Langsung ke konten utama

Postingan

Kesejatian

Allah adalah kesejatian. Allah menciptakan makhluk paling sempurna yang mempunyai jenis-jenis kemampuan sama dengan-Nya. Jenis-jenis kemampuan yang sama itu diberikan kepada makhluk itu dengan porsi yang sangat sedikit. Makhluk tersebut adalah manusia. Dengan anugerah itu bukan berarti manusia sama dengan Allah. Karena dalam perannya di kehidupan, manusia adalah manusia dan Allah adalah Allah.   Dalam kehidupannya, manusia harus mencari, mencari kesejatian, mencari Allah. Tugas pencarian itu dipermudah oleh Allah. Allah mempermudahnya dengan menurunkan agama, yang di dalamnya terdapat inti pencarian, serta cara-cara mencari kesejatian. Salah satu caranya adalah manusia harus tahu tentang prioritas. Kesejatian (Allah) adalah prioritas.   Jika dianalogikan dengan perjalanan menuju ke sebuah tempat yang jauh, ketika seseorang berjalan menuju ke sebuah tempat jauh, orang tersebut harus memprioritaskan tempat tujuan namun jangan melupakan istirahat. Dalam hal ini, posisi istira...

Pemenang ?

Setiap manusia adalah pemenang. Pernyataan tersebut seringkali dianalogikan dengan perjuangan sperma yang mampu mencapai sel telur dan akhirnya terjadi. Artinya semenjak awal pembentukanya, manusia adalah seorang pemenang. Analogi tersebut secara tidak langsung mengarah kepada pembentukan manusia sebagai makhluk kompetisi. Pembentukan yang sejalan dengan sistem kehidupan yang saat ini dipakai di dunia. Sistem tersebut adalah sistem kapitalis. Sebuah sistem yang dianggap baik atau lebih tepatnya seluruh manusia di seluruh dunia dipaksa untuk menganggap sistem tersebut adalah sistem yang bagus, dan pada akhirnya akibat pemaksaan tersebut, manusia menganggap baik dan mau menjalankan sistem tersebut.   Analogi sperma dan sel telur tersebut adalah sebuah analogi yang relevan ketika dianalogikan bukan hanya kepada manusia saja, tetapi makhluk hidup yang lain seperti tumbuhan dan hewan. Sehingga pada dasarnya analogi tersebut merupakan bagian dari setiap makhluk hidup, bukan bagian yang...

Ruang Hampa

Jika dianalogikan dengan titik dan garis, waktu adalah kumpulan titik yang membentuk suatu garis. Titik itu harus menyentuh titik sebelah kanan dan kirinya supaya garis itu dapat terbentuk. Hidup adalah si titik itu sendiri. Baik si titik awal ataupun yang sudah bersentuhan dengan titik-titik lain sehingga terbentuk garis. Artinya hidup dan waktu adalah suatu kesatuan. Kesatuan itu membentuk sesuatu yang menurut pandangan saya, saya sebut sebagai kehidupan. Dari adanya kesatuan tersebut kehidupan adalah suatu gerakan tanpa henti, tidak ada satupun titik perhentian di dalamnya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa hidup tidak bisa kalau hanya disandarkan pada hasil semata. Dalam hal ini manusia bersentuhan dengan jalan panjang dan konsistensi. Hasil adalah jalan panjang dan konsistensi itu sendiri. Cinta adalah jalan panjang dan konsistensi itu sendiri. Kesejatian adalah jalan panjang dan konsistensi itu sendiri. Kebanggaan adalah suatu kesalahan besar, karena keba...

Makhluk Proses

Hidup itu bukan hanya 1, 2, 3, 4, 5 detik saja, tetapi sebuah proses yang begitu lama dan panjang. Garis itu dapat terbentuk karena merupakan gabungan dari banyak titik. Hidup ini, cerita kehidupan ini berjalan karena ada waktu sebagai salah satu faktornya. Alasan tersebut memberikan isyarat yang cukup jelas, bahwa hidup adalah menjalani proses demi proses, bukan hanya sekedar menikmati hasil demi hasil. Hasil merupakan bagian dari proses itu juga, artinya hasil bukan berarti membuat manusia berhenti untuk mencari dan terus mencari kesejatian hidup.   Pada kenyataannya, kesadaran akan proses sering terganggu oleh berbagai hal yang tiba-tiba saja datang mempengaruhi manusia. Entah itu karena lingkungan sekitar atau dari faktor internal manusia itu sendiri. Gangguan-gangguan itu seringkali membuat manusia melupakan kesadaran akan proses. Pada titik itulah sebenarnya manusia melalui masa-masa ujian akan komitmennya terhadap konsistensi. Ketika ujian-ujian tersebut dapat dilalui maka...

Lumayan

Malam itu, sebuah acara yang diadakan oleh Dinas Sosial tingkat kabupaten bertema “Pembinaan Karang Taruna”. Diawali dengan sambutan Pak Camat, karena acaranya tingkat kecamatan. Kemudian pengurus-pengurus karang Taruna kabupaten, pejabat Dinas Sosial tingkat kabupaten memaparkan berbagai hal yang berkaitan dengan Karang Taruna.   Kata-kata yang sering diucapkan oleh para pembina Karang Taruna tingkat kabupaten tersebut adalah “kesejahteraan, kemajuan, tingkat kemiskinan, pariwisata”. Namun yang kemudian sering dipertanyajawabkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal teknis tentang dana.   Kebahagiaan saya pada malam itu adalah semangat para pemuda-pemudinya. Mereka rela meluangkan waktu untuk acara yang tidak begitu menarik dengan tujuan kebermanfaat bagi sesama. Kebahagiaan ini tidak lantas membuat hati saya berhari raya kecil-kecilan. Hari raya kecil-kecilan saya tunda terlebih dahulu, setelah hati saya bernegosiasi dengan diri saya sendiri.   Jangan-janga...

Mabuk

Mabuk. Dalam term negatifnya, harus kembali dipahami bukan hanya terbatas pada pengertian yang sempit, seperti teler akibat minuman keras atau teler karena narkotika. Yang lebih penting daripada teler secara fisik adalah tujuan dari mabuk sebagai penghilang kesadaran, entah untuk sekedar bersenang-senang secara tidak jelas atau sejenak melupakan masalah-masalah yang menimpa kehidupan. Akibat yang terjadi ketika mabuk, jelas, yang pertama hilang kesadaran (akal tidak berfungsi) berikutnya, setelah akal tidak berfungsi manusia sangat rentan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak melibatkan akal, hanya melibatkan nafsu saja, menjadi liar seperti hewan. Jika sudah seperti itu derajat manusia turun, dia menjadi bukan manusia walaupun secara fisik kelihatannya manusia.   Sekarang mabuk ini dimanipulasi, dijadikan sebagai alat utama untuk menghilangkan kesadaran orang lain, orang banyak, sebagai bagian dari kontrol sosial yang berfungsi sebagai suplayer-suplayer materi bagi pemi...

Semoga, Sokur-sokur (Jawa), Kalau Bisa, Atau Lebih Jauh Lagi dan Sang Pencipta

Setiap pagi, mereka melakukan perjalanan menuju ke sebuah tempat yang menjadi tautan harapan masa depan. Ada yang diantar orang tua, naik kendaraan umum, jalan kaki ataupun mengayuh sepeda. Mereka melakukannya dengan penuh semangat. “Dari sinilah aku merajut masa depanku”, itulah isyarat yang terbaca dari senyuman-senyuman mereka. Mereka melewati hari-harinya dengan penuh keceriaan. Tapi para pemelihara negeri (hanya kelihatannya) tak kunjung sadar akan semangat-semangat itu. Mereka terus mencekoki para pemilik semangat otentik itu dengan doktrin-doktrin kebodohan, membutakan mata dengan paham-paham kebendaan dan menumpulkan hati dengan pundi-pundi keserakahan. Sampai akhirnya semangat yang otentik itu memudar, sedikit demi sedikit. Mereka menghapus rangkaian kata-kata yang dirajut sendiri oleh para pemilik semangat otentik itu dan menggantinya dengan kata-kata baru. Satu, dua, tiga, empat dst, para pemilik semangat otentik mulai hilang. Para pemilik semangat itu tidak sadar bahwa diri...