Langsung ke konten utama

Postingan

Mencari Sesuap Nasi (Perenungan Idul Fitri 3)

Kalau engkau seorang ayah, ibu muda yang sedang giat-giatnya bekerja apakah kalimat yang tepat untuk mewakili perjuangan hidupmu. Apakah untuk mencari sesuap nasi, atau yang lebih to the point untuk menafkahi keluarga, atau demi anak saya rela melakukan apa saja   (dalam arti positif). Kalau perjuangan hidupmu tersebut diijabah oleh Allah kemudian Allah melimpahkan rizki berlimpah sehingga istri dan anak, atau suami dan anak bisa makan tiga kali sehari atau mungkin lebih, tabungan lebih dari cukup, bisa membangun rumah, bisa membeli kendaraan yang pantas atau mungkin mewah, bisa umroh dan mengumrohkan orang tua, bisa berbagi dengan sanak saudara apakah kalimat yang bisa mewakili perjuangan hidupmu. Apakah masih untuk mencari sesuap nasi, atau yang lebih to the point untuk menafkahi keluarga, atau demi anak saya rela melakukan apa saja (dalam arti positif). Kalau dalam posisi rizki melimpah tersebut tiba-tiba ada sesuatu yang berubah dalam perasaanmu, entah itu merasa menjadi o...

Balas Dendam Di Surga (Perenungan Idul Fitri 2)

Salah satu yang menghiasi suasana idul fitri adalah melankoli maaf-maafan. Orang menjadi sadar akan kesalahannya kepada orang lain, sehingga tak perlu sungkan lagi apabila harus menangis. Setelah terjadi adegan tersebut, rasa-rasanya terasa lega. Dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol yang terkadang bisa membuat lupa kalau baru saja saling memaafkan. Hal tersebut berlanjut tidak hanya secara personal saja, tetapi secara massal. Acara halal bi halal terus saja ada berurutan dari hari ke hari. Dimanapun tempatnya. Di rumah makan, di rumah tinggal, di hotel, di gedung-gedung. Kebersamaan yang terasa ketika idul fitri tidak hanya berhenti sampai di situ. Ada lagi satu hal yang kurang menarik jika tidak dilaksanakan. Mengunjungi tempat wisata. Entah itu rombongan keluarga, masyarakat, atau apa pun itu moment lebaran adalah moment yang rasa-rasanya kurang mantap kalau tidak dilalui untuk berwisata.       Kuliner juga tidak kalah populernya pada moment lebaran ini. Entah it...

Latah Budaya atau Sungguh-sungguh Kepada Tuhan (Perenungan Idul Fitri 1)

Kalau kita mendengar suara Takbir apa yang ada di dalam pikiran kita. Ingat makna sejati dari kata pertama (Allah), kata kedua (Akbar), atau gabungan antara keduanya, atau ingat gegap gempita hari raya, atau musik perayaan gema takbir, atau kostum-kostum festival takbir, atau saudara-saudara jauh yang mudik, atau pakaian-pakaian baru, atau biasa saja, tidak ada yang istimewa.     Semalam suntuk, suara tersebut kita lantunkan. Paginya sebelum shalat idul fitri kita lantunkan. Namun, posisinya lebih serius mana, berbicara kotor, mengumpat karena kaki kesandung atau ketika melantunkan gema takbir dengan suara merdu tersebut. Lebih kita jiwai yang mana umpatan kita ketika sakit hati atau takbir kita di perayaan hari raya. Entah apa yang kita ingat, entah apa yang kita maknai, entah apa yang kita intensifi, entah apa yang kita seriusi, bangsa ini memang telah ditakdirkan dengan kemampuan untuk menciptakan keindahan-keindahan. Budaya keberagamaannya adalah salah satu bukti n...

Bermasalah atau Tidak (Ramadlan 29)

Akhir Ramadlan adalah masa dimana kita menunggu hasil dari apa yang kita lakukan selama bulan Ramadlan. Apakah puasa sebatas menahan untuk kemudian bisa melampiaskan. Ataukah puasa sebagai pendidikan untuk mengendalikan. Apakah ibadah hanya sebatas hingar bingar, atau pengumpulan laba pribadi berupa pahala, ataukah suatu bukti nyata pengabdian cinta kepada-Nya. Minimal yang ditunggu-tunggu adalah apa yang terjadi dalam diri kita. Kalau yang terjadi di luar diri kita kiranya sudah bisa diprediksi. Misalnya, membludaknya tempat pariwisata, pesta kuliner, yang semuanya adalah aktivitas melampiaskan. Shalat dzuhur diabaikan karena sedang asyik main air di pantai, tanpa ingat, dulu ketika bulan Ramadlan begitu rajinnya ia shalat tarawih. Tanpa ingat, bahwa ia bangga karena sudah puasa satu bulan penuh.  Dari hal tersebut, kelihatannya terima kasihnya manusia kepada Allah adalah karena sudah memberikan moment-moment tertentu yang bisa dimanfaatkan untuk mengunggulkan ego-ego pribad...

GR dan Demi Sesuap Nasi (Ramadlan 28)

Selama hidupnya manusia dihinggapi rasa GR (gede rasa, terlalu percaya diri) yang luar biasa. Dia pikir sesuap nasi yang ia masukkan ke dalam perut adalah hasil jerih payahnya. Padahal kalau saja Tuhan tidak menggerakkan jantungnya, mana mungkin ia bisa menikmati sesuap nasi tersebut. Rasa GR ini bisa sampai meremehkan Tuhan. Dia meremehkan Tuhan kalau-kalau Tuhan tidak bertanggung jawab atas penciptaan manusia. Sehingga mayoritas manusia menjadikan dalih “demi sesuap nasi” untuk melakukan penyelewengan-penyelewengan, penghancuran-penghancuran bangunan kemanusiaan. Dari artis artifisial sampai koruptor menjadikan dalih “demi sesuap nasi” sebagai alasan utama untuk memuja dunia, mengumpulkan harta benda, berbangga-bangga menumpuk harta.   Seakan-akan sesuap nasinya di esok hari tak dijamin oleh Tuhan. Seakan-akan perbuatannya pas, sesuai proporsi sehingga menyederhanakannya dengan demi sesuap nasi. Seakan-akan tidak ada akibat berupa penderitaan orang lain akibat dari perbuatan-...

Pasif, Biasa dan Tidak Biasa (Ramadlan 27)

Ramadlan adalah hingar bingar, perayaan-perayaan dan gegap gempita dalam berbagai bidang kehidupan. Serta mentidakbiasakan ibadah sehingga ibadah juga dianggap sebagai hingar bingar, akhirnya di bulan ini orang total beribadah dan di bulan berikutnya belum tahu apakah masih sama atau tidak anggapan kita terhadap ibadah. Paling tidak itulah yang terlihat dari suasana dan nuansa Ramadlan di Negeri ini. Ini bukan permasalahan benar atau tidak, salah atau tidak. Ini hanya sekedar pemantik bagi kita semua untuk sedikit merenungkan apakah memang Ramadlan itu seyogyanya disikapi dengan sikap tidak biasa atau biasa saja. Sikap tidak biasa, biasanya berbanding lurus dengan pencapaian menuju titik puncak. Ia bersifat jangka pendek. Ketika mencapai klimaks maka seketika itu juga ia turun perlahan-lahan dan sangat mungkin akan sampai kepada titik terendahnya. Sikap tidak biasa, biasanya juga berbanding lurus dengan sikap mudah menyenangi sesuatu, mudah kagum akan sesuatu (dalam arti negatif)...

Yang Butuh Kita, Bukan Dia (Ramadlan 26)

Debu adalah penanda waktu yang lebih nyata daripada sekedar pergerakan jarum jam. Karena di dalam debu ada sebuah dialektika antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga di dalam debu ada nilai waktu yang lebih ngeh di hati, tidak kering. Ketika suatu tempat terlihat banyak debunya berarti tempat tersebut jarang didatangi manusia. Ketika tempat tersebut sedikit debunya berarti sering dipakai manusia. Hal tersebut menunjukkan bahwa debu juga bisa diartikan sebagai simbol yang mengingatkan manusia bahwa hidup itu ada wilayah kotornya. Sehingga tugas manusia adalah membersihkan wilayah-wilayah tersebut secara berkala. Itu mutlak. Karena serapat-rapatnya ruangan, apabila tidak pernah dibersihkan pasti akan banyak debunya. Begitu juga dengan manusia, sesuci-sucinya manusia, pasti ada debu-debu yang menempel di dalam dirinya. Manusia juga harus selalu membersihkan dirinya secara berkala. Kalau secara fisik untuk membersihkannya dengan mandi, sehari dua kali misalnya. Kalau un...