Langsung ke konten utama

Ihdinas shirothol mustaqim (Ramadlan 16)

Hal yang paling sulit ditemui di zaman modern adalah menjadi biasa saja. Segala hal diubah supaya rasanya menjadi tidak biasa. Harus ada hingar bingarnya. Harus ada sesuatu yang membuat orang takjub. Tidak tahu, semenjak kapan manusia didik untuk tidak menganggap sesuatu secara biasa.
 
Dan saat-saat ini adalah puncak-puncaknya hal-hal yang berlebihan-berlebihan tersebut. Ramadlan harus ada spanduk, kalau bisa lebih dari itu, jalan-jalan didekorasi sedemikian rupa supaya nuansanya agak berbeda. Supaya lebih meriah lagi harus ada pasar Ramadlan. Tujuh belas Agustusan harus ada hiasan-hiasan jalan yang menunjukkan bahwa sekarang adalah perayaan tujuh belas Agustus-an. 

Kebiasaan untuk menjadi berlebihan di dalam ranah sosial tersebut diam-diam diadobsi dalam taraf individu. Jadilah sebuah prinsip, “saya harus wah”. Tidak boleh ada orang lain yang memiliki barang ini selain saya. Saya pasti akan menjadi ter..... dari yang lain. 

Akhirnya, kehidupan disibukkan untuk pencapaian-pencapaian yang titik beratnya pada menjadi besar dari orang lain. Segala aktivitas, mulai dari pendidikan, ekonomi, kebudayaan. Pokoknya, segala hal harus bisa menjadi lebih hebat dan lebih besar dari orang lain.

Pada prosesnya, hal yang tidak biasa tersebut dianggap menjadi biasa. Manusia serasa menjadi hilang titik akurasinya untuk menentukan ini normal, itu tidak normal, ini wajar, itu tidak wajar, ini biasa, itu tidak biasa.

Pada posisi ini, manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Merupakan anugerah yang luar biasa, di akhir zaman Allah memberikan sebuah kalimat Ihdinas shirotol mustaqim. Kalimat yang seharusnya disadari sebagai sebuah kesadaran bahwa manusia itu harus pasrah total kepada Allah. Mereka tidak bisa membuat jadwal kencingnya sendiri. Mereka tidak bisa membuat setitik jerawat di wajah bisa hilang. Sebuah Kalimat yang harus terus diucapkan, karena memang keadaan akhir zaman sudah tidak bisa ditolerir lagi ketidakakuratan berpikirnya.

Komentar