa. Hadiah itu adalah aku akan diusulkan oleh mereka untuk dinaikkan stratanya. Selain istimewa, itu adalah sesuatu yang sulit. Untuk naik strata ada dua hal yang harus aku pegang, pertama harus mengakui ini adalah negeriku, kedua tidak boleh menolak, kalau menolak berarti penghinaan. Mau tidak mau aku harus mengakui negeri ini sebagai negeriku. Mungkin ini sudah jalan hidup yang diberikan oleh Tuhan kepadaku.

Naik strata adalah suatu proses penyesuain diri pada level yang lebih tinggi. Perlahan-lahan aku mempraktikkan apa-apa yang sudah aku pelajari ketika awal-awal dulu aku memasuki negeri ini. Ternyata, secara garis besar sama. Cara berbicaranya, bergaulnya, berjalannya. Di tengah proses itu aku menemukan sesuatu yang agak berbeda. Ketika naik strata, aku dimungkinkan untuk bergaul dengan banyak orang berstrata yang lebih tinggi daripada ketika aku dulu hanya sebagai masyarakat biasa. Kali ini lebih sulit, karena mayoritas dari mereka hanya mau ngobrol, berteman dengan yang stratanya sama atau lebih tinggi. Aku di sini tidak mempunyai teman. Hanya satu, dua, tiga orang, terkadang hanya sendiri. Beginilah nasib strata yang rendah, harus siap mengabdi kepada strata yang lebih tinggi. Ini membuatku tidak kerasan. Rasa-rasanya aku tidak ingin menjadi bagian dari strata ini, ingin kembali ke masyarakat biasa saja. Sesuatu yang juga tidak aku suka adalah orang-orang yang naik stratanya benar-benar harus melupakan bahwa ia dulu juga masyarakat biasa, mereka harus mau untuk tidak menghabiskan keringat dengan berogotong royong, untuk tidak mengotori tangan dengan tanah, peti jenazah. Mereka hanya boleh dalam posisi memberikan instruksi-instruksi saja.

Aku benar-benar tidak kerasan. Rasanya ingin kembali ke lingkungan masyarakat biasa saja. Bisa dengan mudahnya ngobrol dimana saja, ikut membantu mengangkat karung padi milik siapa saja, membantu membagikan makanan dan minuman dalam acara-acara masyarakat dengan tanpa ada beban.

Ada satu hal yang belum aku beri tahu. Terpaksa harus aku beri tahu. Awalnya aku merahasiakannya. Sebenarnya aku mendapat kabar bahwa Nyi Roro Kidul sudah berjilbab, kalau dulu kan memakai konde dan atribut-atribut tradisionalnya. Aku ingin mencari negeri baru yang dipimpinnya, karena dari kabar yang aku dengar nilai-nilai yang dipegang kebih mendalam, lebih luas jangkauannya, serta lebih bersifat transendental. Kabarnya beliau sudah pusing bagaimana cara membuat masyarakatnya menerima bahwa beliau harus merubah penampilannya, akhirnya beliau pergi dengan beberapa pasukan-pasukannya yang paling militan tanpa diketahui oleh penduduknya beserta pengikut-pengikutnya yang kurang loyal dan militan, kemudian mendirkan negeri baru. Aku berusaha mencari lokasi negeri barunya, e ternyata malah kesasar ke negerinya yang lama. Ya sudahlah. Sesekali aku ingin meneriakkan, “ Hoi! Nyi Roro Kidul sudah berubah penampilan, sudah pakai jilbab !”, Atau “Nyi Roro Kidul sudah punya negeri baru ! kalian sudah ditinggalkannya”,  kepada penduduk negeri lamanya.  Namun, sampai sekarang tak kunjung mampu juga.

Komentar