Langsung ke konten utama

Latah Budaya atau Sungguh-sungguh Kepada Tuhan (Perenungan Idul Fitri 1)

Kalau kita mendengar suara Takbir apa yang ada di dalam pikiran kita. Ingat makna sejati dari kata pertama (Allah), kata kedua (Akbar), atau gabungan antara keduanya, atau ingat gegap gempita hari raya, atau musik perayaan gema takbir, atau kostum-kostum festival takbir, atau saudara-saudara jauh yang mudik, atau pakaian-pakaian baru, atau biasa saja, tidak ada yang istimewa.  
 
Semalam suntuk, suara tersebut kita lantunkan. Paginya sebelum shalat idul fitri kita lantunkan. Namun, posisinya lebih serius mana, berbicara kotor, mengumpat karena kaki kesandung atau ketika melantunkan gema takbir dengan suara merdu tersebut. Lebih kita jiwai yang mana umpatan kita ketika sakit hati atau takbir kita di perayaan hari raya.

Entah apa yang kita ingat, entah apa yang kita maknai, entah apa yang kita intensifi, entah apa yang kita seriusi, bangsa ini memang telah ditakdirkan dengan kemampuan untuk menciptakan keindahan-keindahan. Budaya keberagamaannya adalah salah satu bukti nyata cara bangsa ini merespon Tuhan dengan sangat indah. Gotong royong menjelang takbir, acara takbiran di masjid atau di jalan-jalan, shalat idul fitri yang dilanjut halal bi halal, acara halal bi halal yang dilaksanakan di hari-hari setelahnya yang jumlahnya tak terkira merupakan suatu bukti akan adanya suatu respon yang indah dari bangsa ini. Yang mungkin tidak dijumpai di bangsa-bangsa lain.

Maka, idul fitri bagi bangsa ini secara kontemplatif bisa bermakna sebagai evaluasi diri atas keterhubungannya dengan Tuhan, Allah SWT. Bersifat sejati atau artifisial ?. Secara ekspresif bisa bermakna suatu kesyukuran luar biasa, karena mungkin tidak ada bangsa yang budayanya begitu indah dalam menginterpretasi petunjuk-petunjuk Allah yang biasa kita sebut sebagai agama.

Idul fitri adalah hari raya yang sesungguhnya bukan hari raya. Karena dipuncak perayaannya, manusia menyatu dengan sangkan paran kehidupannya. Sehingga tidak ada lagi yang perlu dirayakan. Perayaan ada karena ada subyek-subyek yang begitu banyak. Sehingga yang paling dielu-elukan adalah keramaiannya itu sendiri bukan esensinya. Idul fitri ada sebagai titik pengingat akan sangkan paran, kemenyatuan, tauhid, la ilaha illallah muhammadurrasulullah, inna lillahi wa inna ilai ro ji’un. Kemenyatuan adalah puncaknya perayaannya. Yang paling ramai dari yang ter-ramai, sekaligus yang paling sepi dari yang ter-sepi. Yang akhirnya kata ramai dan sepi itu sendiri tidak ada.  
 
Pada posisi apakah idul fitri kita ? Jasmaniah atau rohaniah ? Material atau essensial ? Menyatu atau pisah terpecah-pecah ? Latah budaya atau sungguh-sungguh kepada Tuhan ?

Komentar