Hal yang paling sulit ditemui di zaman modern adalah
menjadi biasa saja. Segala hal diubah supaya rasanya menjadi tidak biasa. Harus
ada hingar bingarnya. Harus ada sesuatu yang membuat orang takjub. Tidak tahu,
semenjak kapan manusia didik untuk tidak menganggap sesuatu secara biasa.
Dan
saat-saat ini adalah puncak-puncaknya hal-hal yang berlebihan-berlebihan
tersebut. Ramadlan harus ada spanduk, kalau bisa lebih dari itu, jalan-jalan
didekorasi sedemikian rupa supaya nuansanya agak berbeda. Supaya lebih meriah
lagi harus ada pasar Ramadlan. Tujuh belas Agustusan harus ada hiasan-hiasan
jalan yang menunjukkan bahwa sekarang adalah perayaan tujuh belas Agustus-an.
Kebiasaan
untuk menjadi berlebihan di dalam ranah sosial tersebut diam-diam diadobsi
dalam taraf individu. Jadilah sebuah prinsip, “saya harus wah”. Tidak boleh ada
orang lain yang memiliki barang ini selain saya. Saya pasti akan menjadi
ter..... dari yang lain.
Akhirnya,
kehidupan disibukkan untuk pencapaian-pencapaian yang titik beratnya pada
menjadi besar dari orang lain. Segala aktivitas, mulai dari pendidikan,
ekonomi, kebudayaan. Pokoknya, segala hal harus bisa menjadi lebih hebat dan
lebih besar dari orang lain.
Pada
prosesnya, hal yang tidak biasa tersebut dianggap menjadi biasa. Manusia serasa
menjadi hilang titik akurasinya untuk menentukan ini normal, itu tidak normal,
ini wajar, itu tidak wajar, ini biasa, itu tidak biasa.
Pada
posisi ini, manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Merupakan anugerah yang luar
biasa, di akhir zaman Allah memberikan sebuah kalimat Ihdinas shirotol mustaqim. Kalimat yang seharusnya disadari sebagai
sebuah kesadaran bahwa manusia itu harus pasrah total kepada Allah. Mereka
tidak bisa membuat jadwal kencingnya sendiri. Mereka tidak bisa membuat setitik
jerawat di wajah bisa hilang. Sebuah Kalimat yang harus terus diucapkan, karena
memang keadaan akhir zaman sudah tidak bisa ditolerir lagi ketidakakuratan
berpikirnya.
Komentar
Posting Komentar