Manusia sebagai makhluk yang diberi kesadaran gerak tak akan nyaman
dengan keadaan-keadaan yang bertentangan dengan kesadaran tersebut. Setiap kali
ia sendiri dan tak berkegiatan ia pasti akan merasa bosan. Ia membutuhkan gerak
walaupun hanya sebatas gerak tubuh sederhana, bukan gerak hati, bukan gerak
pikiran.
Kesadaran mapan tidak relevan dengan jasmani maupun batin manusia. Pelombaan menuju kemapanan adalah bom waktu bagi manusia itu sendiri. Itulah langkah menuju kiamat yang sebenar-benarnya. Kemapanan mematikan kreativitas. Padahal salah satu fungsi akal terletak pada kreativitas. Untuk mengelola bumi beserta isinya salah satu yang dibutuhkan adalah kreativitas.
Lihat saja, berbagai karya yang luar biasa muncul pada posisi si pembuat karya dalam keadaan tidak mapan, dalam posisi yang berbanding lurus dengan kesadaran gerak. Apakah itu dalam penjara, keadaan miskin, sakit serta keadaan-keadaan lain yang berbanding lurus dengan kesadaran gerak.
Anak-anak muda yang sedang moncer kesadaran geraknya saat-saat ini sedang dininabobokkan. Supaya mereka yang mapan tidak terusik. Dibangunlah bangunan-bangunan serta fasilitas-fasilitas yang sarat akan hedonisme. Gedung-gedung bioskop yang menampilkan kegemerlapan dan mitos-mitos pola hidup. Mal-mal yang menawarkan omong kosong-omong kosong tentang prestise. Budaya-budaya fashion yang mengungkung kedaulatan. Bahkan sampai buku-buku yang seharusnya menjadi wadah kesadaran gerak justru menjadi wadah kesadaran mapan.
Mereka, hanya meng-iyakan saja. Anak-anak muda itu berpikiran mumpung masih muda. Senang-senang dulu. Besok pasti ada waktunya berubah.
Para penikmat kemapanan tertawa keras sambil memuas-muaskan syahwatnya. Makan, minum sepuasnya. Menggilir gadis-gadis. Memilih-milih perhiasan. Berpindah-pindah rumah mewah. Membangga-banggakan diri. Merasa bermanfaat dengan membagi-bagikan makanan kepada seribu anak yatim. Tanpa pernah merasa sakit ketika ada saudara yang terseok-seok hidupnya karena monopoli perputaran uang yang dilakukannya.
Itulah yang ditawar-tawarkan kepada anak, cucu, generasi penerus. Itulah yang sedang disetujui secara serentak di dunia. Sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, instans-instansi beserta orang yang berada di dalamnya dengan bangga mendorong manusia-manusia untuk mendapatkan jatah perolehan kesejahteraan. Dan memberikan khayalan-khayalan yang selama ini sudah mereka nikmati.
Padahal nabi yang mereka anut memilih untuk menjadi yang paling jelata. Menolak emas se-gunung Uhud. Memilih yang terbawah di dunia karena tahu hal tersebut bukan menjadi prioritas utama Sang Pencipta untuk penimbangan nanti. Mungkin sudah tidak peduli dengan penimbangan yang macam-macam. Kita, malah memilih meng-abu-lahab, mem-fir’aun, men-namrud.
Kesadaran mapan tidak relevan dengan jasmani maupun batin manusia. Pelombaan menuju kemapanan adalah bom waktu bagi manusia itu sendiri. Itulah langkah menuju kiamat yang sebenar-benarnya. Kemapanan mematikan kreativitas. Padahal salah satu fungsi akal terletak pada kreativitas. Untuk mengelola bumi beserta isinya salah satu yang dibutuhkan adalah kreativitas.
Lihat saja, berbagai karya yang luar biasa muncul pada posisi si pembuat karya dalam keadaan tidak mapan, dalam posisi yang berbanding lurus dengan kesadaran gerak. Apakah itu dalam penjara, keadaan miskin, sakit serta keadaan-keadaan lain yang berbanding lurus dengan kesadaran gerak.
Anak-anak muda yang sedang moncer kesadaran geraknya saat-saat ini sedang dininabobokkan. Supaya mereka yang mapan tidak terusik. Dibangunlah bangunan-bangunan serta fasilitas-fasilitas yang sarat akan hedonisme. Gedung-gedung bioskop yang menampilkan kegemerlapan dan mitos-mitos pola hidup. Mal-mal yang menawarkan omong kosong-omong kosong tentang prestise. Budaya-budaya fashion yang mengungkung kedaulatan. Bahkan sampai buku-buku yang seharusnya menjadi wadah kesadaran gerak justru menjadi wadah kesadaran mapan.
Mereka, hanya meng-iyakan saja. Anak-anak muda itu berpikiran mumpung masih muda. Senang-senang dulu. Besok pasti ada waktunya berubah.
Para penikmat kemapanan tertawa keras sambil memuas-muaskan syahwatnya. Makan, minum sepuasnya. Menggilir gadis-gadis. Memilih-milih perhiasan. Berpindah-pindah rumah mewah. Membangga-banggakan diri. Merasa bermanfaat dengan membagi-bagikan makanan kepada seribu anak yatim. Tanpa pernah merasa sakit ketika ada saudara yang terseok-seok hidupnya karena monopoli perputaran uang yang dilakukannya.
Itulah yang ditawar-tawarkan kepada anak, cucu, generasi penerus. Itulah yang sedang disetujui secara serentak di dunia. Sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, instans-instansi beserta orang yang berada di dalamnya dengan bangga mendorong manusia-manusia untuk mendapatkan jatah perolehan kesejahteraan. Dan memberikan khayalan-khayalan yang selama ini sudah mereka nikmati.
Padahal nabi yang mereka anut memilih untuk menjadi yang paling jelata. Menolak emas se-gunung Uhud. Memilih yang terbawah di dunia karena tahu hal tersebut bukan menjadi prioritas utama Sang Pencipta untuk penimbangan nanti. Mungkin sudah tidak peduli dengan penimbangan yang macam-macam. Kita, malah memilih meng-abu-lahab, mem-fir’aun, men-namrud.
Komentar
Posting Komentar