Langsung ke konten utama

Sosial Media dan Tradisi Kepengecutan

Pesatnya perkembangan teknologi informasi adalah salah satu tonggak kemajuan zaman yang menonjol dewasa ini. Seluruh orang di seantero bumi dapat berkomunikasi secara cepat bahkan masal. Informasi berlalu-lalang setiap sekon. Di bumi belahan paling barat, paling utara dapat segera mengetahui keadaan bumi belahan paling timur, paling selatan. Seseorang dapat segera mengetahui dimana saudara-saudaranya, sedang apa, makankah, tidurkah. Bahkan sampai keadaan perasaannya, sedang bahagiakah, sedihkah, senangkah, galaukah.



Tradisi Kepengecutan

 Bersamaan dengan hal tersebut muncul berbagai gejala-gejala sosial tidak semestinya yang muncul. Misalnya saja, generasi-generasi muda yang cenderung malas berinteraksi sosial karena disibukkan dengan dunia internet. Penipuan-penipuan yang semakin tak terduga cara-caranya yang ternyata menggunakan media teknologi informasi. Perdagangan manusia yang semakin mudah saja. Kegiatan hacking yang merugikan atau lebih tepatnya cracking yang begitu mudahnya sehingga merugikan pihak-pihak tertentu. Ada juga fitnah-fitnah yang merugikan pihak-pihak tertentu. Selain itu maraknya tradisi kepengecutan.


Fasilitas Grup

Sudah menjadi tradisi setiap pemilik gadget memiliki beberapa akun sosial media. Facebook, twitter, intstagram, path, BBM, whatsapp, serta masih banyak lagi. Sangat beragam motivasi dari kepemilikan akun dari beberapa sosial media tersebut. Ada yang motivasinya materi, narsisme atau hanya sekedar gengsi kalau tidak mengikuti perkembangan zaman. Di Sosial media tersebut beragam juga status-status, testimoni-testimoni yang terpampang di beranda masing-masing akun.

Salah satu fasilitas yang sering dipakai oleh para pengguna sosial media adalah grup. Melalui fasilitas ini sekumpulan orang, mungkin ada juga yang memadat menjadi komunitas atau organisisasi tertentu melakukan diskusi-diskusi dan koordinasi-koordinasi. Dan tidak jarang juga saling melempar hujatan satu sama lain. Di sinilah letak kepengecutannya.


Absurd yang Masuk Akal   

Kepengecutan itu menimbulkan sesuatu yang absurd tetapi dianggap masuk akal oleh para pengguna sosial media yang terlanjur asyik dengan akunnya. Misalnya, sebuah organisasi sudah sewajarnya memiliki jadwal pertemuan rutin, entah itu satu kali seminggu, dua kali seminggu atau satu kali sebulan. Ketika rapat dimulai ada seseorang yang memimpin dan mengutarakan isi dari rapat tersebut. Setelah diutarakan panjang lebar dibukalah sesi yang lebih interaktif. Setiap anggota boleh merespon inti rapat sesuai pendapatnya masing-masing. Pada sesi ini ternyata kebanyakan anggota diam. Hanya satu, dua, tiga orang dan sifatnya itu-itu saja yang mau berbicara. Akhirnya, diputuskanlah hasil rapat dari pembicaran satu, dua, tiga orang tersebut. Satu jam setelahnya, ketika rapat selesai dan anggota sudah di kediamannya masing-masing, muncullah respon-respon ketidakpuasan terhadap hasil rapat. Bahkan ada yang responnya berupa umpatan, hujatan terhadap hasil rapat tersebut. Orang-orang yang memberikan respon tersebut ternyata adalah orang-orang yang dalam forum tidak mau berbicara, entah karena malu atau apa. Akhirnya hasil rapat yang seharusnya tinggal dijalankan menjadi tidak jelas karena provokasi yang dilakukan anggota-anggota yang cenderung pengecut tadi.


Pada kasus lain, ada seorang pekerja yang cenderung pendiam di tempat kerjanya. Pendiamnya orang tersebut bukan karena talk less do more, tetapi cenderung kepada tipe orang yang pasif. Ketika ada masalah dalam pekerjaan dia tidak mau menyelesaikan. Tetapi, di sisi lain ketika dilihat akun sosial medianya orang tersebut begitu aktif. Sangat sering membuat status. Memberikan testimoni yang seharusnya diutarakan dalam penyelesaian masalah. Keadaan itu akhirnya membuat rekan-rekan kerjanya jengkel. Bosnya pun jengkel. Karena hal tersebut dia dipecat dari pekerjaannya. Itu hanya satu, dua kasus saja, masih banyak lagi kasus akibat dari maraknya tradisi kepengecutan yang cenderung merugikan.


Sangat Disayangkan

Tradisi kepengecutan yang merugikan tersebut muncul disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri. Dari kasus-kasus tersebut kita mengetahui ternyata percaya diri itu penting. Oleh karena itu semenjak TK sampai lulus kuliah guru-guru memotivasi muridnya untuk berani tampil ke depan supaya bisa menjadi orang yang percaya diri di masa depan. Tetapi, sangat disayangkan, upaya guru-guru tersebut hancur tergilas oleh zaman yang semakin memihak kepada kepengecutan.

Komentar