Beberapa bulan yang lalu aliran sesat
menjadi trend berita. Mungkin juga beberapa bulan ke depan, atau
beberapa tahun ke depan akan kembali menjadi trend berita. Banyak media
massa yang menjadikan aliran sesat itu sebagai headline. Tidak sedikit
juga orang yang menjadikannya sebagai tema pembicaraan. Ada yang biasa saja,
menggebu-gebu bahkan ada yang menunjukkan kemarahannya ketika membicarakan
aliran sesat ini. Ada yang membicarakan aliran sesat dari satu sudut pandang
saja, ada juga yang memakai banyak sudut pandang. Keduanya sama-sama ketakutan.
Ketakutan kalau dirinya sendiri dibujuk orang atau bahkan sampai dicuci otaknya
oleh seseorang supaya bisa masuk aliran itu. Selain itu, ada juga yang
ketakutan jika anaknya atau sanak saudaranya dipengaruhi oleh orang yang tidak
dikenal supaya bisa masuk aliran yang dianggap sesat tersebut.
Dari fenomena itu banyak sekali
muncul broadcast di sosial media yang begitu panjang tulisannya,
biasanya berisi tentang himbauan-himbauan tentang kehati-hatian terhadap aliran
sesat. Mulai dari himbauan kehati-hatian jika mengikuti majelis ilmu, baik itu
seminar, diskusi, pengajian sampai himbauan jika mengikuti suatu komunitas dan
organisasi. Sehingga masyarakat seperti menjadi kebingungan. Logikanya seperti
tidak punya pijakan yang kokoh. Pada akhirnya tidak mampu membedakan mana yang
sesat, mana yang tidak.
Fenomena ini membuat masyarakat
menjadi agak sinis dalam memandang suatu bentuk perkumpulan seperti komunitas
dan organisasi. Apalagi komunitas dan organisasi yang menggunakan label agama
tertentu. Ke depan, secara lambat laun akibatnya organisasi-organisasi,
komunitas-komunitas menjadi terkebiri, semakin kurang diminati dan gerak langkahnya
menjadi tidak leluasa. Padahal jika kita melihat ke belakang sejenak, gerakan-gerakan
yang memberikan dampak positif bagi bangsa Indonesia banyak yang berawal dari komunitas
dan organisasi. Selain itu, banyak tokoh yang lahir lewat komunitas dan
organisasi. Bung Karno menjadi begitu matang pemikirannya melalui proses yang
beliau jalani bersama Tjokroaminoto dan murid-murid beliau selain Bung Karno,
yang mana rumah Tjokroaminoto menjadi semacam basecamp diskusi. Banyak
penyair-penyair kondang Indonesia lahir dari komunitas PSK (Persada Studi Klub)
yang dulu diasuh oleh Umbu Landhu Paranggi. Muhammadiyah, NU juga memberikan
sumbangsih yang besar bagi bangsa karena para pendirinya mau membuat
organisasi-organisasi tersebut.
Sifat over protective
terhadap komunitas dan organisasi ini begitu berbahaya bagi masyarakat.
Khususnya bagi pendewasaan pola berpikir masyarakat. Proses pendewasaan pola
berpikir masyarakat terhambat, sehingga secara bertahap akan berakibat pada
terhambatnya pendewasaan bangsa. Kemajuan bangsa tidak bisa dibangun secara
individu, harus berkelompok. Maka perlu adanya perkumpulan atau jama’ah yang
mana di dalamnya menjadi tempat penggodokan gagasan-gagasan cerdas.
Seharusnya fenomena aliran sesat ini
perlu ditelaah kembali. Apakah ada tujuan terselubung dari mencuatnya fenomena
ini jika dikaitkan dengan dunia internasional, misalnya, dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa
yang terjadi di negara-negara timur tengah karena sama-sama mayoritas muslim.
Kita
sebagai masyarakat Indonesia juga jangan bersikap eksklusif dengan mudah
mengambil kesimpulan bersifat fanatik yang bahan pertimbangannya adalah
imajinasi kebenaran sendiri. Salah satu penyakit bangsa ini adalah mudah
fanatik terhadap suatu hal. Kalau senang terhadap sesuatu sangat senang,
dimana-mana membicarakan sesuatu yang disenangi tersebut. Kalau benci, benci
sekali. Dimana-dimana mengeluarkan opini-opini negatif atau bahkan sampai
menghujat, berkaitan dengan sesuatu yang dibencinya. Akibatnya seseorang
menjadi sangat subyektif. Walaupun sebenarnya obyektivitas sulit dicapai,
tetapi paling tidak ada upaya meminimalisir semaksimal mungkin subyektivitas yang
merugikan tersebut.
Kalau
ada suatu peristiwa, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan apalagi tanpa
adanya analisis terlebih dahulu. Komunitas dan organisasi juga jangan begitu
mudah kita beri cap aliran sesat, harus ditelaah dahulu dari berbagai sisi.
Sehingga yang menjadi tolok ukur pengambilan keputusan adalah kebijaksanaan
bukan ego. Dengan seperti itu bangsa Indonesia lambat laun dapat menghilangkan
sifat over protectivenya kepada subyek-subyek perjuangan.
Komentar
Posting Komentar