Absud.
Tidak logis. Mitologi yang difakta-faktakan. Takhayul-takhayul diyakin-yakinkan
sebagai suatu kebenaran. Orang-orang berbondong-bondong mendatangi
takhayul-takhayul itu. waktu, energi, pikiran dihabiskan untuk mengejar-ngejar
takhayul. Anak-anak muda, orang-orang tua, hampir semua unsur masyarakat
membenarkan, meyakini bahwa itu benar. Bahkan diam-diam menggeser keyakinan
kepada Tuhan dengan keyakinan terhadap takhayul-takhayul.
Akhirnya
dunia benar-benar mencapai peradaban takhayul yang diyakini lebih logis dari
masa lalu. Peninggalan-peninggalan masa lalu, baik berupa ilmu, teknologi atau
apapun saja diyakini sebagai takhayul, yang sekarang sedang digandrungi manusia
diyakini sebagai modern (bukan takhayul). Padahal sebaliknya.
Anak-anak
muda dimasukkan ke dalam peternakan, pemilik peternakan memberikan iming-iming,
jika kalian mencapai target kalian akan mendapatkan kemudahan dalam berbagai
hal, pokoknya jadilah yang terbaik. Terbaik dalam target hanyalah satu, tidak
mungkin semua mencapainya. Kalaupun mencapai, oleh pegawai-pegawai peternakan
direkayasa supaya ada urutan-urutan, ini nomor satu, itu nomor dua, dia nomor
tiga, dan seterusnya. Anehnya, para anak muda itu menuruti para pegawai
peternakan-peternakan itu. Pegawai peternakan sudah tahu bahwa yang akan
mencapai puncak ya hanya satu. Nomor 1 sampai 20 masih mending, dibawah itu
akan dianggap kurang mampu, bodoh atau apalah. Padahal tidak mungkin semua jadi
nomor satu. Malanglah nasib anak-anak muda itu.
Orang-orang
tua sibuk melihat pertunjukan-pertunjukan sihir. Entah tahu atau tidak mereka
terkena sihir, yang pasti mereka enjoy-enjoy saja, senang-senang saja terkena
sihir-sihir itu. Sihir-sihir melalui gambar, kata-kata, gerakan-gerakan. Saya
rasa, setelah anak-anak muda tadi keluar dari peternakan-peternakan kebiasaan
orang tua yang suka menikmati sihir-sihir itu mereka ikuti.
Malangnya
nasib orang-orang di zaman ini. Semua percaya diri, merasa paling logis, paling
menggunakan akal sehat, paling modern, orang jaman dahulu ketinggalan. Begitu jumawanya
manusia.
Di
mana-mana menyuarakan, orang jahiliyah penyembah berhala, padahal zaman ini
penyembahan berhalanya lebih keterlaluan. Orang jahiliyah suka berjudi, padahal
zaman ini adalah zamannya para pejudi-pejudi besar. Orang jahiliyah suka membunuh, paling-paling
satu orang hanya bisa membunuh satu orang, dua orang, tiga orang, kalau
sekarang satu orang bisa membunuh ribuan bahkan jutaan orang, itupun melalui
masa penyiksaan-penyiksaan terlebih dahulu, tidak langsung mati terbunuh.
Saking
terbiasanya dengan keadaan itu. Dianggap normal-normal saja. Semua jenis
keburukan, kegelapan benar-benar mencapai puncaknya, pekat sepekat-pekatnya.
Rasa-rasanya
kok ihdinas shirothol mustaqim 7 kali saja belum cukup. Nanti kalau
menambah-nambah iso dibandem ndasku. Tapi kelihatannya manusia zaman ini
memang harus dipancing-pancing seperti itu. Kalau dipancing-pancing saja tidak
ada respon sama sekali, Apa boleh buat ? biar Yang Buat buat saja yang
bertindak buat.
Komentar
Posting Komentar