Langsung ke konten utama

Dosa, Hampir Seratus Persen

Betapa menyedihkan nasib manusia saat ini. Hatinya terombang-ambing. Jiwanya melamun dalam sebuah ketidakmengertian. Sukmanya tersesat dalam kegelapan yang teramat luas. Raganya hidup namun seperti tak hidup, karena tak pernah sekalipun ia memutuskan untuk berjalan ke sana karena keinginan dari dirinya yang benar-benar dirinya. Seluruh bagian hidupnya sudah diset sedemikian rupa oleh arus-arus yang cukup kuat yang telah diciptakan oleh dajjal, yakjuj dan makjuj, setan dan iblis. 

Perang, korupsi, perjudian, pemerkosaan, pembunuhan, perampokan, psikopat, serta masih banyak lagi bentuk kemenyimpangan lain yang ternyata semakin hari semakin merebak. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa sisi kemanusiaan manusia semakin menipis. Sebenarnya apa yang menjadi orientasi hidup manusia saat ini. Apa mungkin manusia sudah tidak mengerti tentang orientasi hidup. Karena ketidakpastian orientasi hidup itu manusia melampiaskannya ke berbagai penyimpangan-penyimpangan. Atau juga, tahu tentang orientasi hidup, tetapi orientasi hidupnya salah. Apakah seperti itu. 

Sebelum melangkah lebih jauh tentang dajjal, yakjuj dan makjuj, setan dan iblis, serta pertanyaan-pertanyaan itu, saya akan memberikan sebuah pengantar terlebih dahulu. Setiap sesuatu yang ada pasti mempunyai sebuah konstruksi berlapis. Contohnya buah, kalau diurutkan dari luar kulit-daging-isi. Kemudian rumah. Rumah adalah hasil rekayasa manusia. Sehingga mempunyai konstruksi energi yang berlapis. Kalau kita urut dari paling dalam, niat-ide-tindakan, dari ketiga konstruksi energi itu terwujudlah rumah. Kalau orang ingin membuat rumah pastilah berawal dari niat, keinginan untuk membuat rumah, kemudian rumah seperti apa yang ingin dibuat, terakhir mengimplementasikan ide melalui banyak cara.  Konstruksi energi yang berlapis itu berlaku untuk apa saja, ada yang lapisannya tipis ada juga yang lapisannya tebal. 

Kehidupan pun seperti itu, memiliki konstruksi energi berlapis. Jika konstruksi energi yang berlapis itu benar atau sesuai dengan hukum penciptaan yang telah diciptakan Tuhan, maka kehidupan manusia akan berjalan sesuai jalurnya yang benar. Artinya, berbagai kemenyimpangan-kemenyimpangan yang terjadi adalah karena ada ketidakbenaran lapisan dalam konstruksi energi yang berlapis tersebut.  

Kalau dalam islam konstruksi energi berlapis dalam kehidupannya adalah syahadat-sholat-puasa-zakat-haji. Konstruksi itu seringkali hanya dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat materi saja, syahadat hanya dipahami sebatas kata-kata saja, sholat hanya dipahami hanya sebatas gerakan dan bacaan, puasa hanya dipahami sebagai menahan makan dan minum saja, zakat hanya sebatas materi, haji hanya sebatas fisik dan materi saja. sehingga permasalahan-permasalahan dikalangan orang-orang islam hanya berkutat pada hal-hal yang bersifat materi saja. sholat beda gerakan saja dipermasalahkan, puasa beda waktu pelaksanaan saja dipermasalahkan. Padahal itu semua tidak hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat materi saja. tetapi pandangan kita harus diperluas, bahwa itu semua intinya adalah bertujuan rohani bukan materi. 

Barangkali, kesalahpahaman pandangan rukun islam yang seringkali dimaterikan karena berawal dari kesalahan konstruksi energi berlapis yang lebih dalam lagi. Maksudnya pandangan universal tentang kehidupan. Sekarang kita mulai membahas pertanyaan-pertanyaan yang tadi terlontar pada paragraf ke dua. Setiap sesuatu pastilah ada tujuan atau orientasi. Dengan adanya tujuan maka langkah-langkah akan menjadi jelas arahnya. Saat ini, apa orientasi kehidupan manusia ? materi-kah, rohai-kah ?  

Kalau kita mau jujur, maka sudah menjadi rahasia umum, bahwa secara umum tujuan hidup manusia dewasa ini hanyalah terbatas pada materi. Rukun Islam yang seharusnya dimaknai rohani menjadi dimaknai sebagai materi. Sesuatu yang dianggap penting adalah sesuatu yang berimbas materi. Kebudayaan, agama, pendidikan, semua dimaterikan. Bekerja bukan lagi sebagai bentuk pelayanan tetapi proses pengumpulan materi. sholat, dizikir, shadaqah hanya supaya berimbas pada kepemilikan materi. Pandangan manusia menjadi sempit, sangat sempit. 

Materi itu berbanding lurus dengan keserakahan, kesombongan. Tidak heran bahwa para pengusaha berlomba-lomba menjadi satu-satunya yang ter, ter dan ter. Dalam kompetisi materi pastilah ada posisi teratas dan posisi terbawah yang kesenjangannya begitu besar. Maka jangan heran kalau dalam posisi bawah dan terbawah terjadi berbagai kepenyimpangan. Mereka bukanlah satu-satunya pihak yang bersalah. Karena ada pihak tertentu yang memiliki otoritas untuk menciptakan aura materialisme yang begitu kental. Pihak tersebutlah yang menanggung dosa, hampir seratus persen.  

Itulah dajjal, yakjuj dan makjuj, aktor utama yang telah membuat skenario berupa sistem pengendali sosial yang efeknya membuat manusia mau tidak mau harus berbohong, membunuh, memperkosa, merampok dalam hal apa saja. Jika suatu negara tidak bisa beranjak menciptakan suasana baru, lingkungan pola pikir baru maka hancurlah negara itu.

Komentar