Sudah menjadi pemahaman mayoritas manusia bahwa
dalam kehidupan ini ada suatu pola yang disebut sebagai sebab – akibat.
Perumusan, pemetaan berbagai hal seringkali disandarkan pada pola tersebut. Dan
saya kira, selama ini sangat efektif. Kalaupun ada sedikit kesalahan berarti
yang salah adalah manusianya. Karena sebab – akibat itu alamiah, sunnatullah.
Tetapi, bukan berarti tidak terdapat anomali. Pada keadaan-keadaan tertentu terdapat anomali. Matematika saja ada anomalinya. Kita ambil contoh nol pangkat nol. Perhitungan tersebut hasilnya ada dua, bisa nol, bisa juga satu. Hasil nol karena yang dipangkatkan adalah nol. Hasil satu karena semua angka yang dipangkatkan nol hasilnya satu. Dan pada keadaan apa, titik berat yang seperti apa hasilnya lebih cenderung ke satu, atau lebih cenderung ke nol, tidak bisa dirumuskan. Begitu juga anomali perihal sebab – akibat tersebut. Tidak bisa di rumuskan. Mungkin ada gejala-gejala tertentu yang bisa dikenali, tetapi pada wilayah detail tetap saja tidak bisa dirumuskan.
Nabi Nuh adalah seorang nabi yang mempunyai istri pembangkang dan anak pembangkang, mereka tidak taat kepada Allah. Apakah hal tersebut bisa kita simpulkan bahwa itu merupakan akibat dari kehidupan Nabi Nuh sendiri yang tidak beres ? Entah itu karena nabi Nuh punya kesalahan tertentu sama Allah kemudian oleh Allah di beri balasan dengan diberi istri pembangkang dan anak pembangkang atau yang lainnya. Saya kira, jawaban yang paling tepat tidak. Nabi Nuh adalah kekasih Allah. Terbukti ketika beliau sudah tersakiti Allah langsung turun tangan dengan menghadirkan adzab. Maka hukum sebab – akibat seperti yang kita pahami tidak berlaku dalam hal tersebut.
Kita ambil contoh lain. Istri Nabi Luth juga pembangkang. Bahkan sampai tingkat yang menurut saya luar biasa. Istri Nabi Luth mendukung perilaku homoseksual dan lesbian yang terjadi di wilayah sosial kehidupan Nabi Luth. Apakah itu juga merupakan suatu akibat dari kehidupan Nabi Luth yang tidak beres.
Juga, cerita tentang Maryam. Maryam itu adalah manusia yang semasa hidup benar-benar menjaga kesucian. Kalau kita menelaahnya dengan logika sebab – akibat dasar maka tidak akan mungkin beliau hidup susah menanggung fitnah. Tetapi, yang terjadi adalah beliau mendapatkan fitnah luar biasa, walaupun Nabi Isa yang masih bayi telah dituntun oleh Allah untuk menjelaskan.
Saya kira itu semua tidak termasuk dari logika sebab – akibat seperti yang selama ini dipahami oleh banyak manusia. Masih banyak sekali contoh-contoh kejadian yang tidak bisa dirumuskan dengan logika sebab – akibat.
Maka, begitu sombong manusia jika terlalu percaya diri dengan kepandaian yang dipinjamkan kepadanya yang itu tidak ada seujung kuku dari ilmu Allah. Begitu sombong manusia jika ia terlalu mudah menyimpulkan dan menghakimi (seakan-akan ia adalah Allah) berbagai hal dalam kehidupan.
Satu-satunya hal yang bisa diandalkan manusia hanyalah pasrah total, menyerah kepada Allah. Karena, benar-benar tidak ada sedikitpun saham dari manusia dalam hidupnya. Seratus persen yang mempunyai saham adalah Allah.
Allah itu Maha Berpuasa. Ketika manusia sombong dengan eksistensinya dan menganggap bahwa ia punya beberapa persen saham dalam kehidupan Allah tidak marah. Masih saja begitu melimpah nikmat yang diberi-Nya, bisa bernafas, bisa merasa nikmat ketika makan, masih ditumbuhkan rambut kepalanya, masih diberi kreativitas dalam kehidupan. Bahkan, ketika sudah melakukan perbuatan menjijikkan berupa korupsi pun masih diberi kekuatan dan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji.
Sangat-sangat tidak masuk akal, naif dan sangat-sangat tidak etis jika manusia yang hanya diwajibkan berpuasa selama satu bulan terlalu banyak mengeluh. Apalagi menolaknya.
Tetapi, bukan berarti tidak terdapat anomali. Pada keadaan-keadaan tertentu terdapat anomali. Matematika saja ada anomalinya. Kita ambil contoh nol pangkat nol. Perhitungan tersebut hasilnya ada dua, bisa nol, bisa juga satu. Hasil nol karena yang dipangkatkan adalah nol. Hasil satu karena semua angka yang dipangkatkan nol hasilnya satu. Dan pada keadaan apa, titik berat yang seperti apa hasilnya lebih cenderung ke satu, atau lebih cenderung ke nol, tidak bisa dirumuskan. Begitu juga anomali perihal sebab – akibat tersebut. Tidak bisa di rumuskan. Mungkin ada gejala-gejala tertentu yang bisa dikenali, tetapi pada wilayah detail tetap saja tidak bisa dirumuskan.
Nabi Nuh adalah seorang nabi yang mempunyai istri pembangkang dan anak pembangkang, mereka tidak taat kepada Allah. Apakah hal tersebut bisa kita simpulkan bahwa itu merupakan akibat dari kehidupan Nabi Nuh sendiri yang tidak beres ? Entah itu karena nabi Nuh punya kesalahan tertentu sama Allah kemudian oleh Allah di beri balasan dengan diberi istri pembangkang dan anak pembangkang atau yang lainnya. Saya kira, jawaban yang paling tepat tidak. Nabi Nuh adalah kekasih Allah. Terbukti ketika beliau sudah tersakiti Allah langsung turun tangan dengan menghadirkan adzab. Maka hukum sebab – akibat seperti yang kita pahami tidak berlaku dalam hal tersebut.
Kita ambil contoh lain. Istri Nabi Luth juga pembangkang. Bahkan sampai tingkat yang menurut saya luar biasa. Istri Nabi Luth mendukung perilaku homoseksual dan lesbian yang terjadi di wilayah sosial kehidupan Nabi Luth. Apakah itu juga merupakan suatu akibat dari kehidupan Nabi Luth yang tidak beres.
Juga, cerita tentang Maryam. Maryam itu adalah manusia yang semasa hidup benar-benar menjaga kesucian. Kalau kita menelaahnya dengan logika sebab – akibat dasar maka tidak akan mungkin beliau hidup susah menanggung fitnah. Tetapi, yang terjadi adalah beliau mendapatkan fitnah luar biasa, walaupun Nabi Isa yang masih bayi telah dituntun oleh Allah untuk menjelaskan.
Saya kira itu semua tidak termasuk dari logika sebab – akibat seperti yang selama ini dipahami oleh banyak manusia. Masih banyak sekali contoh-contoh kejadian yang tidak bisa dirumuskan dengan logika sebab – akibat.
Maka, begitu sombong manusia jika terlalu percaya diri dengan kepandaian yang dipinjamkan kepadanya yang itu tidak ada seujung kuku dari ilmu Allah. Begitu sombong manusia jika ia terlalu mudah menyimpulkan dan menghakimi (seakan-akan ia adalah Allah) berbagai hal dalam kehidupan.
Satu-satunya hal yang bisa diandalkan manusia hanyalah pasrah total, menyerah kepada Allah. Karena, benar-benar tidak ada sedikitpun saham dari manusia dalam hidupnya. Seratus persen yang mempunyai saham adalah Allah.
Allah itu Maha Berpuasa. Ketika manusia sombong dengan eksistensinya dan menganggap bahwa ia punya beberapa persen saham dalam kehidupan Allah tidak marah. Masih saja begitu melimpah nikmat yang diberi-Nya, bisa bernafas, bisa merasa nikmat ketika makan, masih ditumbuhkan rambut kepalanya, masih diberi kreativitas dalam kehidupan. Bahkan, ketika sudah melakukan perbuatan menjijikkan berupa korupsi pun masih diberi kekuatan dan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji.
Sangat-sangat tidak masuk akal, naif dan sangat-sangat tidak etis jika manusia yang hanya diwajibkan berpuasa selama satu bulan terlalu banyak mengeluh. Apalagi menolaknya.
Komentar
Posting Komentar