Debu adalah penanda waktu yang lebih nyata daripada
sekedar pergerakan jarum jam. Karena di dalam debu ada sebuah dialektika antara
manusia dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga di dalam debu ada nilai waktu
yang lebih ngeh di hati, tidak
kering. Ketika suatu tempat terlihat banyak debunya berarti tempat tersebut
jarang didatangi manusia. Ketika tempat tersebut sedikit debunya berarti sering
dipakai manusia.
Hal tersebut menunjukkan bahwa debu juga bisa diartikan sebagai simbol yang mengingatkan manusia bahwa hidup itu ada wilayah kotornya. Sehingga tugas manusia adalah membersihkan wilayah-wilayah tersebut secara berkala.
Itu mutlak. Karena serapat-rapatnya ruangan, apabila tidak pernah dibersihkan pasti akan banyak debunya. Begitu juga dengan manusia, sesuci-sucinya manusia, pasti ada debu-debu yang menempel di dalam dirinya. Manusia juga harus selalu membersihkan dirinya secara berkala.
Kalau secara fisik untuk membersihkannya dengan mandi, sehari dua kali misalnya. Kalau untuk rohani, untuk sehari dengan shalat lima kali, dalam satu minggu ada shalat jum’at, dalam satu tahun ada puasa ramadlan, juga ada haji (bagi yang mampu dan sudah sampai di antriannya, yang katanya satu orang ngantrinya bisa sampai dua puluh tahun).
Allah sudah bermurah hati lebih dari cukup. Kalaupun tidak ada perintah-perintah wajib itu sebenarnya dengan hati nurani dan akal sehat saja manusia bisa agak lurus jalannnya. Tetapi Allah benar-benar memaklumi kelemahan manusia. Sehingga dipaksa-paksa supaya baik. Dia tidak tega jika manusia celaka karena perbuatannya sendiri. Dia begitu cinta dan sayang kepada manusia.
Hal tersebut menunjukkan bahwa debu juga bisa diartikan sebagai simbol yang mengingatkan manusia bahwa hidup itu ada wilayah kotornya. Sehingga tugas manusia adalah membersihkan wilayah-wilayah tersebut secara berkala.
Itu mutlak. Karena serapat-rapatnya ruangan, apabila tidak pernah dibersihkan pasti akan banyak debunya. Begitu juga dengan manusia, sesuci-sucinya manusia, pasti ada debu-debu yang menempel di dalam dirinya. Manusia juga harus selalu membersihkan dirinya secara berkala.
Kalau secara fisik untuk membersihkannya dengan mandi, sehari dua kali misalnya. Kalau untuk rohani, untuk sehari dengan shalat lima kali, dalam satu minggu ada shalat jum’at, dalam satu tahun ada puasa ramadlan, juga ada haji (bagi yang mampu dan sudah sampai di antriannya, yang katanya satu orang ngantrinya bisa sampai dua puluh tahun).
Allah sudah bermurah hati lebih dari cukup. Kalaupun tidak ada perintah-perintah wajib itu sebenarnya dengan hati nurani dan akal sehat saja manusia bisa agak lurus jalannnya. Tetapi Allah benar-benar memaklumi kelemahan manusia. Sehingga dipaksa-paksa supaya baik. Dia tidak tega jika manusia celaka karena perbuatannya sendiri. Dia begitu cinta dan sayang kepada manusia.
Namun,
kita tahu, sering kali itu semua disalahpahami sebagai beban kehidupan.
Dibayangkan sebagai tugas yang memberatkan. Dipahami kalau yang butuh adalah
Dia. Padahal terbalik. Itu adalah kenikmatan, bukan beban. Itu sangat
meringankan, tidak berat. Itu yang butuh kita bukan Dia.
Maka,
sesungguhnya kalau kita biasa saja jika tidak menaati perintahnya, merasa berat
melaksanakannya, curiga yang macam-macam kepada Allah karena ritual tersebut,
bisa jadi Allah mencabut kenikmatan luar biasa yang diberikan kepada kita. Bisa
jadi juga hal tersebut adalah langkah awal kita akan disesatkan. Yang terakhir
ini, na’udzubillah.
Komentar
Posting Komentar