Kalau tiba-tiba saja
engkau suntuk dengan hiruk pikuk dunia, apa yang engkau lakukan ? merintihkah,
curhatkah atau apa. Kalau merintih kepada siapa, kalau curhat kepada siapa.
Kepada sahabat-sahabatmu. Kepada keluarga-keluargamu atau kepada siapa. Siapa
yang sanggup mencurahkan seluruh hatinya, dirinya untuk dirimu.
Bolehlah, Engkau
jawab Tuhan.
Kemudian, jika itu
semua sudah sembuh, engkau tidak lagi ingin merintih, engkau tidak lagi ingin curhat, hatimu kembali mendapatkan
asupan energi, apakah ingatanmu tentang Tuhan masih sama ketika Engkau sedang
merintih ? pada keadaan ini mana yang akan engkau ingat, sahabat-sahabatmu,
keluarga-keluargamu, rekan kerjamu, atau Tuhanmu.
Mungkin diantara
Engkau sekalian ada yang menjawab Tuhan. Mungkin juga diantara Engkau sekalian
ada yang menjawab Tuhan, tetapi hatimu cemas. Atau ada yang menjawab selain
Tuhan dengan cengengesan. Atau masih banyak lagi kemungkinan-kemungkina
yang lain.
Tetapi kok
kelihatannya agak sulit ya, jika aku atau engkau melihat hiruk pikuk yang
begitu silang sengkarut ini mendapat jawaban, “aku tetap mengingat Tuhan”.
Kalau memang
dugaan-dugaanku itu benar berarti secara logika orang normal kita hanya
memanfaatkan Tuhan bagi kepentingan-kepentingan pribadi kita. Apakah Tuhan
marah lantas kita mendapat siksa ? apakah kita langsung sesak nafas karena
oksigen dikurangi-Nya ? Cenderung banyak mana di atas penistaan kita kepada
Tuhan, Tuhan sayang atau tidak ?
Aku akan menjawab
sayang. Jika memang seperti itu, begitu hina dan tak tahu dirinya manusia.
Engkau silahkan jawab sendiri.
Kalau memang
dugaan-dugaanku salah, banyak mudlorot dan masuk klasifikasi suudzon, “Aku
mohon maaf yang sebesar-besarnya”.
Komentar
Posting Komentar