Langsung ke konten utama

Pemenang ?

Setiap manusia adalah pemenang. Pernyataan tersebut seringkali dianalogikan dengan perjuangan sperma yang mampu mencapai sel telur dan akhirnya terjadi. Artinya semenjak awal pembentukanya, manusia adalah seorang pemenang. Analogi tersebut secara tidak langsung mengarah kepada pembentukan manusia sebagai makhluk kompetisi. Pembentukan yang sejalan dengan sistem kehidupan yang saat ini dipakai di dunia. Sistem tersebut adalah sistem kapitalis. Sebuah sistem yang dianggap baik atau lebih tepatnya seluruh manusia di seluruh dunia dipaksa untuk menganggap sistem tersebut adalah sistem yang bagus, dan pada akhirnya akibat pemaksaan tersebut, manusia menganggap baik dan mau menjalankan sistem tersebut. 

Analogi sperma dan sel telur tersebut adalah sebuah analogi yang relevan ketika dianalogikan bukan hanya kepada manusia saja, tetapi makhluk hidup yang lain seperti tumbuhan dan hewan. Sehingga pada dasarnya analogi tersebut merupakan bagian dari setiap makhluk hidup, bukan bagian yang mengindikasikan bahwa setiap manusia adalah pemenang. Artinya manusia itu hidup bukan untuk menang-menangan, saling menjatuhkan satu sama lain tetapi untuk bersama-sama membangun, melestarikan dan mengembangkan kehidupan. Bukti bahwa analogi individualis tersebut kurang pas adalah diciptakanya hawa setelah adam lama sendiri. Artinya manusia butuh teman. Kehadiran banyak manusia lain adalah untuk saling menguatkan. Kehadiran kelompok lain adalah untuk saling menguatkan bukan untuk dijatuhkan. 

Secara tidak sadar manusia sedang dibentuk untuk menjadi makhluk yang saling menjatuhkan sejalan dengan pembentukanya sebagai makhluk kompetisi. Yang menjadi ciri khas utama dari kompetisi adalah harus ada yang kalah, kemudian yang menjadi ciri khas utama dari sistem kapitalis adalah adanya kompetisi. Artinya sistem kapitalis adalah sebuah sistem yang di dalamnya harus ada kejatuhan atau kekalahan manusia atau kelompok lain. 

Manusia masih belum bisa melupakan kenikmataan menyaksikan aksi heroik para gladiator yang menang dengan cara membunuh gladiator lain. Hal tersebut menjadikan manusia menganggap kompetisi adalah makna tertinggi dalam kehidupan. Akhirnya manusia merasa senang menjatuhkan manusia lain tanpa mengenal rasa belas kasih. Apakah kehidupan seperti ini yang didambakan manusia?  

Komentar