Langsung ke konten utama

GR dan Demi Sesuap Nasi (Ramadlan 28)

Selama hidupnya manusia dihinggapi rasa GR (gede rasa, terlalu percaya diri) yang luar biasa. Dia pikir sesuap nasi yang ia masukkan ke dalam perut adalah hasil jerih payahnya. Padahal kalau saja Tuhan tidak menggerakkan jantungnya, mana mungkin ia bisa menikmati sesuap nasi tersebut.

Rasa GR ini bisa sampai meremehkan Tuhan. Dia meremehkan Tuhan kalau-kalau Tuhan tidak bertanggung jawab atas penciptaan manusia. Sehingga mayoritas manusia menjadikan dalih “demi sesuap nasi” untuk melakukan penyelewengan-penyelewengan, penghancuran-penghancuran bangunan kemanusiaan.

Dari artis artifisial sampai koruptor menjadikan dalih “demi sesuap nasi” sebagai alasan utama untuk memuja dunia, mengumpulkan harta benda, berbangga-bangga menumpuk harta.  Seakan-akan sesuap nasinya di esok hari tak dijamin oleh Tuhan. Seakan-akan perbuatannya pas, sesuai proporsi sehingga menyederhanakannya dengan demi sesuap nasi. Seakan-akan tidak ada akibat berupa penderitaan orang lain akibat dari perbuatan-perbuatannya.

GR demi sesuap nasi tidak berhenti sampai di situ saja. Kepercayaan diri manusia benar-benar sudah keterlaluan. Tuhan yang sahamnya seratus persen. Mutlak. Total. Dilecehkan habis-habisan. Sehingga kalau dia memerintahkan sesuatu dengan santainya manusia tidak menggubris. Dari yang wajib, sampai yang tidak wajib tidak dihiraukan manusia. Dengan sombongnya manusia menjawab, “apa manfaatnya kalau saya melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji (bagi yang mampu) toh tanpa shalat saya masih bisa makan, masih bisa cari uang, masih bisa menafkahi anak istri, justru kalau shalat menghambat itu semua?”.

Lho, manusian ini aneh. Katanya penasaran sama Tuhan. Ingin ketemu Tuhan. Ingin melihat Tuhan. Sudah dituntun sama Tuhan malah tidak mau untuk menuju itu semua. Lalu maunya apa manusia ini.

Dengan dinabikannya Lionell Messi, C.Ronaldo, The Beatles, Bill Gates yang kesemuanya bertolok ukur gaji luar biasa, kepemilikan harta melimpah, yang mungkin dianggap wajar ketika bebas melakukan apa saja tanpa batas, sudah terlihat bahwa di hati manusia Tuhan itu tidak penting, menjadi penting kalau sudah dikabulkan doanya untuk mencapai titik kepemilikan seperti mereka-mereka.

Dan Tuhan tetap Maha Rendah Hati. Tidak bergeming atas itu semua. Maka, manusia tetap digerakkan jantungnya, diedarkan sari makanannya, diatur pernapasannya, dipelihara akalnya, diatur jadwal buang air besarnya, dipenuhi sesuap nasinya setiap hari. Tetap total menyayangi manusia.

Tak habis pikir. Kok bisa-bisanya manusia seperti itu. Benar-benar membingungkan.

Komentar