Langsung ke konten utama

Postingan

Allah Maha Berpuasa (Ramadlan 20)

Sudah menjadi pemahaman mayoritas manusia bahwa dalam kehidupan ini ada suatu pola yang disebut sebagai sebab – akibat. Perumusan, pemetaan berbagai hal seringkali disandarkan pada pola tersebut. Dan saya kira, selama ini sangat efektif. Kalaupun ada sedikit kesalahan berarti yang salah adalah manusianya. Karena sebab – akibat itu alamiah, sunnatullah . Tetapi, bukan berarti tidak terdapat anomali. Pada keadaan-keadaan tertentu terdapat anomali. Matematika saja ada anomalinya. Kita ambil contoh nol pangkat nol. Perhitungan tersebut hasilnya ada dua, bisa nol, bisa juga satu. Hasil nol karena yang dipangkatkan adalah nol. Hasil satu karena semua angka yang dipangkatkan nol hasilnya satu. Dan pada keadaan apa, titik berat yang seperti apa hasilnya lebih cenderung ke satu, atau lebih cenderung ke nol, tidak bisa dirumuskan. Begitu juga anomali perihal sebab – akibat tersebut. Tidak bisa di rumuskan. Mungkin ada gejala-gejala tertentu yang bisa dikenali, tetapi pada wilayah detail tetap ...

Semoga Mereka Segera Diberi Hidayah (Ramadlan 19)

Di kalangan rakyat kecil kehidupan berjalan seperti biasanya, lancar, aman, damai dan tenteram. Para penjual di pasar dapat berjualan dengan lancar. Para petani melakukan aktivitasnya dengan bersemangat. Semua orang dapat beribadah secara tenang. Suara adzan, sholawat setiap hari masih terdengar di masjid-masjid. Ketika malam tiba, semua orang dapat istirahat secara damai. Tetapi, jauh di seberang sana terjadi kegaduhan yang luar biasa. Pemimpin beralih menjadi penguasa. Para penguasa saling berebut kekuasaan. Mengalahkan sana, mengalahkan sini. Menjatuhkan sana, menjatuhkan sini. Tidak berhenti sampai di situ. Virus kebencian itu disebar-sebarkan. Rakyat diseret-seret untuk ikut membenci. Akhirnya suasana damai itu berubah menjadi tidak damai. Hati yang tadinya tenang menjadi tidak tenang. Ketika istirahat, ingin melihat hiburan di TV malah membuat hati menjadi emosi. Secara latah ikut membenci sana, membenci sini dengan mengeluarkan komentar-komentar bernada sinis. Perasaan itu di...

Ternyata Salah Tujuan (Ramadlan 18)

Ketika melihat orang-orang berjubel memenuhi pusat perbelanjaan muncul pertanyaan di benak saya. Sebenarnya yang dicari manusia itu apa dalam hidupnya. Mengapa bisa begitu luar biasanya manusia mencurahkan waktu, energi, harta hanya untuk menuruti perilaku konsumtif. Secara random juga muncul pertanyaan-pertanyaan lain. Apakah yang mereka beli benar-benar mereka butuhkan. Atau hanya sekedar tidak tahu mau memakai uang untuk apa kemudian berbelanja.   Awalnya, saya geli juga mengapa kok tiba-tiba banyak pertanyaan muncul yang sebenarnya juga tidak penting-penting amat bagi hidup saya. Namun, rentetan pertanyaan tersebut malah membawa saya kepada suatu perenungan pribadi. Dari berbagai pertanyaan tersebut ada sesuatu hal yang saya dapatkan. Bukan pada kalimat pertanyaannya, bukan pada bentuk pertanyaannya. Yang pasti lebih substansial menurut saya. Jika dibuat sebuah kalimat kiranya seperti ini, ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan manusia saat ini. Coba bayangkan, dala...

Berpuasa untuk Melampiaskan (Ramadlan 17)

Segala sesuatu bisa bernilai positif juga bisa bernilai negatif. Tidak pasti yang secara gamblang bernilai positif pada prosesnya benar-benar bernilai positif. Begitu juga sebaliknya. Misalnya sikap sombong, kebanyakan manusia pasti memahaminya sebagai suatu sikap negatif dalam kehidupan. Apalagi diperkuat dengan berbagai data yang menunjukkan bahwa sombong itu sejalan dengan kehancuran-kehancuran. Tetapi, tidak berarti, pada posisi tertentu sikap sombong ini bernilai negatif. Kalau kita mempunyai masalah dan kita sombong kepada si masalah ini akan bernilai positif. Kita bisa merasa lebih besar dari masalah yang membuat kita bisa menyelesaikannya.   Kita ambil contoh yang lain, misalnya tentang makanan halal. Makanan halal yang dimakan pada porsi tertentu bisa benar-benar bermakna halal, tetapi dalam keadaan tertentu bisa bergeser kehalalannya. Kalau kita makan dengan porsi wajar kemudian di sekitar kita tidak ada yang membutuhkan bantuan makanan maka keadaan makanan tersebut ben...

Ihdinas shirothol mustaqim (Ramadlan 16)

Hal yang paling sulit ditemui di zaman modern adalah menjadi biasa saja. Segala hal diubah supaya rasanya menjadi tidak biasa. Harus ada hingar bingarnya. Harus ada sesuatu yang membuat orang takjub. Tidak tahu, semenjak kapan manusia didik untuk tidak menganggap sesuatu secara biasa.   Dan saat-saat ini adalah puncak-puncaknya hal-hal yang berlebihan-berlebihan tersebut. Ramadlan harus ada spanduk, kalau bisa lebih dari itu, jalan-jalan didekorasi sedemikian rupa supaya nuansanya agak berbeda. Supaya lebih meriah lagi harus ada pasar Ramadlan. Tujuh belas Agustusan harus ada hiasan-hiasan jalan yang menunjukkan bahwa sekarang adalah perayaan tujuh belas Agustus-an.  Kebiasaan untuk menjadi berlebihan di dalam ranah sosial tersebut diam-diam diadobsi dalam taraf individu. Jadilah sebuah prinsip, “saya harus wah”. Tidak boleh ada orang lain yang memiliki barang ini selain saya. Saya pasti akan menjadi ter..... dari yang lain.  Akhirnya, kehidupan disibukkan un...

Aksi Mengenyangkan Tanpa Henti (Ramadlan 15)

Mata itu tidak bisa melihat dirinya sendiri. Mata dengan dirinya sendiri terbentang jarak yang sangat jauh justru berkaitan dengan kemampuan utama mata itu sendiri berupa penglihatan. Kalaupun ada media semacam cermin, yang muncul di cermin bukanlah mata asli, tetapi pantulan gambar mata. Tidak usah mata, wajah saja yang unsur-unsurnya berada di luar mata adalah salah satu yang tidak bisa dilihat secara langsung oleh manusia itu sendiri. Padahal secara bentuk keindahan wajahlah puncak dari keindahan organ tubuh. Begitu juga diri secara keseluruhan. Sesuatu yang terdekat, sekaligus terjauh. Karena, sebenarnya puncak dari jauh itu dekat, puncak dari dekat jauh.  Hal tersebut seperti mengisyaratkan banyak hal. Misalnya, kenapa manusia tidak bisa melihat dengan jarak yang wajar secara langsung wajahnya sendiri, bisa jadi Mengisyaratkan bahhwa hidup itu bukan hanya persoalan rupa dan materi saja. Atau kenapa diri sendiri adalah yang terdekat sekaligus terjadu, bisa jadi mengisyarat...

Jasmani – Rohani, Rohani – Jasmani (Ramadlan 14)

Hidup adalah pergerakan rohani-jasmani, jasmani-rohani. Bukan berarti jika yang disebutkan pertama kata rohani hal tersebutlah yang terpenting. Atau sebaliknya bukan berarti ketika dijelaskan bahwa rohani bukanlah yang terpenting, jasmani tidak penting. Analogi rohani-jasmani, jasmani-rohani hanya sebatas upaya keterbatasan saya untuk mendeskripsikan sesuatu. Yang penting adalah pergerakannya bukan pada simbol-simbolnya. Jika dikupas lagi, di dalamnya ada pergerakan padat-tidak padat, tidak padat-padat. Pergerkan dinamis, terus bergerak. Karena adanya pergerakan tersebutlah ada berbagai output dalam kehidupan. Dalam kondisi normal seorang manusia seyogyanya tidak marah, tapi dalam kondisi tertentu yang mungkin sangat kepepet ia boleh marah. Marah dalam kondisi yang bisa dikendalikan. Kondisi normal adalah ketika perasaan kita tidak kita padatkan, ia serasa luas, tidak terasa sesak di dada. Saat kepepet dan marah berarti kita melakukan tekanan pada hati untuk menjadi marah, ia dipadat...