Akhir Ramadlan adalah masa dimana kita menunggu
hasil dari apa yang kita lakukan selama bulan Ramadlan. Apakah puasa sebatas
menahan untuk kemudian bisa melampiaskan. Ataukah puasa sebagai pendidikan
untuk mengendalikan. Apakah ibadah hanya sebatas hingar bingar, atau
pengumpulan laba pribadi berupa pahala, ataukah suatu bukti nyata pengabdian
cinta kepada-Nya.
Dari
hal tersebut, kelihatannya terima kasihnya manusia kepada Allah adalah karena
sudah memberikan moment-moment tertentu yang bisa dimanfaatkan untuk
mengunggulkan ego-ego pribadi bukan terima kasih karena begitu sayang-Nya Allah
kepada manusia walaupun manusia sudah melecehkan-Nya habis-habisan.
Minimal
yang ditunggu-tunggu adalah apa yang terjadi dalam diri kita. Kalau yang
terjadi di luar diri kita kiranya sudah bisa diprediksi. Misalnya, membludaknya
tempat pariwisata, pesta kuliner, yang semuanya adalah aktivitas melampiaskan. Shalat
dzuhur diabaikan karena sedang asyik main air di pantai, tanpa ingat, dulu ketika
bulan Ramadlan begitu rajinnya ia shalat tarawih. Tanpa ingat, bahwa ia bangga
karena sudah puasa satu bulan penuh.
Rentang
kehidupan abadi manusia di-eyeli, dipaido, di-prek-kan, dicueki, diabaikan oleh manusia. Mungkin dalam hatinya
bertanya dengan nada sinis, “apa itu hidup abadi ?”, atau “tidak mungkin ada
hidup abadi .... ”, lalu ditambahi dan dikuatkan dengan pernyataan, “hidup itu
ya sementara, cuma sekali, makanya mumpung masih hidup di dunia mari kita
lakukan apa yang kita mau, kita wujudkan keinginan kita, apapun itu, tidak
peduli seperti apa caranya, tidak peduli bagaimana akibatnya”.
Disangka setelah ruh dikeluarkan dari jasad urusan selesai, sudah tidak ada lagi ada urusan yang berat sama Allah. Padahal selama kesadaran yang sengaja dipisahkan oleh-Nya, sehingga seakan-akan ada Tuhan dan ciptaan, tidak akan pernah selesai urusan jika belum kembali menyatu. Neraka adalah cara paksa untuk menyatukan kesadaran terpisah itu. Kita tahu apa yang berlangsung melalui jalan paksa pasti menyakitkan. Maka neraka adalah simbol kesakitan, kepanasan, pokoknya simbol segala sesuatu yang tidak enak. Surga adalah suatu pencapaian tertinggi. Dimana sudah tidak ada jarak lagi antara ciptaan dengan pencipta. Tidak perlu lagi ada dua kata itu, ciptaan dan pencipta, yang ada hanyalah Allah Sang Sejati.
Bagi-Nya apa saja yang diputuskan oleh manusia tidak ada masalah, Dia tidak akan terganggu sedikitpun, tidak untung, tidak rugi. Yang punya masalah adalah kita. Silahkan dilihat, dihitung-hitung kembali, dievaluasi, diri kita setelah Bulan Ramadlan ini termasuk yang bermasalah atau tidak.
Disangka setelah ruh dikeluarkan dari jasad urusan selesai, sudah tidak ada lagi ada urusan yang berat sama Allah. Padahal selama kesadaran yang sengaja dipisahkan oleh-Nya, sehingga seakan-akan ada Tuhan dan ciptaan, tidak akan pernah selesai urusan jika belum kembali menyatu. Neraka adalah cara paksa untuk menyatukan kesadaran terpisah itu. Kita tahu apa yang berlangsung melalui jalan paksa pasti menyakitkan. Maka neraka adalah simbol kesakitan, kepanasan, pokoknya simbol segala sesuatu yang tidak enak. Surga adalah suatu pencapaian tertinggi. Dimana sudah tidak ada jarak lagi antara ciptaan dengan pencipta. Tidak perlu lagi ada dua kata itu, ciptaan dan pencipta, yang ada hanyalah Allah Sang Sejati.
Bagi-Nya apa saja yang diputuskan oleh manusia tidak ada masalah, Dia tidak akan terganggu sedikitpun, tidak untung, tidak rugi. Yang punya masalah adalah kita. Silahkan dilihat, dihitung-hitung kembali, dievaluasi, diri kita setelah Bulan Ramadlan ini termasuk yang bermasalah atau tidak.
Komentar
Posting Komentar