Ramadlan adalah hingar bingar, perayaan-perayaan dan
gegap gempita dalam berbagai bidang kehidupan. Serta mentidakbiasakan ibadah
sehingga ibadah juga dianggap sebagai hingar bingar, akhirnya di bulan ini
orang total beribadah dan di bulan berikutnya belum tahu apakah masih sama atau
tidak anggapan kita terhadap ibadah. Paling tidak itulah yang terlihat dari
suasana dan nuansa Ramadlan di Negeri ini.
Ini bukan permasalahan benar atau tidak, salah atau tidak. Ini hanya sekedar pemantik bagi kita semua untuk sedikit merenungkan apakah memang Ramadlan itu seyogyanya disikapi dengan sikap tidak biasa atau biasa saja.
Sikap tidak biasa, biasanya berbanding lurus dengan pencapaian menuju titik puncak. Ia bersifat jangka pendek. Ketika mencapai klimaks maka seketika itu juga ia turun perlahan-lahan dan sangat mungkin akan sampai kepada titik terendahnya.
Sikap tidak biasa, biasanya juga berbanding lurus dengan sikap mudah menyenangi sesuatu, mudah kagum akan sesuatu (dalam arti negatif), mudah tergiur (kepincut/kepincrut kalau istilah jawanya), latah sosial, latah budaya. Hal-hal tersebut, semenjak pertama kali diciptakan manusia merupakan permasalahan utama manusia dalam kehidupannya. Salah satu faktor yang membawa manusia kepada hidup yang keluar dari jalur shirothol mustaqim (jalan-Nya Allah yang tidak pasti lurus).
Sikap biasa, biasanya berbanding lurus dengan sesuatu yang bersifat landai, on tempo kalau memakai istilah musik, konsisten, suatu upaya menjaga detak jantung supaya tidak terlalu cepat tidak terlalu lambat. Out put yang ditimbulkan dari sikap ini, biasanya tidak terburu-buru (bukan malas), mampu berpikir secara jernih sehingga akal dapat berfungsi secara maksimal.
Ada yang lebih rendah gradenya secara kuantitatif dari sikap biasa. Saya pakai idiom pasif saja. Pasif ini bukan tidak biasa, bukan biasa. Pasif cenderung kepada semangat hidup yang kurang. Gairah yang ogah-ogahan. Kasarannya, yang penting bisa makan, tidur dan buang air besar sudah cukup.
Seorang Kekasih-Nya, Baginda Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa umat Islam adalah umat yang ada di tengah-tengah. Melalui referensi tersebut, silahkan dipertimbangkan sendiri bagaiamana seharusnya umat Islam dalam mengambil sikap dalam berbagai bidang kehidupan. Termasuk di bulan Ramadlan, bagiamana baiknya menyikapi bulan Ramadlan. Saya kira dalam kurun waktu yang cukup lama semenjak kalimat Iqra’ disampaikan beliau umat Islam telah mencapai kematangan dan kedewasaan dalam memutuskan sesuatu. Sehingga mohon maaf, kalau tulisan ini agak bersifat mubadzir. Hanya sebatas upaya saya saja untuk mencoba beritikad baik. Terima kasih.
Ini bukan permasalahan benar atau tidak, salah atau tidak. Ini hanya sekedar pemantik bagi kita semua untuk sedikit merenungkan apakah memang Ramadlan itu seyogyanya disikapi dengan sikap tidak biasa atau biasa saja.
Sikap tidak biasa, biasanya berbanding lurus dengan pencapaian menuju titik puncak. Ia bersifat jangka pendek. Ketika mencapai klimaks maka seketika itu juga ia turun perlahan-lahan dan sangat mungkin akan sampai kepada titik terendahnya.
Sikap tidak biasa, biasanya juga berbanding lurus dengan sikap mudah menyenangi sesuatu, mudah kagum akan sesuatu (dalam arti negatif), mudah tergiur (kepincut/kepincrut kalau istilah jawanya), latah sosial, latah budaya. Hal-hal tersebut, semenjak pertama kali diciptakan manusia merupakan permasalahan utama manusia dalam kehidupannya. Salah satu faktor yang membawa manusia kepada hidup yang keluar dari jalur shirothol mustaqim (jalan-Nya Allah yang tidak pasti lurus).
Sikap biasa, biasanya berbanding lurus dengan sesuatu yang bersifat landai, on tempo kalau memakai istilah musik, konsisten, suatu upaya menjaga detak jantung supaya tidak terlalu cepat tidak terlalu lambat. Out put yang ditimbulkan dari sikap ini, biasanya tidak terburu-buru (bukan malas), mampu berpikir secara jernih sehingga akal dapat berfungsi secara maksimal.
Ada yang lebih rendah gradenya secara kuantitatif dari sikap biasa. Saya pakai idiom pasif saja. Pasif ini bukan tidak biasa, bukan biasa. Pasif cenderung kepada semangat hidup yang kurang. Gairah yang ogah-ogahan. Kasarannya, yang penting bisa makan, tidur dan buang air besar sudah cukup.
Seorang Kekasih-Nya, Baginda Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa umat Islam adalah umat yang ada di tengah-tengah. Melalui referensi tersebut, silahkan dipertimbangkan sendiri bagaiamana seharusnya umat Islam dalam mengambil sikap dalam berbagai bidang kehidupan. Termasuk di bulan Ramadlan, bagiamana baiknya menyikapi bulan Ramadlan. Saya kira dalam kurun waktu yang cukup lama semenjak kalimat Iqra’ disampaikan beliau umat Islam telah mencapai kematangan dan kedewasaan dalam memutuskan sesuatu. Sehingga mohon maaf, kalau tulisan ini agak bersifat mubadzir. Hanya sebatas upaya saya saja untuk mencoba beritikad baik. Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar