Langsung ke konten utama

Mohon Maaf yang Sebesar-besarnya


Kalau tiba-tiba saja engkau suntuk dengan hiruk pikuk dunia, apa yang engkau lakukan ? merintihkah, curhatkah atau apa. Kalau merintih kepada siapa, kalau curhat kepada siapa. Kepada sahabat-sahabatmu. Kepada keluarga-keluargamu atau kepada siapa. Siapa yang sanggup mencurahkan seluruh hatinya, dirinya untuk dirimu.

Bolehlah, Engkau jawab Tuhan.

Kemudian, jika itu semua sudah sembuh, engkau tidak lagi ingin merintih, engkau tidak lagi  ingin curhat, hatimu kembali mendapatkan asupan energi, apakah ingatanmu tentang Tuhan masih sama ketika Engkau sedang merintih ? pada keadaan ini mana yang akan engkau ingat, sahabat-sahabatmu, keluarga-keluargamu, rekan kerjamu, atau Tuhanmu.

Mungkin diantara Engkau sekalian ada yang menjawab Tuhan. Mungkin juga diantara Engkau sekalian ada yang menjawab Tuhan, tetapi hatimu cemas. Atau ada yang menjawab selain Tuhan dengan cengengesan. Atau masih banyak lagi kemungkinan-kemungkina yang lain.

Tetapi kok kelihatannya agak sulit ya, jika aku atau engkau melihat hiruk pikuk yang begitu silang sengkarut ini mendapat jawaban, “aku tetap mengingat Tuhan”.

Kalau memang dugaan-dugaanku itu benar berarti secara logika orang normal kita hanya memanfaatkan Tuhan bagi kepentingan-kepentingan pribadi kita. Apakah Tuhan marah lantas kita mendapat siksa ? apakah kita langsung sesak nafas karena oksigen dikurangi-Nya ? Cenderung banyak mana di atas penistaan kita kepada Tuhan, Tuhan sayang atau tidak ?

Aku akan menjawab sayang. Jika memang seperti itu, begitu hina dan tak tahu dirinya manusia. Engkau silahkan jawab sendiri.

Kalau memang dugaan-dugaanku salah, banyak mudlorot dan masuk klasifikasi suudzon, “Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya”.  

Komentar