Salah satu yang menghiasi suasana idul fitri adalah
melankoli maaf-maafan. Orang menjadi sadar akan kesalahannya kepada orang lain,
sehingga tak perlu sungkan lagi apabila harus menangis. Setelah terjadi adegan
tersebut, rasa-rasanya terasa lega. Dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol yang
terkadang bisa membuat lupa kalau baru saja saling memaafkan.
Hal tersebut berlanjut tidak hanya secara personal saja, tetapi secara massal. Acara halal bi halal terus saja ada berurutan dari hari ke hari. Dimanapun tempatnya. Di rumah makan, di rumah tinggal, di hotel, di gedung-gedung.
Kebersamaan yang terasa ketika idul fitri tidak hanya berhenti sampai di situ. Ada lagi satu hal yang kurang menarik jika tidak dilaksanakan. Mengunjungi tempat wisata. Entah itu rombongan keluarga, masyarakat, atau apa pun itu moment lebaran adalah moment yang rasa-rasanya kurang mantap kalau tidak dilalui untuk berwisata.
Hal tersebut berlanjut tidak hanya secara personal saja, tetapi secara massal. Acara halal bi halal terus saja ada berurutan dari hari ke hari. Dimanapun tempatnya. Di rumah makan, di rumah tinggal, di hotel, di gedung-gedung.
Kebersamaan yang terasa ketika idul fitri tidak hanya berhenti sampai di situ. Ada lagi satu hal yang kurang menarik jika tidak dilaksanakan. Mengunjungi tempat wisata. Entah itu rombongan keluarga, masyarakat, atau apa pun itu moment lebaran adalah moment yang rasa-rasanya kurang mantap kalau tidak dilalui untuk berwisata.
Kuliner
juga tidak kalah populernya pada moment lebaran ini. Entah itu yang ada di
dalam rumah atau kegiatan berburu kuliner menjadi sesuatu yang begitu diminati.
Hal
lain yang juga menojol setelah idul fitri adalah euforia beribadah yang menurun
drastis. Berangsur-angsur masjid menjadi tidak favorit lagi. Berubah seratus
delapan puluh derajat. Seakan-akan masjid menjadi sesuatu yang terlupakan.
Jika
kita kalkulasi, ternyata kegiatan melampiaskan lebih banyak mendominasi dari
pada kegiatan menahan diri. Ditambah lagi, sesuatu yang seharusnya menjadi
pegangan dalam urusan mengendalikan diri seperti ibadah malah diabaikan. “Sudah
tidak bulan puasa kok, jadi bebas”, kata mereka dalam hati.
Keadaan-keadaan
tersebut menandakan bahwa dalam waktu singkat, setelah kegiatan pelatihan
menahan diri, mengendalikan diri dalam berbagai kehidupan kita jalani di bulan
Ramadlan arus pelampiasan begitu kuat mengelilingi diri kita. Mungkin, bisa
jadi ini adalah cerminan dari penyikapan kita terhadap bulan Ramadlan. Mungkin
ketika bulan Ramadlan kita hanya menahan untuk sekedar supaya bisa
melampiaskan. Yang secara lebih luas bisa bermakna, bisa jadi dalam hati kecil
kita, segala ibadah, kebaikan, hal-hal yang bersifat menahan diri selama di
dunia, jangan-jangan tujuannya hanya supaya besok bisa balas dendam di surga.
Karena di dunia tidak bisa melakukan ini kalau besok masuk surga bebas.
Lalu
dimana letak Allah. Jangan-jangan selama ini Allah tidak begitu penting dalam
diri kita, yang penting adalah keinginan-keinginan kita. Yang bisa saja, kuat
untuk tidak dilampiaskan selama hidup di dunia supaya bisa dilampiaskan
besok-besok di surga. Supaya balas dendam di Surga.
Komentar
Posting Komentar