Langsung ke konten utama

Kebimbangan Zaman

Manusia di zaman ini sedang berada di puncak kebimbangannya. Ada semacam kesepakatan-kesepakatan baru diantara manusia untuk menentukan apa yang disebut sebagai peradaban. Parameter beradap masa lalu sepertinya akan mulai terkikis dan diganti dengan parameter baru. Sehingga, dewasa ini seakan-akan tidak ada pakem ukuran-ukuran untuk menentukan nilai-nilai. Apakah yang ini beradab, yang itu tidak beradap. 

Parameter masa lalu menganggap suatu hal beradab. Tetapi dengan adanya parameter baru bisa jadi hal tersebut dianggap tidak berguna. Parameter masa lalu cenderung kepada proses-proses. Parameter sekarang kepada hasil-hasil. 

Misalnya saja agama. Memang dimana-mana kegiatan keagamaan sedang semarak. Tetapi apakah yang disangka sebagai kegiatan agama itu memang benar-benar agama atau hanya sekedar pelestarian adat yang telah berlangsung sejak lama. Artinya orang-orang menjalaninya karena memang sudah sejak lahir ada dan tidak berani melanggarnya sebab sudah berlangsung lama dan turun temurun. Kasusnya sama dengan kaum Quraisy atau umat-umat nabi terdahulu yang tidak mau mengikuti kepercayaan baru karena kepercayaan mereka adalah warisan dari nenek moyang. 

Akhirnya ada fenomena-fenomena agak aneh. Misalnya setiap tahun orang berbondong-bondong untuk melaksanakan sholat id secara masal tetapi dalam kesehariannya tidak sholat wajib. Atau tahlilan itu lebih wajib dari sholat lima waktu karena sanksi Allah tidak lebih menakutkan dari omongan-omongan masyarakat.  

Entah ini memang diseting atau secara alami, yang pasti sudah semakin terlihat jelas perubahan-perubahannya. Dari segala bidang. Semua hal seperti diambil sisi luarnya saja. pendidikan diambil sisi pragmatisnya, yang penting menunjang seseorang untuk bekerja. Bekerja pun diambil sisi pragmatisnya. Bukan lagi urusan kebermanfaatan terhadap orang lain tetapi urusan mencari uang. 

Di satu sisi dianggap wajar saja segala perubahan yang terjadi. Karena semua terlihat lancar-lancar saja. Tetapi di sisi lain terjadi ketidaksetujuan dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Sebagai contoh, semakin berkurangnya rasa hormat orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Dimana-mana kita akan mendengar keluhan-keluhan bahwa anak-anak sekarang itu berbeda dengan dahulu terutama dalam hal menghormati orang yang lebih tua. Hal tersebut juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Kalau mau saling menyalahkan justru pendahulunya yang salah. Seorang anak melakukan sesuatu karena mendapat referensi dari pendahulunya. Dari cara berkomunikasi, cara menghormati dll. Jika terjadi penurunan berarti referensi yang ia dapat adalah referensi yang juga sudah mengalami penurunan juga. 

Itu adalah contoh-contoh kecil dari ketidaksetujuan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Untuk konteks Indonesia kelihatannya masyarakat secara luas tidak mampu melakukan kendali apapun. Segala referensi-referensi perubahan setiap hari berlalu-lalng informasinya. Silang sengkarut melalui berbagai media. 

Jika memang ini disetting sedemikian rupa cukup bahagialah mereka yang melakukan setting-setting tersebut karena perubahannya semakin terlihat. Kalau memang terjadi secara alami berarti harus kembali disepakati prinsip apa yang akan dijadikan sebagai acuan apakah ini baik atau buruk, berkualitas atau tidak, beradap atau tidak. Harus kembali membangun komunikasi dengan Tuhan dan meminta legitimasi bagaimana sebaiknya. Lanjut atau berhenti di sini atau mungkin akan diganti yang baru.

Komentar