Beruntunglah dusun
yang masih benar-benar dusun, desa yang masih benar-benar desa, kecamatan yang
masih benar-benar kecamatan. Dimana masyarakatnya selalu rukun, aman, tentram,
damai, tak lelah untuk bergotong-royong dan tak mau menyakiti hati tetangganya.
Celakalah dusun,
desa dan kecamatan jika para pemudanya sibuk kuliah, tidak mau ke sawah, alergi
dengan padi dan hanya memikirkan masa depan pribadi. Jika orang-orang dewasanya
serakah memikirkan kepentingan pribadi karena hanya tahu kenyamanan hidup itu
berasal dari materi, sehingga tak segan-segan ia untuk menyakiti tetangganya
yang buka warung dengan berhutang dan tidak pernah membayar, menjual beras
mengurangi timbangannya, mau bergotong royong jika mendapat upah. Jika para
orang tuanya terlanjur buruk perangainya, sehingga merepotkan anak cucunya.
Jika para dukuh, lurah dan camatnya hanya memikirkan keuntungan pribadi
sehingga hobinya memangkas-mangkas dana desa untuk dimasukkan ke saku celana
dan bajunya.
Kalau paragraf
pertama yang terjadi, Alhamdulillah. Kalau paragraf kedua yang terjadi,
Alhamdulillah juga. Karena dengan seperti itu para pengelola kabupaten,
provinsi dan negara bisa introspeksi diri, sehingga sadar bahwa itu bukan
mutlak kesalahan masyarakatnya tetapi lebih banyak kesalahan para pengelolanya
yang suka membuat kebijakan seenaknya sendiri. Jika tidak bisa membuat para
pengelolanya introspeksi, mensucikan diri dan berubah berarti para pengelola
sudah mencapai taraf kebangeten. Pada taraf ini hanya Sang Pencipta
kehidupan yang bisa memberikan keputusan terbaik. Dan pasti orang baik mendapat
balasan kebaikan, orang dzolim mendapat balasan sesuai dengan perbuatannya.
Komentar
Posting Komentar