Pada zaman modern ini ada budaya baru yang sebenarnya hanya
persoalan gaya hidup tetapi seringkali dihubung-hubungkan dengan kesehatan.
Budaya tersebut kita sebut sebagai olahraga. Semakin ke sini bentuk-bentuk
olahraga bermacam-macam. Selalu muncul yang baru. Kita ambil contoh saja sepak
bola. Dulu sepak bola hanya terbatas permainan sepak bola di lapangan besar,
tetapi seiring bertambahnya tahun muncul variasi-variasi yang akarnya dari
sepak bola. Futsal, sepak bola pasir, free style football, dll.
Olahraga berasal dari kata olah dan raga. Dalam hal ini yang diolah adalah raga, badan atau jasmani. Kesehatan itu bukanlah urusan jasmani. Walaupun salah satu indikator kesehatan adalah jasmaninya sehat. Yang paling berkaitan dengan kesehatan sebenarnya pikiran, akal. Kalau pikiran sehat otomatis semuanya sehat. Karena segala jenis tindakan titik awalnya berada di pikiran. Kalau memang dikaitkan dengan kesehatan akan lebih tepat jika ditambah olahrasa dan olahpikiran.
Bagi orang dusun olahraga bukanlah budaya asli mereka. Olahraga adalah budayanya orang-orang kota, lebih tepatnya orang-orang kota yang kaya raya yang butuh hiburan dengan cara menggerakkan fisik secara teratur. Bagi orang dusun olahraga sudah merupakan bagian dari keseharian mereka. Mengolah sawah, berjualan di pasar yang persiapannya pasti sejak habis subuh, menambang pasir. Segala jenis kegiatan orang dusun sudah ada muatannya olahraga. Bahkan lebih komprehensif. Tidak hanya sekedar olahraga, tetapi ada olahrasa dan olahpikiran. Bertani itu sudah mengandung tiga muatan tersebut. Selain bekerjasama dengan alam bertani bagi para petani adalah bentuk tanggung jawabnya terhadap keluarga. Sehingga tidak penting dramatisasi olahraga seperti, senam masal, jalan sehat apalagi sepeda gembira bagi orang-orang dusun. Kalaupun orang-orang dusun mengikuti acara tersebut yang membuatnya tertarik adalah hadiahnya. Siapa tahu bisa dapat. Bukan olahraganya. Dan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan judi, materialisme atau apapun karena posisinya hanya nek selo, kalau longgar waktunya sehingga tidak maniak hadiah atau bukan pemburu hadiah.
Semakin ke sini olahraga menjadi budaya yang sarat akan gengsi. Bahkan bisa sampai dikelompokkan dengan kasta-kasta. Misal, kalau golf, tenis itu olahraganya orang kaya. Adanya kasta dalam olahraga itu menjadi makanan empuk bagi para kapitalis. Sehingga semakin lama olahraga menjadi semakin membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan orang mau-mau saja dengan kenyataan seperti itu. Bahkan ada yang bisa sampai mewajibkan secara rutin untuk memenuhi gaya hidup konsumtif dalam olahraga.
Kapitalisme, elitisasi, kasta-kasta materialisme, itu semua adalah bagian dari obsesi kemapanan manusia. Bagi pemuja kemapanan, olahraga adalah salah satu jenis hiburan yang cukup menarik.
Olahraga berasal dari kata olah dan raga. Dalam hal ini yang diolah adalah raga, badan atau jasmani. Kesehatan itu bukanlah urusan jasmani. Walaupun salah satu indikator kesehatan adalah jasmaninya sehat. Yang paling berkaitan dengan kesehatan sebenarnya pikiran, akal. Kalau pikiran sehat otomatis semuanya sehat. Karena segala jenis tindakan titik awalnya berada di pikiran. Kalau memang dikaitkan dengan kesehatan akan lebih tepat jika ditambah olahrasa dan olahpikiran.
Bagi orang dusun olahraga bukanlah budaya asli mereka. Olahraga adalah budayanya orang-orang kota, lebih tepatnya orang-orang kota yang kaya raya yang butuh hiburan dengan cara menggerakkan fisik secara teratur. Bagi orang dusun olahraga sudah merupakan bagian dari keseharian mereka. Mengolah sawah, berjualan di pasar yang persiapannya pasti sejak habis subuh, menambang pasir. Segala jenis kegiatan orang dusun sudah ada muatannya olahraga. Bahkan lebih komprehensif. Tidak hanya sekedar olahraga, tetapi ada olahrasa dan olahpikiran. Bertani itu sudah mengandung tiga muatan tersebut. Selain bekerjasama dengan alam bertani bagi para petani adalah bentuk tanggung jawabnya terhadap keluarga. Sehingga tidak penting dramatisasi olahraga seperti, senam masal, jalan sehat apalagi sepeda gembira bagi orang-orang dusun. Kalaupun orang-orang dusun mengikuti acara tersebut yang membuatnya tertarik adalah hadiahnya. Siapa tahu bisa dapat. Bukan olahraganya. Dan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan judi, materialisme atau apapun karena posisinya hanya nek selo, kalau longgar waktunya sehingga tidak maniak hadiah atau bukan pemburu hadiah.
Semakin ke sini olahraga menjadi budaya yang sarat akan gengsi. Bahkan bisa sampai dikelompokkan dengan kasta-kasta. Misal, kalau golf, tenis itu olahraganya orang kaya. Adanya kasta dalam olahraga itu menjadi makanan empuk bagi para kapitalis. Sehingga semakin lama olahraga menjadi semakin membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan orang mau-mau saja dengan kenyataan seperti itu. Bahkan ada yang bisa sampai mewajibkan secara rutin untuk memenuhi gaya hidup konsumtif dalam olahraga.
Kapitalisme, elitisasi, kasta-kasta materialisme, itu semua adalah bagian dari obsesi kemapanan manusia. Bagi pemuja kemapanan, olahraga adalah salah satu jenis hiburan yang cukup menarik.
Komentar
Posting Komentar