Langsung ke konten utama

Bermasalah atau Tidak (Ramadlan 29)

Akhir Ramadlan adalah masa dimana kita menunggu hasil dari apa yang kita lakukan selama bulan Ramadlan. Apakah puasa sebatas menahan untuk kemudian bisa melampiaskan. Ataukah puasa sebagai pendidikan untuk mengendalikan. Apakah ibadah hanya sebatas hingar bingar, atau pengumpulan laba pribadi berupa pahala, ataukah suatu bukti nyata pengabdian cinta kepada-Nya.

Minimal yang ditunggu-tunggu adalah apa yang terjadi dalam diri kita. Kalau yang terjadi di luar diri kita kiranya sudah bisa diprediksi. Misalnya, membludaknya tempat pariwisata, pesta kuliner, yang semuanya adalah aktivitas melampiaskan. Shalat dzuhur diabaikan karena sedang asyik main air di pantai, tanpa ingat, dulu ketika bulan Ramadlan begitu rajinnya ia shalat tarawih. Tanpa ingat, bahwa ia bangga karena sudah puasa satu bulan penuh. 

Dari hal tersebut, kelihatannya terima kasihnya manusia kepada Allah adalah karena sudah memberikan moment-moment tertentu yang bisa dimanfaatkan untuk mengunggulkan ego-ego pribadi bukan terima kasih karena begitu sayang-Nya Allah kepada manusia walaupun manusia sudah melecehkan-Nya habis-habisan.

Rentang kehidupan abadi manusia di-eyeli, dipaido, di-prek-kan, dicueki, diabaikan oleh manusia. Mungkin dalam hatinya bertanya dengan nada sinis, “apa itu hidup abadi ?”, atau “tidak mungkin ada hidup abadi .... ”, lalu ditambahi dan dikuatkan dengan pernyataan, “hidup itu ya sementara, cuma sekali, makanya mumpung masih hidup di dunia mari kita lakukan apa yang kita mau, kita wujudkan keinginan kita, apapun itu, tidak peduli seperti apa caranya, tidak peduli bagaimana akibatnya”.

Disangka setelah ruh dikeluarkan dari jasad urusan selesai, sudah tidak ada lagi ada urusan yang berat sama Allah. Padahal selama kesadaran yang sengaja dipisahkan oleh-Nya, sehingga seakan-akan ada Tuhan dan ciptaan, tidak akan pernah selesai urusan jika belum kembali menyatu. Neraka adalah cara paksa untuk menyatukan kesadaran terpisah itu. Kita tahu apa yang berlangsung melalui jalan paksa pasti menyakitkan. Maka neraka adalah simbol kesakitan, kepanasan, pokoknya simbol segala sesuatu yang tidak enak. Surga adalah suatu pencapaian tertinggi. Dimana sudah tidak ada jarak lagi antara ciptaan dengan pencipta. Tidak perlu lagi ada dua kata itu, ciptaan dan pencipta, yang ada hanyalah Allah Sang Sejati.

Bagi-Nya apa saja yang diputuskan oleh manusia tidak ada masalah, Dia tidak akan terganggu sedikitpun, tidak untung, tidak rugi. Yang punya masalah adalah kita. Silahkan dilihat, dihitung-hitung kembali, dievaluasi, diri kita setelah Bulan Ramadlan ini termasuk yang bermasalah atau tidak.  

Komentar