Pada
acara-acara formal kita sering mendengar kalimat “tak lupa shalawat serta salam
kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, nabi yang telah membawa
umat manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang” pada
pendahuluan yang diutarakan pembawa acara, pendahuluan sambutan atau mungkin
pendahuluan pembicara utama. Dari kalimat tersebut ada sebuah poin yang dapat
diambil yaitu proses berpindahnya manusia dari kegelapan menuju cahaya yang
didampingi dengan intensif oleh Nabi Muhammad SAW.
Di satu sisi kalimat tersebut memang hanya menjadi pelengkap saja. Kalau bahasa jawanya dinggo wangun-wangun. Di sisi lain kesan yang pertama muncul ketika mendengar kalimat tersebut adalah proses berpindahnya dari kegelapan menuju cahaya hanya berlaku ketika Nabi Muhammad SAW ada sebagai manusia saja. Ketika beliau sudah wafat, proses tersebut berhenti karena sudah terang benderang, sudah penuh dengan cahaya. Dan sangat sering didramatisasi bahwa jahiliyah sangat buruk, sekarang lebih baik daripada zaman yang disebut sebagai jahiliyah tersebut.
Saat ini bukan hanya sebatas kesan lagi statisnya pergerakan dari kegelapan menuju cahaya, memang sedang terjadi. Manusia masih terobsesi dengan kemapanan. Di wilayah apapun saja selalu didengung-dengungkan tentang kemapanan. Di sekolah, masyarakat, instansi-instansi negara, di media-media masa, di media-media sosial semua mendengung-dengungkan kemapanan, menawar-nawarkan kemapanan hidup. Kemapanan ekonomi, kemapanan ilmu, kemapanan hati, kemapanan pikiran. Seakan-akan hidup itu hanya sampai di dunia saja. atau, sekarang segalanya sudah beres. Padahal waktu itu bergerak. Dan sudah menjadi naluri bahwa hidup itu harus ada pergerakan. Seringkali orang-orang mengeluh apabila tidak ada kegiatan, tidak ada pergerakan dalam hidupnya.
Perpindahan dari kegelapan menuju cahaya yang diyakini hanya berlangsung ketika Nabi Muhammad saja mematikan kreativitas dan progresivitas orang-orang islam itu sendiri. Sehingga umat islam lengah terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. tidak siap dengan kegelapan yang ternyata lebih pekat dari pada kegelapan jahiliyah.
Masa sekarang adalah masa dimana segala jenis kemungkaran yang dilakukan oleh umat-umat terdahulu dilakukan secara serentak. Kemungkaran manusia zaman nabi nuh, hud, saleh, ibrahim, luth, musa, muhammad semua serentak dilakukan bersama sama. Sombong, penyembah berhala, penyuka sesama jenis, dan bentuk lain pengingkaran terhadap Tuhan benar-benar sedang terjadi. Apakah keadaan seperti itu tidak membutuhkan perpindahan dari kegelapan menuju cahaya ?
Selama ini kita masih keliru-keliru memahami diutusnya Nabi Muhammad SAW di bumi. Beliau memang penutup para Nabi. Namun bukanlah akhir dari masa-masa gelap. Jika dilihat dari polanya, keadaan yang terjadi pada masa beliau hanyalah masa-masa awal dari kegelapan yang lebih pekat. Sehingga masa-masa setelah beliau perlu ketangguhan, kecerdasan yang lebih dari masa ketika beliau masih ada sebagai manusia.
Saat-saat ini adalah saat dimana manusia harus mempunyai penglihatan, pendengaran, perasaan yang lebih dari penglihatan, pendengaran, persaaan yang hanya bersifat materi sentris. Tetapi yang terjadi malah sangat materi sentris.
Saat-saat ini adalah saat dimana kita membutuhkan air jernih sebanyak-banyaknya supaya najis yang masuk kedalam air tidak membuat air menjadi najis. Tetapi yang terjadi malah najis lebih banyak dari air jernihnya.
Saat-saat ini adalah saat dimana kita membutuhkan cahaya sangat terang untuk menghilangkan kepekatan kegelapan. Tetapi yang terjadi begitu sedikit cahaya sehingga masih kalah dengan kegelapan.
Kita hanya mampu kembali pada perkataan Tuhan, “Tidaklah Aku biarkan orang yang mengaku beriman tetapi tidak diuji”. Atau, “Jika kamu kufur adzab-Ku sangat pedih”.
Di satu sisi kalimat tersebut memang hanya menjadi pelengkap saja. Kalau bahasa jawanya dinggo wangun-wangun. Di sisi lain kesan yang pertama muncul ketika mendengar kalimat tersebut adalah proses berpindahnya dari kegelapan menuju cahaya hanya berlaku ketika Nabi Muhammad SAW ada sebagai manusia saja. Ketika beliau sudah wafat, proses tersebut berhenti karena sudah terang benderang, sudah penuh dengan cahaya. Dan sangat sering didramatisasi bahwa jahiliyah sangat buruk, sekarang lebih baik daripada zaman yang disebut sebagai jahiliyah tersebut.
Saat ini bukan hanya sebatas kesan lagi statisnya pergerakan dari kegelapan menuju cahaya, memang sedang terjadi. Manusia masih terobsesi dengan kemapanan. Di wilayah apapun saja selalu didengung-dengungkan tentang kemapanan. Di sekolah, masyarakat, instansi-instansi negara, di media-media masa, di media-media sosial semua mendengung-dengungkan kemapanan, menawar-nawarkan kemapanan hidup. Kemapanan ekonomi, kemapanan ilmu, kemapanan hati, kemapanan pikiran. Seakan-akan hidup itu hanya sampai di dunia saja. atau, sekarang segalanya sudah beres. Padahal waktu itu bergerak. Dan sudah menjadi naluri bahwa hidup itu harus ada pergerakan. Seringkali orang-orang mengeluh apabila tidak ada kegiatan, tidak ada pergerakan dalam hidupnya.
Perpindahan dari kegelapan menuju cahaya yang diyakini hanya berlangsung ketika Nabi Muhammad saja mematikan kreativitas dan progresivitas orang-orang islam itu sendiri. Sehingga umat islam lengah terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. tidak siap dengan kegelapan yang ternyata lebih pekat dari pada kegelapan jahiliyah.
Masa sekarang adalah masa dimana segala jenis kemungkaran yang dilakukan oleh umat-umat terdahulu dilakukan secara serentak. Kemungkaran manusia zaman nabi nuh, hud, saleh, ibrahim, luth, musa, muhammad semua serentak dilakukan bersama sama. Sombong, penyembah berhala, penyuka sesama jenis, dan bentuk lain pengingkaran terhadap Tuhan benar-benar sedang terjadi. Apakah keadaan seperti itu tidak membutuhkan perpindahan dari kegelapan menuju cahaya ?
Selama ini kita masih keliru-keliru memahami diutusnya Nabi Muhammad SAW di bumi. Beliau memang penutup para Nabi. Namun bukanlah akhir dari masa-masa gelap. Jika dilihat dari polanya, keadaan yang terjadi pada masa beliau hanyalah masa-masa awal dari kegelapan yang lebih pekat. Sehingga masa-masa setelah beliau perlu ketangguhan, kecerdasan yang lebih dari masa ketika beliau masih ada sebagai manusia.
Saat-saat ini adalah saat dimana manusia harus mempunyai penglihatan, pendengaran, perasaan yang lebih dari penglihatan, pendengaran, persaaan yang hanya bersifat materi sentris. Tetapi yang terjadi malah sangat materi sentris.
Saat-saat ini adalah saat dimana kita membutuhkan air jernih sebanyak-banyaknya supaya najis yang masuk kedalam air tidak membuat air menjadi najis. Tetapi yang terjadi malah najis lebih banyak dari air jernihnya.
Saat-saat ini adalah saat dimana kita membutuhkan cahaya sangat terang untuk menghilangkan kepekatan kegelapan. Tetapi yang terjadi begitu sedikit cahaya sehingga masih kalah dengan kegelapan.
Kita hanya mampu kembali pada perkataan Tuhan, “Tidaklah Aku biarkan orang yang mengaku beriman tetapi tidak diuji”. Atau, “Jika kamu kufur adzab-Ku sangat pedih”.
Komentar
Posting Komentar