Apabila cahaya
terpancar pada suatu benda maka pasti ada bayangan dari benda yang dipancari
cahaya tersebut. Apakah itu arahnya dari samping atau dari atas. Bayangan itu
kebalikan dari cahaya. Cahaya terang, bayangan gelap. Dimanapun ada cahaya,
disitu ada bayangan.
Jika cahaya adalah sebuah solusi maka bukan berarti masalah akan benar-benar selesai atau tidak ada bayangan. Masalah selalu ada seiring dengan adanya solusi. Sebagaimana bayangan ada ketika cahaya ada. Yang bisa kita lakukan bukanlah menghilangkannya tetapi meminimalisirnya.
Pada pagi hari saat matahari mulai terbit dan menyinari benda-benda, benda yang terkena sinarnya akan membentuk bayangan yang berlawanan dengan arah matahari. Ketika hari semakin siang maka panjang bayangan juga semakin berkurang sedikit demi sedikit. Bayangan akan menjadi sangat pendek saat posisi matahari membentuk garis lurus dengan bagian atas benda tersebut. Ketika hari semakin sore, bayangan akan memanjang kembali dengan posisi yang berlawanan dengan arah matahari.
Hal tersebut mengisyaratkan kepada manusia bahwa untuk meminimalisir masalah (bayangan) manusia harus segaris lurus dengan cahaya. Posisinya hanya meminimalisir bukan menghilangkan. Keadaan tersebut juga diikuti dengan konsekuensi yang sarat akan ketahanan luar biasa. Sebagaimana panas matahari yang paling panas ketika posisi matahari berada diatas kepala atau segaris lurus dengan benda yang disinari.
Pada sebuah perjalanan boleh-boleh saja sesekali berhenti di bawah pohon. Berteduh, menikmati angin sepoi-sepoi, menikmati segarnya oksigen, meneguk air minum. Tetapi perjalanan akan berlangsung sangat lama apabila pejalan terlalu banyak berhenti untuk istirahat. Bahkan tidak akan sampai jika pejalan terlalu menikmati masa istirahat dan memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan.
Manusia terbaik cipratan cahaya terpuji sepanjang hidupnya kepanasan, selalu berkeringat. Sekarang orang yang mengaku pengikutnya tidak mau kepanasan, berkeringat. Bahkan setiap hari mengeluh, memprotes dengan mengatakan, “Hidup kok harus menjaga garis lurus dengan cahaya”. “Memangnya, siapa yang Tuhan ?”, begitu jawab-Nya.
Jika cahaya adalah sebuah solusi maka bukan berarti masalah akan benar-benar selesai atau tidak ada bayangan. Masalah selalu ada seiring dengan adanya solusi. Sebagaimana bayangan ada ketika cahaya ada. Yang bisa kita lakukan bukanlah menghilangkannya tetapi meminimalisirnya.
Pada pagi hari saat matahari mulai terbit dan menyinari benda-benda, benda yang terkena sinarnya akan membentuk bayangan yang berlawanan dengan arah matahari. Ketika hari semakin siang maka panjang bayangan juga semakin berkurang sedikit demi sedikit. Bayangan akan menjadi sangat pendek saat posisi matahari membentuk garis lurus dengan bagian atas benda tersebut. Ketika hari semakin sore, bayangan akan memanjang kembali dengan posisi yang berlawanan dengan arah matahari.
Hal tersebut mengisyaratkan kepada manusia bahwa untuk meminimalisir masalah (bayangan) manusia harus segaris lurus dengan cahaya. Posisinya hanya meminimalisir bukan menghilangkan. Keadaan tersebut juga diikuti dengan konsekuensi yang sarat akan ketahanan luar biasa. Sebagaimana panas matahari yang paling panas ketika posisi matahari berada diatas kepala atau segaris lurus dengan benda yang disinari.
Pada sebuah perjalanan boleh-boleh saja sesekali berhenti di bawah pohon. Berteduh, menikmati angin sepoi-sepoi, menikmati segarnya oksigen, meneguk air minum. Tetapi perjalanan akan berlangsung sangat lama apabila pejalan terlalu banyak berhenti untuk istirahat. Bahkan tidak akan sampai jika pejalan terlalu menikmati masa istirahat dan memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan.
Manusia terbaik cipratan cahaya terpuji sepanjang hidupnya kepanasan, selalu berkeringat. Sekarang orang yang mengaku pengikutnya tidak mau kepanasan, berkeringat. Bahkan setiap hari mengeluh, memprotes dengan mengatakan, “Hidup kok harus menjaga garis lurus dengan cahaya”. “Memangnya, siapa yang Tuhan ?”, begitu jawab-Nya.
Komentar
Posting Komentar