Langsung ke konten utama

Ternyata Salah Tujuan (Ramadlan 18)

Ketika melihat orang-orang berjubel memenuhi pusat perbelanjaan muncul pertanyaan di benak saya. Sebenarnya yang dicari manusia itu apa dalam hidupnya. Mengapa bisa begitu luar biasanya manusia mencurahkan waktu, energi, harta hanya untuk menuruti perilaku konsumtif. Secara random juga muncul pertanyaan-pertanyaan lain. Apakah yang mereka beli benar-benar mereka butuhkan. Atau hanya sekedar tidak tahu mau memakai uang untuk apa kemudian berbelanja. 

Awalnya, saya geli juga mengapa kok tiba-tiba banyak pertanyaan muncul yang sebenarnya juga tidak penting-penting amat bagi hidup saya. Namun, rentetan pertanyaan tersebut malah membawa saya kepada suatu perenungan pribadi.

Dari berbagai pertanyaan tersebut ada sesuatu hal yang saya dapatkan. Bukan pada kalimat pertanyaannya, bukan pada bentuk pertanyaannya. Yang pasti lebih substansial menurut saya. Jika dibuat sebuah kalimat kiranya seperti ini, ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan manusia saat ini.

Coba bayangkan, dalam keadaan keadaan berpuasa di siang hari ketika terik matahari sedang memuncak panasnya orang-orang rela terjebak kemacetan. Kemudian antre parkir, antre jalan yang tujuannya adalah pusat perbelanjaan.   

Bagi kebanyakan orang, mungkin biasa-biasa saja tetapi bagi saya aneh. Karena saya membuat sebuah perbandingan lain. Manusia itu menyempatkan untuk membaca Al-Qur’an satu ayat saja males. Padahal itu adalah kegiatan yang enteng, tidak menghabiskan tenaga, tidak capek, dan menentramkan hati. Tetapi kok kegiatan yang cenderung capek, menghabiskan banyak tenaga, bikin hati tidak tenang (karena macet, panas) malah dibela-belain untuk dijalani, dilaksanakan. Dicerna dengan logika dasar saja sudah ketahuan kalau perlaku tersebut aneh. 

Dari hal tersebut saya memperoleh catatan. Saya kira manusia benar-benar mengalami kebingungan masal yang luar biasa perihal tujuan hidup. Mereka menyangka apa yang mereka jalani adalah yang mereka cari. Padahal sama sekali tidak. Mereka menyangka apa yang mereka intensifi, dedikasikan dalam kehidupan adalah tujuan sejati, ternyata bukan. Sehingga, hidup menjadi penuh pengorbanan kosong. Sudah capek-capek melakukan ini, itu ternyata salah tujuan.

Komentar