Langsung ke konten utama

Beruntung, Celaka

Beruntunglah dusun yang masih benar-benar dusun, desa yang masih benar-benar desa, kecamatan yang masih benar-benar kecamatan. Dimana masyarakatnya selalu rukun, aman, tentram, damai, tak lelah untuk bergotong-royong dan tak mau menyakiti hati tetangganya.


Celakalah dusun, desa dan kecamatan jika para pemudanya sibuk kuliah, tidak mau ke sawah, alergi dengan padi dan hanya memikirkan masa depan pribadi. Jika orang-orang dewasanya serakah memikirkan kepentingan pribadi karena hanya tahu kenyamanan hidup itu berasal dari materi, sehingga tak segan-segan ia untuk menyakiti tetangganya yang buka warung dengan berhutang dan tidak pernah membayar, menjual beras mengurangi timbangannya, mau bergotong royong jika mendapat upah. Jika para orang tuanya terlanjur buruk perangainya, sehingga merepotkan anak cucunya. Jika para dukuh, lurah dan camatnya hanya memikirkan keuntungan pribadi sehingga hobinya memangkas-mangkas dana desa untuk dimasukkan ke saku celana dan bajunya.

Kalau paragraf pertama yang terjadi, Alhamdulillah. Kalau paragraf kedua yang terjadi, Alhamdulillah juga. Karena dengan seperti itu para pengelola kabupaten, provinsi dan negara bisa introspeksi diri, sehingga sadar bahwa itu bukan mutlak kesalahan masyarakatnya tetapi lebih banyak kesalahan para pengelolanya yang suka membuat kebijakan seenaknya sendiri. Jika tidak bisa membuat para pengelolanya introspeksi, mensucikan diri dan berubah berarti para pengelola sudah mencapai taraf kebangeten. Pada taraf ini hanya Sang Pencipta kehidupan yang bisa memberikan keputusan terbaik. Dan pasti orang baik mendapat balasan kebaikan, orang dzolim mendapat balasan sesuai dengan perbuatannya.

Komentar