Hidup dan waktu adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisah-pisah.
Sejalan dengan hal tersebut berarti hidup adalah pergerakan sebagai mana waktu
yang terus bergulir. Hidup bisa menjadi kehidupan karena ada pergerakan yang
semuanya berada dalam bingkai waktu. Kehidupan menjadi indah karena ada
dinamika. Keindahan suaranya, ketepatan meletakkan cengkok, vibrasi,
improvisasi. Lekuk-lekuknya, gradasi warnanya, tebal tipis garisnya. Keindahan
lenggak-lenggoknya, keindahan komposisi gerakannya, ketepatan temponya. Semua
itu ada karena adanya kreativitas. Yang kesemuanya itu dan diawali dan ditopang
oleh Sang Maha Kreatif.
Kesatuan yang disebut hidup, berisikan kehidupan, indah karena kreativitas, berada dalam ruang maha luas dan bingkai waktu yang semuanya itu diawali dan ditopang oleh Sang Maha Kreatif adalah pergerakan yang setiap saat terus bergerak. Tak pernah satu kalipun dalam satuan waktu terkecil berhenti. Dan diciptakannya makhluk bernama manusia supaya ia melakukan pergerakan-pergerakan di sebuah tempat yang disebut bumi. Memperindah, mengolah isi-isinya, bekerjasama dengan makhluk-makhluk lain yang ada di tempat tersebut supaya terjadi sebuah sinergi yang akurat untuk memperindah bumi namun tak bertentangan dengan pencipta bumi.
Gerak tersebut seringkali disalahartikan oleh manusia. Terkadang manusia yang diberikan kesadaran gerak malah ingin mematikan kesadaran tersebut. Dikiranya setelah ada pergerakan-pergerakan akan ada titik berhentinya. Titik dimana waktu bisa berhenti sejenak tetapi dirinya tetap bergerak sehingga dia bisa menikmati. Padahal salah satu syarat menikmati adalah pergerakan waktu.
Dulu ketika baginda Adam masih di surga beliau dilarang oleh Allah untuk mendekati sebuah pohon. Tidak pernah dijelaskan kenapa tidak boleh mendekati. Beberapa kemungkinan mengapa tidak boleh didekati adalah pertama berbahaya bagi Adam, kedua belum saatnya pohon itu bisa dinikmati terutama buahnya dikarenakan Adam yang belum cukup lama hidupnya belum memenuhi syarat untuk menikmati pohon tersebut. Karena kepandaian Iblis akhirnya baginda Adam mendekati pohon tersebut yang pada akhirnya membuat beliau merasa sangat bersalah kepada Allah.
Allah pernah menginformasikan bahwa puncak kenikmatan berada di Surga. Ketika seorang manusia sudah mencapai tempat tersebut ia hidup kekal di dalamnya. Mungkin ada hubungannya antara pohon yang tidak boleh didekati dengan puncak kenikmatan tersebut. Jika iya, saat itu baginda Adam kan makhluk baru sehingga aneh rasanya jika sudah sampai di puncak kenikmatan.
Peristiwa baginda Adam memakan mendekati pohon sangat sering terjadi dalam kehidupan manusa. Tepatnya mendekati pohon yang dikira pohon yang ada di surga tersebut. Manusia terobsesi dengan keabadian dunia. Padahal abadi itu bukan di dunia tempatnya. Dunia adalah tempat untuk menua. Tempat terjadinya destruksi-destruksi positif. Obsesi tersebut membuat manusia berpikir tentang kemapanan.
Mapan itu statis. Padahal manusia dilahirkan dengan anugerah berupa kesadaran gerak. Segala jenis penghilangan martabat kemanusiaan juga bersumber dari kemapanan. Apakah itu korupsi, kolusi-kolusi negatif, adu domba, iri, dengki, semua berasal dari kesadaran mapan. Mapan juga sesuatu yang menyebabkan adzab-adab Allah pada kaum-kaum terdahulu. Kaum ‘Ad dengan pencapaiannya, Fir’aun dengan kekuasaannya semuanya berawal dari kesadaran mapan bukan kesadaran gerak.
Kesadaran mapan menimbulkan kesombongan. Merasa paling cerdas, paling pandai, paling berjasa terhadap hasi-hasil yang diperolehnya. Sehingga ia lupa bahwa manusia hanya bisa menanam bukan menumbuhkan. Sekarang, manusia berlomba-lomba untuk menjadi mapan. Supaya seakan-akan bisa menikmati.
Kesatuan yang disebut hidup, berisikan kehidupan, indah karena kreativitas, berada dalam ruang maha luas dan bingkai waktu yang semuanya itu diawali dan ditopang oleh Sang Maha Kreatif adalah pergerakan yang setiap saat terus bergerak. Tak pernah satu kalipun dalam satuan waktu terkecil berhenti. Dan diciptakannya makhluk bernama manusia supaya ia melakukan pergerakan-pergerakan di sebuah tempat yang disebut bumi. Memperindah, mengolah isi-isinya, bekerjasama dengan makhluk-makhluk lain yang ada di tempat tersebut supaya terjadi sebuah sinergi yang akurat untuk memperindah bumi namun tak bertentangan dengan pencipta bumi.
Gerak tersebut seringkali disalahartikan oleh manusia. Terkadang manusia yang diberikan kesadaran gerak malah ingin mematikan kesadaran tersebut. Dikiranya setelah ada pergerakan-pergerakan akan ada titik berhentinya. Titik dimana waktu bisa berhenti sejenak tetapi dirinya tetap bergerak sehingga dia bisa menikmati. Padahal salah satu syarat menikmati adalah pergerakan waktu.
Obsesi
Kemapanan
Dulu ketika baginda Adam masih di surga beliau dilarang oleh Allah untuk mendekati sebuah pohon. Tidak pernah dijelaskan kenapa tidak boleh mendekati. Beberapa kemungkinan mengapa tidak boleh didekati adalah pertama berbahaya bagi Adam, kedua belum saatnya pohon itu bisa dinikmati terutama buahnya dikarenakan Adam yang belum cukup lama hidupnya belum memenuhi syarat untuk menikmati pohon tersebut. Karena kepandaian Iblis akhirnya baginda Adam mendekati pohon tersebut yang pada akhirnya membuat beliau merasa sangat bersalah kepada Allah.
Allah pernah menginformasikan bahwa puncak kenikmatan berada di Surga. Ketika seorang manusia sudah mencapai tempat tersebut ia hidup kekal di dalamnya. Mungkin ada hubungannya antara pohon yang tidak boleh didekati dengan puncak kenikmatan tersebut. Jika iya, saat itu baginda Adam kan makhluk baru sehingga aneh rasanya jika sudah sampai di puncak kenikmatan.
Peristiwa baginda Adam memakan mendekati pohon sangat sering terjadi dalam kehidupan manusa. Tepatnya mendekati pohon yang dikira pohon yang ada di surga tersebut. Manusia terobsesi dengan keabadian dunia. Padahal abadi itu bukan di dunia tempatnya. Dunia adalah tempat untuk menua. Tempat terjadinya destruksi-destruksi positif. Obsesi tersebut membuat manusia berpikir tentang kemapanan.
Mapan itu statis. Padahal manusia dilahirkan dengan anugerah berupa kesadaran gerak. Segala jenis penghilangan martabat kemanusiaan juga bersumber dari kemapanan. Apakah itu korupsi, kolusi-kolusi negatif, adu domba, iri, dengki, semua berasal dari kesadaran mapan. Mapan juga sesuatu yang menyebabkan adzab-adab Allah pada kaum-kaum terdahulu. Kaum ‘Ad dengan pencapaiannya, Fir’aun dengan kekuasaannya semuanya berawal dari kesadaran mapan bukan kesadaran gerak.
Kesadaran mapan menimbulkan kesombongan. Merasa paling cerdas, paling pandai, paling berjasa terhadap hasi-hasil yang diperolehnya. Sehingga ia lupa bahwa manusia hanya bisa menanam bukan menumbuhkan. Sekarang, manusia berlomba-lomba untuk menjadi mapan. Supaya seakan-akan bisa menikmati.
Komentar
Posting Komentar