Allah
pernah bilang bahwa bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan. Pernyataan Allah
tersebut bisa kita perluas asosiasinya. Misalnya, solusi dari masalah
tersembunyi dalam masalah tersebut. Atau, pembuat racun adalah yang paling tahu
penawarnya. Bisa juga, obat dari sebuah penyakit bisa dicari di tempat
penghasil penyakit tersebut.
Dengan cara pandang tersebut kita bisa mengupas permasalahan kecil sampai besar umat manusia. Hal ini tidak bersifat mutlak. Hanya bersifat tadabbur (usaha mencari manfaat) saja. Untuk kebenaran mutlak tentu hanya Sang Pemilik Kebenaran yang tahu.
Pada kesempatan lain Allah menceritakan tentang kehidupan awal manusia yang bertempat di surga. Simbah Adam sebagai manusia pertama menemui masalah pertama yaitu, talbis (penipuan) yang dilakukan oleh Iblis. Simbah Adam yang pengalaman hidupnya masih kurang, tidak mengerti kalau beliau ditipu. Akhirnya beliau berani melanggar larangan Allah untuk tidak mendekati sebuah pohon. Didekatilah pohon tersebut yang kemudian berakibat diusirnya (ditempatkannya) Simbah Adam di bumi.
Cerita tersebut jika ditarik ke zaman sekarang mempunyai dua sisi manfaat. Sisi yang pertama Allah berusaha memperingatkan manusia tentang permasalahan yang akan sering terjadi pada kehidupan setelah era Simbah Adam di surga. Permasalahan tersebut adalah akibat yang terjadi setelah mendekati. Proses sebelumnya ada godaan melalui proses talbis. Keberhasilan talbis berlanjut kepada keinginan untuk menuruti godaan tersebut. Dalam hal ini Iblis begitu cerdas dan akurat keputusannya. Dia mempermainkan rasa penasaran Simbah Adam. Mungkin hal ini diketahui oleh Iblis karena pengetahuan yang ia ketahui tentang unsur yang dimiliki manusia terutama unsur ruhaniah berupa akal, pikiran dan hati yang digunakan untuk menganalisis tentang perlombaan keilmuan antara manusia dan malaikat. Sehingga ia tahu, penasaran yang memenuhi pikiran bisa bermanfaat untuk manusia jika mengelolanya dengan akal, di sisi lain penasaran bisa mendorong tidak berfungsinya akal jika mengelolanya dengan hati.
Sisi yang kedua, Allah mencoba menjelaskan solusi dari masalah tersebut. Karena proses terjadinya masalah adalah dengan mendekati, maka solusinya adalah tidak mendekati. Kita bisa melihat, permasalahan-permasalahan yang terjadi pada umat manusia adalah karena proses mendekati. Bisa juga diganti dengan kata menuruti. Jika dijelaskan dengan kalimat, “menuruti hawa nafsu”.
Tetapi semakin ke sini ada cobaan, tantangan, juga permasalahan lain sebelum terjadi proses mendekati. Cobaan, tantangan dan permasalahan tersebut adalah variasi talbis yang sulit dirumuskan dan jumlahnya tidak terhitung. Yang diperlukan untuk menghadapi hal tersebut adalah akurasi berpikir yang harus, tidak boleh tidak, dituntun langsung oleh Allah melalui berbagai cara yang dilakukan oleh Allah kepada kita. Tugas manusia adalah belajar mengerti pola komunikasi Allah kepada dirinya, yang jelas berbeda antara manusia satu dengan lainnya.
Dengan cara pandang tersebut kita bisa mengupas permasalahan kecil sampai besar umat manusia. Hal ini tidak bersifat mutlak. Hanya bersifat tadabbur (usaha mencari manfaat) saja. Untuk kebenaran mutlak tentu hanya Sang Pemilik Kebenaran yang tahu.
Pada kesempatan lain Allah menceritakan tentang kehidupan awal manusia yang bertempat di surga. Simbah Adam sebagai manusia pertama menemui masalah pertama yaitu, talbis (penipuan) yang dilakukan oleh Iblis. Simbah Adam yang pengalaman hidupnya masih kurang, tidak mengerti kalau beliau ditipu. Akhirnya beliau berani melanggar larangan Allah untuk tidak mendekati sebuah pohon. Didekatilah pohon tersebut yang kemudian berakibat diusirnya (ditempatkannya) Simbah Adam di bumi.
Cerita tersebut jika ditarik ke zaman sekarang mempunyai dua sisi manfaat. Sisi yang pertama Allah berusaha memperingatkan manusia tentang permasalahan yang akan sering terjadi pada kehidupan setelah era Simbah Adam di surga. Permasalahan tersebut adalah akibat yang terjadi setelah mendekati. Proses sebelumnya ada godaan melalui proses talbis. Keberhasilan talbis berlanjut kepada keinginan untuk menuruti godaan tersebut. Dalam hal ini Iblis begitu cerdas dan akurat keputusannya. Dia mempermainkan rasa penasaran Simbah Adam. Mungkin hal ini diketahui oleh Iblis karena pengetahuan yang ia ketahui tentang unsur yang dimiliki manusia terutama unsur ruhaniah berupa akal, pikiran dan hati yang digunakan untuk menganalisis tentang perlombaan keilmuan antara manusia dan malaikat. Sehingga ia tahu, penasaran yang memenuhi pikiran bisa bermanfaat untuk manusia jika mengelolanya dengan akal, di sisi lain penasaran bisa mendorong tidak berfungsinya akal jika mengelolanya dengan hati.
Sisi yang kedua, Allah mencoba menjelaskan solusi dari masalah tersebut. Karena proses terjadinya masalah adalah dengan mendekati, maka solusinya adalah tidak mendekati. Kita bisa melihat, permasalahan-permasalahan yang terjadi pada umat manusia adalah karena proses mendekati. Bisa juga diganti dengan kata menuruti. Jika dijelaskan dengan kalimat, “menuruti hawa nafsu”.
Tetapi semakin ke sini ada cobaan, tantangan, juga permasalahan lain sebelum terjadi proses mendekati. Cobaan, tantangan dan permasalahan tersebut adalah variasi talbis yang sulit dirumuskan dan jumlahnya tidak terhitung. Yang diperlukan untuk menghadapi hal tersebut adalah akurasi berpikir yang harus, tidak boleh tidak, dituntun langsung oleh Allah melalui berbagai cara yang dilakukan oleh Allah kepada kita. Tugas manusia adalah belajar mengerti pola komunikasi Allah kepada dirinya, yang jelas berbeda antara manusia satu dengan lainnya.
Komentar
Posting Komentar