Langsung ke konten utama

Balas Dendam Di Surga (Perenungan Idul Fitri 2)

Salah satu yang menghiasi suasana idul fitri adalah melankoli maaf-maafan. Orang menjadi sadar akan kesalahannya kepada orang lain, sehingga tak perlu sungkan lagi apabila harus menangis. Setelah terjadi adegan tersebut, rasa-rasanya terasa lega. Dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol yang terkadang bisa membuat lupa kalau baru saja saling memaafkan.

Hal tersebut berlanjut tidak hanya secara personal saja, tetapi secara massal. Acara halal bi halal terus saja ada berurutan dari hari ke hari. Dimanapun tempatnya. Di rumah makan, di rumah tinggal, di hotel, di gedung-gedung.

Kebersamaan yang terasa ketika idul fitri tidak hanya berhenti sampai di situ. Ada lagi satu hal yang kurang menarik jika tidak dilaksanakan. Mengunjungi tempat wisata. Entah itu rombongan keluarga, masyarakat, atau apa pun itu moment lebaran adalah moment yang rasa-rasanya kurang mantap kalau tidak dilalui untuk berwisata.   
 
Kuliner juga tidak kalah populernya pada moment lebaran ini. Entah itu yang ada di dalam rumah atau kegiatan berburu kuliner menjadi sesuatu yang begitu diminati.

Hal lain yang juga menojol setelah idul fitri adalah euforia beribadah yang menurun drastis. Berangsur-angsur masjid menjadi tidak favorit lagi. Berubah seratus delapan puluh derajat. Seakan-akan masjid menjadi sesuatu yang terlupakan.

Jika kita kalkulasi, ternyata kegiatan melampiaskan lebih banyak mendominasi dari pada kegiatan menahan diri. Ditambah lagi, sesuatu yang seharusnya menjadi pegangan dalam urusan mengendalikan diri seperti ibadah malah diabaikan. “Sudah tidak bulan puasa kok, jadi bebas”, kata mereka dalam hati.

Keadaan-keadaan tersebut menandakan bahwa dalam waktu singkat, setelah kegiatan pelatihan menahan diri, mengendalikan diri dalam berbagai kehidupan kita jalani di bulan Ramadlan arus pelampiasan begitu kuat mengelilingi diri kita. Mungkin, bisa jadi ini adalah cerminan dari penyikapan kita terhadap bulan Ramadlan. Mungkin ketika bulan Ramadlan kita hanya menahan untuk sekedar supaya bisa melampiaskan. Yang secara lebih luas bisa bermakna, bisa jadi dalam hati kecil kita, segala ibadah, kebaikan, hal-hal yang bersifat menahan diri selama di dunia, jangan-jangan tujuannya hanya supaya besok bisa balas dendam di surga. Karena di dunia tidak bisa melakukan ini kalau besok masuk surga bebas.

Lalu dimana letak Allah. Jangan-jangan selama ini Allah tidak begitu penting dalam diri kita, yang penting adalah keinginan-keinginan kita. Yang bisa saja, kuat untuk tidak dilampiaskan selama hidup di dunia supaya bisa dilampiaskan besok-besok di surga. Supaya balas dendam di Surga.  

Komentar