Langsung ke konten utama

Postingan

Mugo-mugo Iso Dadi Uwong Le ..... (Semoga Bisa Menjadi Orang Nak .....) (Perenungan Idul Fitri 5)

Bagi manusia yang berusaha menjadi manusia kelihatannya berbagai pola, cara, suasana dan nuansa kehidupan yang disepakati oleh mayoritas manusia saat ini semakin bikin tidak betah. Apalagi bagi yang berusaha menjadi hamba Allah. Apalagi bagi yang berusaha menjadi wakil Allah di bumi sebagai pengelola kehidupan. Sangat-sangat sulit, seakan – akan mendaki tangga sangat panjang yang tak kunjung pernah tahun ujungnya dimana. Sejenak ambillah jarak dengan kehidupanmu. Tanggalkan identitas yang menempel dalam dirimu. Tanggalkan berbagai reputasi yang disematkan masyarakat dalam dirimu. Jadilah manusia, kemudian lihat di sekelilingmu. Lihatlah berita di televis, di internet. Engkau akan menemui bahwa manusia semakin tidak menjadi manusia. Mereka adalah keinginan-keinginan, syahwat-syahwat, nafsu-nafsu yang mereka tempelkan pada dirinya. Celakanya adalah apa yang mereka yakini harus juga diyakini orang lain. Sehingga, orang tua-tua (bukan sepuh, karena sepuh tidak sama dengan tua secara ...

Benturan Kebenaran (Perenungan Idul Fitri 4)

Jika lingkungan sekitarmu terkena efek dari merebaknya materialisme, kapitalisme, industrialisme kemudian keluarga, tetangga, sanak saudara setiap hari membicarakan penumpukan-penumpukan uang, kepemilikan-kepemilikan benda-benda, karir hidup yang materi sentris, membuat klasifikasi hitam putih seperti kaya-miskin, pintar bodoh atau mungkin kafir-muslim sehingga dengan mudah memberikan cap-cap kepada orang-orang dengan klasifikasi tersebut dan engkau mempunyai pengertian berbeda tentang hidup yang berlawanan kutub dengan materialisme, kapitalisme, industrialisme apakah yang akan engkau lakukan, tetap teguh dengan pendirianmu atau terseret arus di lingkungan sekitarmu. Apakah ketidaksetujuan terhadap lingkungan sekitarmu yang membuat dirimu gerah, pusing, tidak betah hidup akan tetap engkau pertahankan. Apa keputusanmu, tetap berusaha bergaul di lingkungan sekitarmu atau menjauhinya. Baiklah, engkau mencoba menahan berbagai benturan perasaan yang membuat hidupmu tidak betah kemudian en...

Mencari Sesuap Nasi (Perenungan Idul Fitri 3)

Kalau engkau seorang ayah, ibu muda yang sedang giat-giatnya bekerja apakah kalimat yang tepat untuk mewakili perjuangan hidupmu. Apakah untuk mencari sesuap nasi, atau yang lebih to the point untuk menafkahi keluarga, atau demi anak saya rela melakukan apa saja   (dalam arti positif). Kalau perjuangan hidupmu tersebut diijabah oleh Allah kemudian Allah melimpahkan rizki berlimpah sehingga istri dan anak, atau suami dan anak bisa makan tiga kali sehari atau mungkin lebih, tabungan lebih dari cukup, bisa membangun rumah, bisa membeli kendaraan yang pantas atau mungkin mewah, bisa umroh dan mengumrohkan orang tua, bisa berbagi dengan sanak saudara apakah kalimat yang bisa mewakili perjuangan hidupmu. Apakah masih untuk mencari sesuap nasi, atau yang lebih to the point untuk menafkahi keluarga, atau demi anak saya rela melakukan apa saja (dalam arti positif). Kalau dalam posisi rizki melimpah tersebut tiba-tiba ada sesuatu yang berubah dalam perasaanmu, entah itu merasa menjadi o...

Balas Dendam Di Surga (Perenungan Idul Fitri 2)

Salah satu yang menghiasi suasana idul fitri adalah melankoli maaf-maafan. Orang menjadi sadar akan kesalahannya kepada orang lain, sehingga tak perlu sungkan lagi apabila harus menangis. Setelah terjadi adegan tersebut, rasa-rasanya terasa lega. Dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol yang terkadang bisa membuat lupa kalau baru saja saling memaafkan. Hal tersebut berlanjut tidak hanya secara personal saja, tetapi secara massal. Acara halal bi halal terus saja ada berurutan dari hari ke hari. Dimanapun tempatnya. Di rumah makan, di rumah tinggal, di hotel, di gedung-gedung. Kebersamaan yang terasa ketika idul fitri tidak hanya berhenti sampai di situ. Ada lagi satu hal yang kurang menarik jika tidak dilaksanakan. Mengunjungi tempat wisata. Entah itu rombongan keluarga, masyarakat, atau apa pun itu moment lebaran adalah moment yang rasa-rasanya kurang mantap kalau tidak dilalui untuk berwisata.       Kuliner juga tidak kalah populernya pada moment lebaran ini. Entah it...

Latah Budaya atau Sungguh-sungguh Kepada Tuhan (Perenungan Idul Fitri 1)

Kalau kita mendengar suara Takbir apa yang ada di dalam pikiran kita. Ingat makna sejati dari kata pertama (Allah), kata kedua (Akbar), atau gabungan antara keduanya, atau ingat gegap gempita hari raya, atau musik perayaan gema takbir, atau kostum-kostum festival takbir, atau saudara-saudara jauh yang mudik, atau pakaian-pakaian baru, atau biasa saja, tidak ada yang istimewa.     Semalam suntuk, suara tersebut kita lantunkan. Paginya sebelum shalat idul fitri kita lantunkan. Namun, posisinya lebih serius mana, berbicara kotor, mengumpat karena kaki kesandung atau ketika melantunkan gema takbir dengan suara merdu tersebut. Lebih kita jiwai yang mana umpatan kita ketika sakit hati atau takbir kita di perayaan hari raya. Entah apa yang kita ingat, entah apa yang kita maknai, entah apa yang kita intensifi, entah apa yang kita seriusi, bangsa ini memang telah ditakdirkan dengan kemampuan untuk menciptakan keindahan-keindahan. Budaya keberagamaannya adalah salah satu bukti n...

Bermasalah atau Tidak (Ramadlan 29)

Akhir Ramadlan adalah masa dimana kita menunggu hasil dari apa yang kita lakukan selama bulan Ramadlan. Apakah puasa sebatas menahan untuk kemudian bisa melampiaskan. Ataukah puasa sebagai pendidikan untuk mengendalikan. Apakah ibadah hanya sebatas hingar bingar, atau pengumpulan laba pribadi berupa pahala, ataukah suatu bukti nyata pengabdian cinta kepada-Nya. Minimal yang ditunggu-tunggu adalah apa yang terjadi dalam diri kita. Kalau yang terjadi di luar diri kita kiranya sudah bisa diprediksi. Misalnya, membludaknya tempat pariwisata, pesta kuliner, yang semuanya adalah aktivitas melampiaskan. Shalat dzuhur diabaikan karena sedang asyik main air di pantai, tanpa ingat, dulu ketika bulan Ramadlan begitu rajinnya ia shalat tarawih. Tanpa ingat, bahwa ia bangga karena sudah puasa satu bulan penuh.  Dari hal tersebut, kelihatannya terima kasihnya manusia kepada Allah adalah karena sudah memberikan moment-moment tertentu yang bisa dimanfaatkan untuk mengunggulkan ego-ego pribad...

GR dan Demi Sesuap Nasi (Ramadlan 28)

Selama hidupnya manusia dihinggapi rasa GR (gede rasa, terlalu percaya diri) yang luar biasa. Dia pikir sesuap nasi yang ia masukkan ke dalam perut adalah hasil jerih payahnya. Padahal kalau saja Tuhan tidak menggerakkan jantungnya, mana mungkin ia bisa menikmati sesuap nasi tersebut. Rasa GR ini bisa sampai meremehkan Tuhan. Dia meremehkan Tuhan kalau-kalau Tuhan tidak bertanggung jawab atas penciptaan manusia. Sehingga mayoritas manusia menjadikan dalih “demi sesuap nasi” untuk melakukan penyelewengan-penyelewengan, penghancuran-penghancuran bangunan kemanusiaan. Dari artis artifisial sampai koruptor menjadikan dalih “demi sesuap nasi” sebagai alasan utama untuk memuja dunia, mengumpulkan harta benda, berbangga-bangga menumpuk harta.   Seakan-akan sesuap nasinya di esok hari tak dijamin oleh Tuhan. Seakan-akan perbuatannya pas, sesuai proporsi sehingga menyederhanakannya dengan demi sesuap nasi. Seakan-akan tidak ada akibat berupa penderitaan orang lain akibat dari perbuatan-...