Langsung ke konten utama

Jasmani – Rohani, Rohani – Jasmani (Ramadlan 14)

Hidup adalah pergerakan rohani-jasmani, jasmani-rohani. Bukan berarti jika yang disebutkan pertama kata rohani hal tersebutlah yang terpenting. Atau sebaliknya bukan berarti ketika dijelaskan bahwa rohani bukanlah yang terpenting, jasmani tidak penting. Analogi rohani-jasmani, jasmani-rohani hanya sebatas upaya keterbatasan saya untuk mendeskripsikan sesuatu. Yang penting adalah pergerakannya bukan pada simbol-simbolnya.

Jika dikupas lagi, di dalamnya ada pergerakan padat-tidak padat, tidak padat-padat. Pergerkan dinamis, terus bergerak. Karena adanya pergerakan tersebutlah ada berbagai output dalam kehidupan. Dalam kondisi normal seorang manusia seyogyanya tidak marah, tapi dalam kondisi tertentu yang mungkin sangat kepepet ia boleh marah. Marah dalam kondisi yang bisa dikendalikan. Kondisi normal adalah ketika perasaan kita tidak kita padatkan, ia serasa luas, tidak terasa sesak di dada. Saat kepepet dan marah berarti kita melakukan tekanan pada hati untuk menjadi marah, ia dipadatkan dalam keadaan yang masih terkendali. Dalam kondisi terkendali tersebut manusia harus segera kembali men-tidak-padatk-an hatinya.

Supaya mampu mengenali dinamika padat-tidak padat manusia harus mengenal dirinya. Sehingga ia tahu dan paham irama perasaannya. Dengan seperti itu ia benar-benar bisa menjadi pengendali dirinya.

Output kehidupan yang baik dihasilkan dari keseimbangan pergerakan tersebut. Temponya, iramanya, intonasinya harus sejalan dengan keinginan Tuhan dalam mencipta dunia yang sekarang kita tempati.

Manusia dengan anugerah berupa akal tugas terbesar yang tidak pernah selesai juga dalam hal tersebut. Kalau keseimbangan dirinya terjada maka ouput yang keluar dari dirinya adalah keseimbangan juga. 

Yang sedang terjadi adalah suatu keadaan tidak seimbang luar biasa. Sehingga manusia begitu sulit untuk memahami kapan ia melakukan aktivitas pemadatan, kapan melakukan aktivitas pen-tidak-padat-an. 

Para pemuja kepadatan merasa bahwa merekalah yang terbaik. Para pemuja ketidakpadatan merasa bahwa mereka yang terbaik. Padahal bukanlah padat-tidak padat yang penting, tetapi pergerakan, dinamika seimbangan antara padat-tidak padat. Juga bukan pada titik mana pemberhentian terakhir, tetapi upaya tawar menawar yang tidak pernah selesai.

Karena Allah tahu bahwa semakin lama keseimbangan semakin goyah maka Allah memberikan solusi untuk mengatasi hal tersebut dengan membuat agama yang selama ini masih sering disalahpahami.

Komentar