Kalau kita mendengar suara Takbir apa yang ada di
dalam pikiran kita. Ingat makna sejati dari kata pertama (Allah), kata kedua
(Akbar), atau gabungan antara keduanya, atau ingat gegap gempita hari raya,
atau musik perayaan gema takbir, atau kostum-kostum festival takbir, atau
saudara-saudara jauh yang mudik, atau pakaian-pakaian baru, atau biasa saja,
tidak ada yang istimewa.
Entah
apa yang kita ingat, entah apa yang kita maknai, entah apa yang kita intensifi,
entah apa yang kita seriusi, bangsa ini memang telah ditakdirkan dengan
kemampuan untuk menciptakan keindahan-keindahan. Budaya keberagamaannya adalah
salah satu bukti nyata cara bangsa ini merespon Tuhan dengan sangat indah. Gotong
royong menjelang takbir, acara takbiran di masjid atau di jalan-jalan, shalat
idul fitri yang dilanjut halal bi halal, acara halal bi halal yang dilaksanakan
di hari-hari setelahnya yang jumlahnya tak terkira merupakan suatu bukti akan
adanya suatu respon yang indah dari bangsa ini. Yang mungkin tidak dijumpai di
bangsa-bangsa lain.
Maka, idul fitri bagi bangsa ini secara kontemplatif bisa bermakna sebagai evaluasi diri atas keterhubungannya dengan Tuhan, Allah SWT. Bersifat sejati atau artifisial ?. Secara ekspresif bisa bermakna suatu kesyukuran luar biasa, karena mungkin tidak ada bangsa yang budayanya begitu indah dalam menginterpretasi petunjuk-petunjuk Allah yang biasa kita sebut sebagai agama.
Idul fitri adalah hari raya yang sesungguhnya bukan hari raya. Karena dipuncak perayaannya, manusia menyatu dengan sangkan paran kehidupannya. Sehingga tidak ada lagi yang perlu dirayakan. Perayaan ada karena ada subyek-subyek yang begitu banyak. Sehingga yang paling dielu-elukan adalah keramaiannya itu sendiri bukan esensinya. Idul fitri ada sebagai titik pengingat akan sangkan paran, kemenyatuan, tauhid, la ilaha illallah muhammadurrasulullah, inna lillahi wa inna ilai ro ji’un. Kemenyatuan adalah puncaknya perayaannya. Yang paling ramai dari yang ter-ramai, sekaligus yang paling sepi dari yang ter-sepi. Yang akhirnya kata ramai dan sepi itu sendiri tidak ada.
Semalam
suntuk, suara tersebut kita lantunkan. Paginya sebelum shalat idul fitri kita
lantunkan. Namun, posisinya lebih serius mana, berbicara kotor, mengumpat
karena kaki kesandung atau ketika melantunkan gema takbir dengan suara merdu
tersebut. Lebih kita jiwai yang mana umpatan kita ketika sakit hati atau takbir
kita di perayaan hari raya.
Maka, idul fitri bagi bangsa ini secara kontemplatif bisa bermakna sebagai evaluasi diri atas keterhubungannya dengan Tuhan, Allah SWT. Bersifat sejati atau artifisial ?. Secara ekspresif bisa bermakna suatu kesyukuran luar biasa, karena mungkin tidak ada bangsa yang budayanya begitu indah dalam menginterpretasi petunjuk-petunjuk Allah yang biasa kita sebut sebagai agama.
Idul fitri adalah hari raya yang sesungguhnya bukan hari raya. Karena dipuncak perayaannya, manusia menyatu dengan sangkan paran kehidupannya. Sehingga tidak ada lagi yang perlu dirayakan. Perayaan ada karena ada subyek-subyek yang begitu banyak. Sehingga yang paling dielu-elukan adalah keramaiannya itu sendiri bukan esensinya. Idul fitri ada sebagai titik pengingat akan sangkan paran, kemenyatuan, tauhid, la ilaha illallah muhammadurrasulullah, inna lillahi wa inna ilai ro ji’un. Kemenyatuan adalah puncaknya perayaannya. Yang paling ramai dari yang ter-ramai, sekaligus yang paling sepi dari yang ter-sepi. Yang akhirnya kata ramai dan sepi itu sendiri tidak ada.
Pada
posisi apakah idul fitri kita ? Jasmaniah atau rohaniah ? Material atau
essensial ? Menyatu atau pisah terpecah-pecah ? Latah budaya atau
sungguh-sungguh kepada Tuhan ?
Komentar
Posting Komentar