Segala sesuatu bisa bernilai positif juga bisa
bernilai negatif. Tidak pasti yang secara gamblang bernilai positif pada
prosesnya benar-benar bernilai positif. Begitu juga sebaliknya. Misalnya sikap
sombong, kebanyakan manusia pasti memahaminya sebagai suatu sikap negatif dalam
kehidupan. Apalagi diperkuat dengan berbagai data yang menunjukkan bahwa
sombong itu sejalan dengan kehancuran-kehancuran. Tetapi, tidak berarti, pada
posisi tertentu sikap sombong ini bernilai negatif. Kalau kita mempunyai masalah
dan kita sombong kepada si masalah ini akan bernilai positif. Kita bisa merasa
lebih besar dari masalah yang membuat kita bisa menyelesaikannya.
Kita ambil contoh yang lain, misalnya tentang makanan halal. Makanan halal yang dimakan pada porsi tertentu bisa benar-benar bermakna halal, tetapi dalam keadaan tertentu bisa bergeser kehalalannya. Kalau kita makan dengan porsi wajar kemudian di sekitar kita tidak ada yang membutuhkan bantuan makanan maka keadaan makanan tersebut benar-benar halal. Kalau ketika kita makan porsi kita sangat berlebihan, mengakibatkan kekenyangan yang mungkin membuat badan menjadi tidak nyaman kemudian kita mempunyai tetangga yang kekurangan tetapi kita tidak mau berbagi bisa jadi posisi halal makanan tersebut menjadi tidak halal.
Di bulan Ramadlan, puasa pun bisa menjadi bermacam-macam posisinya. Bisa menjadi puasa yang meningkatkan kualitas kemanusiaan. Bisa juga sebaliknya. Semua tergantung bagaimana kita menyikapi puasa kita.
Kalau asumsi dasar kita dalam berpuasa seperti seorang anak kecil menabung dalam sebuah celengan yang ingin segera penuh dan mengambil isinya maka puasa kita ya hanya sebatas menahan dalam rangka melampiaskan. Semakin lama menahan, semakin banyak menahan, semakin besar juga apa yang nanti akan dilampiaskan. Akhirnya puasa dipahami sebatas menahan nafsu di siang hari. Setelah itu bebas-sebebasnya tanpa ada kendali.
Beda lagi kalau puasa dipahami sebagai suatu kewajaran. Dipahami sebagai manajemen kehidupan. Sebagaimana Allah berpuasa untuk tidak marah disaat manusia membangkang. Dengan seperti itu kita menempatkan puasa kita sebagai sebuah pengabdian yang salah satu tujuannya adalah pembelajaran bagi manusia itu sendiri. Dan sangat mungkin, outputnya adalah kualitas kemanusiaan yang meningkat.
Pada akhirnya tergantung diri kita masing-masing. Memilih berpuasa untuk melampiaskan atau berpuasa untuk berpuasa ?
Kita ambil contoh yang lain, misalnya tentang makanan halal. Makanan halal yang dimakan pada porsi tertentu bisa benar-benar bermakna halal, tetapi dalam keadaan tertentu bisa bergeser kehalalannya. Kalau kita makan dengan porsi wajar kemudian di sekitar kita tidak ada yang membutuhkan bantuan makanan maka keadaan makanan tersebut benar-benar halal. Kalau ketika kita makan porsi kita sangat berlebihan, mengakibatkan kekenyangan yang mungkin membuat badan menjadi tidak nyaman kemudian kita mempunyai tetangga yang kekurangan tetapi kita tidak mau berbagi bisa jadi posisi halal makanan tersebut menjadi tidak halal.
Di bulan Ramadlan, puasa pun bisa menjadi bermacam-macam posisinya. Bisa menjadi puasa yang meningkatkan kualitas kemanusiaan. Bisa juga sebaliknya. Semua tergantung bagaimana kita menyikapi puasa kita.
Kalau asumsi dasar kita dalam berpuasa seperti seorang anak kecil menabung dalam sebuah celengan yang ingin segera penuh dan mengambil isinya maka puasa kita ya hanya sebatas menahan dalam rangka melampiaskan. Semakin lama menahan, semakin banyak menahan, semakin besar juga apa yang nanti akan dilampiaskan. Akhirnya puasa dipahami sebatas menahan nafsu di siang hari. Setelah itu bebas-sebebasnya tanpa ada kendali.
Beda lagi kalau puasa dipahami sebagai suatu kewajaran. Dipahami sebagai manajemen kehidupan. Sebagaimana Allah berpuasa untuk tidak marah disaat manusia membangkang. Dengan seperti itu kita menempatkan puasa kita sebagai sebuah pengabdian yang salah satu tujuannya adalah pembelajaran bagi manusia itu sendiri. Dan sangat mungkin, outputnya adalah kualitas kemanusiaan yang meningkat.
Pada akhirnya tergantung diri kita masing-masing. Memilih berpuasa untuk melampiaskan atau berpuasa untuk berpuasa ?
Komentar
Posting Komentar