Langsung ke konten utama

Lebih Tuhan Mana ?

Kalau ada orang bertemu kawan lama mengatakan, “wah sudah sukses ya sekarang”, pastilah ia melihat kawan lamanya turun dari mobil, kalau tidak melihat kawan lamanya turun dari mobil pastilah ia tahu tentang kabar yang beredar diantara kawan-kawannya yang lain bahwa kawan yang sedang bertemu dengannya itu penghasilannya banyak, punya mobil mewah, rumah mewah atau punya usaha yang pesat, pokoknya sesuatu yang berkaitkan dengan materi. Itulah pengertian sukses secara mainstream. Setuju atau tidak setuju, mengelak ataupun tidak, seperti itulah adanya.




Kalau ada seorang kepala sekolah, guru, dosen, profesor, dekan, rektor, motivator, ustad memotivasi anak-anak didiknya tentang kesuksekan pasti mereka akan menceritakan kisah-kisah perjuangan dalam mencapai kemapanan secara individu. Ada yang menceritakan berasal dari keluarga miskin, dengan perjuangan keras akhirnya bisa berhasil di sana-sini, usaha berkembang pesat, bisa beli ini-itu dan lain-lain. Ada yang memberikan tips-tips tentang cara berdoa yang baik supaya Allah mengabulkan. Serta masih banyak lagi, penguatan-penguatan tentang kesuksesan.



Kalau ada sebuah masyarakat ingin dikatakan sebagai masyarakat maju pastilah  fokus utamanya berkaitan dengan peningkatan ekonomi. Mulai dari tingkatan terbawah sampai teratas.



Kalau ada orang-orang berkumpul pastilah lama-lama membahas tentang kertas merah, biru, hijau, ungu/merah, krem semi hijau/kuning, abu-abu agak jarang apalagi yang bergambar kapiten itu, sangat jarang. Perkumpulan dewan TPA, perkumpulan wali murid siswa SD-SMA, perkumpulan RT, Dusun apalagi perkumpulan besar-besar yang tingkatannya sudah nasional maupun internasional semua membahas kertas-kertas itu.



Kalau ada orang bersedih hatinya sangat mudah ditebak. Pasti karena pasokan kertas-kertasnya menipis. Kalau ada orang berkelahi, berdemo, rusak persaudaraannya pun karena kertas-kertas itu. 



Apa sebenarnya kertas-kertas itu ? sebegitu saktikah ia sehingga bisa mengatur hampir keseluruhan pola hidup manusa pada zaman ini ? lebih penting mana, nilai atau nominal ? lebih penting mana, kemaslahatan atau kepemilikan ? lebih penting mana, kemanusiaan atau kepemilikan ? lebih penting mana kesejatian atau kesementaraan ? lebih hebat mana nurani atau ego ? lebih tuhan mana kertas-kertas itu atau Tuhan yang beneran ?




Komentar