Langsung ke konten utama

Aksi Mengenyangkan Tanpa Henti (Ramadlan 15)


Mata itu tidak bisa melihat dirinya sendiri. Mata dengan dirinya sendiri terbentang jarak yang sangat jauh justru berkaitan dengan kemampuan utama mata itu sendiri berupa penglihatan. Kalaupun ada media semacam cermin, yang muncul di cermin bukanlah mata asli, tetapi pantulan gambar mata.

Tidak usah mata, wajah saja yang unsur-unsurnya berada di luar mata adalah salah satu yang tidak bisa dilihat secara langsung oleh manusia itu sendiri. Padahal secara bentuk keindahan wajahlah puncak dari keindahan organ tubuh. Begitu juga diri secara keseluruhan. Sesuatu yang terdekat, sekaligus terjauh. Karena, sebenarnya puncak dari jauh itu dekat, puncak dari dekat jauh. 

Hal tersebut seperti mengisyaratkan banyak hal. Misalnya, kenapa manusia tidak bisa melihat dengan jarak yang wajar secara langsung wajahnya sendiri, bisa jadi Mengisyaratkan bahhwa hidup itu bukan hanya persoalan rupa dan materi saja. Atau kenapa diri sendiri adalah yang terdekat sekaligus terjadu, bisa jadi mengisyaratkan bahwa di satu sisi manusia harus otentik, jadi diri sendiri. Tetapi di sisi lain sadar bahwa hambatan terbesarnya dalam hidup sebenarnya bukan yang di luar dirinya tetapi dirinya sendiri.

Sebenarnya di luar ajaran agama yang padat Allah itu sudah memberikan referensi yang luar melalui berbagai ciptaan-ciptaan yang lain. Tetapi karena kemakluman Allah yang tidak terbatas itulah Allah mau bermurah hati membuat agama untuk sedikit-sedikit membantu manusia yang sadar, waspada, memanfaatka fungsi akal secara maksimal. 

Berbagai hal tersebut, ternyata bagi manusia masih belum cukup. Memang begitu bodoh dan dungunya manusia. Ia masih menuntut-nuntut Allah ini itu seakan-akan Allah adalah pembantunya.

Dan ternyata, usut punya usut perhubungan Allah dan manusia itu yang lebih tidak percaya adalah manusia itu sendiri. Kalau Allah pasti percaya dengan manusia, terbukti begitu pemurahnya Dia. Kalau manusia, ini yang kurang tahu diri. Kok bisa-bisanya tidak percaya sama Allah. Kok bisa dia meremehkan Allah dengan tidak mempercayainya. Akhirnya merasa hebat, tidak butuh Allah. Begitu akutnya ketidakpercayaan itu sampai-sampai ia takut tidak bisa makan di setiap detik kehidupannya. Berlakulah pemenuhan-pemenuhan, aksi mengenyangkan tanpa henti.

Komentar