Langsung ke konten utama

Mencari Sesuap Nasi (Perenungan Idul Fitri 3)

Kalau engkau seorang ayah, ibu muda yang sedang giat-giatnya bekerja apakah kalimat yang tepat untuk mewakili perjuangan hidupmu. Apakah untuk mencari sesuap nasi, atau yang lebih to the point untuk menafkahi keluarga, atau demi anak saya rela melakukan apa saja  (dalam arti positif).

Kalau perjuangan hidupmu tersebut diijabah oleh Allah kemudian Allah melimpahkan rizki berlimpah sehingga istri dan anak, atau suami dan anak bisa makan tiga kali sehari atau mungkin lebih, tabungan lebih dari cukup, bisa membangun rumah, bisa membeli kendaraan yang pantas atau mungkin mewah, bisa umroh dan mengumrohkan orang tua, bisa berbagi dengan sanak saudara apakah kalimat yang bisa mewakili perjuangan hidupmu. Apakah masih untuk mencari sesuap nasi, atau yang lebih to the point untuk menafkahi keluarga, atau demi anak saya rela melakukan apa saja (dalam arti positif).

Kalau dalam posisi rizki melimpah tersebut tiba-tiba ada sesuatu yang berubah dalam perasaanmu, entah itu merasa menjadi orang sukses atau merasa menjadi orang berhasil sehingga muncul suatu penyakit cinta dunia yang membuatmu bangga atas kepemilikan rumah, kendaraan, benda-benda mewah yang sangat mudah engkau beli sehingga engkau mulai ketagihan untuk menjadi penikmat barang-barang tersebut yang membuatmu maniak dalam melakukan tindakan konsumtif dengan cara ingin selalu membeli yang terlihat wah,  kemudian rasa percaya dirimu dalam kehiduan sosial meningkat, engkau merasa khawatir atau tidak dengan dirimu. Atau malah engkau merasa bahagia dengan posisimu yang seperti itu.

Lalu, jika seluruh kekayaan harta sudah ada dalam genggamanmu, gengsi sosial sudah engkau miliki, semua orang menghormatimu, engkau menjadi inspirasi yang terbaik bagi masyarakat, kalau lebaran ketika berkumpul dengan keluarga engkau engkau dipuji-puji oleh keluarga besarmu tidak khawatirkah engkau dengan dirimu. Kemudian, apakah kalimat “untuk mencari sesuap nasi”, “untuk menafkahi keluarga”, “demi anak apa saja rela aku lakuan” masih engkau pakai untuk memotivasi dirimu, untuk terus menambah dan memperparah penyakit cinta dunia yang diam-diam sudah engkau idap sejak lama.

Komentar