Pemberian nama apapun saja adalah kesepakatan diantara umat manusia.
Misalnya, benda bulat hitam keras disebut batu, kayu yang sudah diolah
sedemikian rupa mempunyai kaki empat dan menyangga kayu yang berbentuk persegi
disebut meja, makhluk yang berakar memiliki batang, ranting dan daun disebut
pohon. Tujuannya untuk mempermudah dirinya sebagai jasmani, jasad, menjalin
komunikasi antara satu manusia dengan manusia lain.
Namun, bukan berarti metode tersebut dapat diterapkan dalam berbagai keadaan. Hanya pada keadaan tertentu saja. Sebatas hanya untuk mempermudah. Sebagai pengantar menuju kepada sesuatu yang lebih esensial, substansial.
Pohon, secara kasat mata terdiri dari akar, batang, ranting, daun. Tetapi pada ranah substansi kita bisa memaknainya dengan bermacam-macam makna, yang mana makna itu juga bisa kita padatkan lagi sebagai simbol. Secara struktur pohon, mulai dari akar sampai pucuk daun teratas bisa dimaknai sebagai sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan penciptaan). Kemudian kita pakai pohon sebagai simbol sangkan paraning dumadi. Allah pun, mensimbolkan kenikmatan tertinggi dengan pohon, apa itu kenikmatan tertinggi ? apakah sangkan paraning dumadi itu berkaitan dengan kenikmatan tertinggi atau apa ? silahkan memaknainya sendiri. Serta masih banyak lagi selain pohon yang dimensi substansialnya bisa sangat luas, lebah, semut, sapi, gunung, iblis, malaikat, manusia.
Manusia terlanjur menganggap bahwa dunia tempat dimana ia hidup sekarag adalah persinggahan terakhirnya. Berbagai hal yang merupakan akibat dari respon panca indera sudah terlanjur ia pahami sebagai kenyataan yang sejati. Akibatnya sesuatu yang ia pahami sebagai pengantar justru dipahami sebagai yang diantar. Sehingga akurasi pemahaman-pemahamannya menjadi berbelok sedemikian rupa.
Pohon dipahami sebatas pohon sebagai benda, al-qur’an dipahami sebatas tulisan, kenikmatan adalah sesuatu yang memanjakan fisik, adzab hanya dipahami sebatas bencana alam, gelandangan adalah orang berstrata rendah, pakai celana sobek pasti preman. Masih sangat banyak pemberian stempel yang tidak sesuai tempatnya. Yang sangat disayangkan adalah ketidaktepatan dalam memberikan tempel itu terkadang dijadikan dasar kebenaran. Bukan berarti menyetempel salah. Pada keadaan-keadaan tertentu boleh, bahkan diharuskan. Tuhan pun mengalah dengan memberikan stempel “Allah” bagi diri-Nya. Permasalahannya, sampai kapan manusia akan salah-salah terus untuk menentukan kapan harus memberikan stempel? Apa yang harus distempel? Mengapa ia harus melakukan proses stempel, mengapa tidak?
Namun, bukan berarti metode tersebut dapat diterapkan dalam berbagai keadaan. Hanya pada keadaan tertentu saja. Sebatas hanya untuk mempermudah. Sebagai pengantar menuju kepada sesuatu yang lebih esensial, substansial.
Pohon, secara kasat mata terdiri dari akar, batang, ranting, daun. Tetapi pada ranah substansi kita bisa memaknainya dengan bermacam-macam makna, yang mana makna itu juga bisa kita padatkan lagi sebagai simbol. Secara struktur pohon, mulai dari akar sampai pucuk daun teratas bisa dimaknai sebagai sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan penciptaan). Kemudian kita pakai pohon sebagai simbol sangkan paraning dumadi. Allah pun, mensimbolkan kenikmatan tertinggi dengan pohon, apa itu kenikmatan tertinggi ? apakah sangkan paraning dumadi itu berkaitan dengan kenikmatan tertinggi atau apa ? silahkan memaknainya sendiri. Serta masih banyak lagi selain pohon yang dimensi substansialnya bisa sangat luas, lebah, semut, sapi, gunung, iblis, malaikat, manusia.
Manusia terlanjur menganggap bahwa dunia tempat dimana ia hidup sekarag adalah persinggahan terakhirnya. Berbagai hal yang merupakan akibat dari respon panca indera sudah terlanjur ia pahami sebagai kenyataan yang sejati. Akibatnya sesuatu yang ia pahami sebagai pengantar justru dipahami sebagai yang diantar. Sehingga akurasi pemahaman-pemahamannya menjadi berbelok sedemikian rupa.
Pohon dipahami sebatas pohon sebagai benda, al-qur’an dipahami sebatas tulisan, kenikmatan adalah sesuatu yang memanjakan fisik, adzab hanya dipahami sebatas bencana alam, gelandangan adalah orang berstrata rendah, pakai celana sobek pasti preman. Masih sangat banyak pemberian stempel yang tidak sesuai tempatnya. Yang sangat disayangkan adalah ketidaktepatan dalam memberikan tempel itu terkadang dijadikan dasar kebenaran. Bukan berarti menyetempel salah. Pada keadaan-keadaan tertentu boleh, bahkan diharuskan. Tuhan pun mengalah dengan memberikan stempel “Allah” bagi diri-Nya. Permasalahannya, sampai kapan manusia akan salah-salah terus untuk menentukan kapan harus memberikan stempel? Apa yang harus distempel? Mengapa ia harus melakukan proses stempel, mengapa tidak?
Komentar
Posting Komentar