Menurut seorang seorang filolog di Indonesia yang
satu-satunya ahli bahasa Sansekerta dari Indonesia, yaitu Pak Manu J.
Widyaseputra di acara Sarasehan Budaya yang diselenggarakan pada hari kamis, 27
April 2017 yang bertempat di Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib (EAN) atau yang
biasa disebut sebagai Rumah Maiyah, dengan telaahnya menggunakan ilmu grammar
bahasa Sansekerta yang disebut Nirukta kata perempuan berasal dari kata dasar
empu. Menjadi perempuan karena diawali dengan tambahan per di bagian depan dan
an dibagian akhir. Empu artinya orang-orang yang melakukan pekerjaan terhormat,
salah satunya yang mendominasi kegiatan pertanian. Dulu di zaman para nenek
moyang bangsa Nusantara kegiatan pertanian adalah suatu kegiatan terhormat. Sehingga
perempuan adalah orang yang diper-empu-kan, atau orang-orang yang dipercaya
melakukan pekerjaan terhormat.
Untuk urusan kata, seringkali orang Indonesia tidak terlalu peduli. Sehingga, penggunaan kata perempuan dan wanita dianggap sama saja. Perempuan adalah wanita, dan wanita adalah perempuan. Padahal jika diperbandingkan maknanya sangat berbeda, benar-benar bertolak belakang. Wanita, menurut Pak Manu dalam acara tersebut, jika ditelaah dengan Nirukta artinya adalah yang diinginkan, kalau menggunakan bahasa agak kasar, mohon maaf sebelumnya, sama dengan pelacur. Namun, bagaimana lagi, orang Indonesia kelihatannya agak malas mempelajari asal usul kata, sehingga lebih memilih memberi nama perkumpulan perempuan dengan nama Dharma Wanita, daripada Dharma Perempuan (sebagaimana yang dijelaskan Pak Manu pada acara tersebut). Dan mohon maaf sekali lagi, setelah tahu perbedaan makna antara wanita dan perempuan, mendengar kata Dharma Wanita menjadi agak aneh di telinga, agak risih di hati. Tidak hanya Dharma Wanita saja, seringkali dalam kesempatan lain, misalnya pengumuman lowongan kerja juga membuat salah satu kriteria untuk perempuan disebut penyebutan wanita.
Campur aduk penggunaan kata wanita, perempuan tersebut bukan tidak berpengaruh pada persepsi masyarakat Indonesia terhadap perempuan. Saya amati dalam kehidupan sosial maraknya penggunaan kata wanita benar-benar mempengaruhi persepsi masyarkat Indonesia tentang perempuan. Wanita itu penyebutan yang titik beratnya terletak pada syahwat. Sedangkan perempuan adalah penyebutan yang titik beratnya pada apresiasi terhadap proses yang dijalani dalam kehidupan. Maka di zaman ini, zaman Indonesia modern, entah itu laki-laki atau perempuan, menganggap makhluk yang bernama wanita ini sebagai mohon maaf obyek seksual saja. Lahirlah apresiasi yang terbatas pada fisik saja, entah itu cantik, entah itu lekuk indah tubuh, entah itu make up, entah itu mode pakaian seksi. Padahal kalau kita mau beranjak dari penggunaan kata wanita ke perempuan, sangat mungkin bisa merubah persepsi kita, misalnya penyikapan kita dalam fungsi sosial menjadi lebih menghormati perempuan dalam arti yang sebenarnya. Kita bisa memaknai bahwa perempuan semenjak nenek moyang bangsa Nusantara adalah manusia luar biasa yang mengemban tugas-tugas terhormat, yang mungkin secara berangsur bisa menyingkirkan persepsi yang sebatas pada obyek seksual, yang tidak dinilai hanya dari kecantikan, lekuk tubuh, make up tebal atau mode fashion saja.
Untuk urusan kata, seringkali orang Indonesia tidak terlalu peduli. Sehingga, penggunaan kata perempuan dan wanita dianggap sama saja. Perempuan adalah wanita, dan wanita adalah perempuan. Padahal jika diperbandingkan maknanya sangat berbeda, benar-benar bertolak belakang. Wanita, menurut Pak Manu dalam acara tersebut, jika ditelaah dengan Nirukta artinya adalah yang diinginkan, kalau menggunakan bahasa agak kasar, mohon maaf sebelumnya, sama dengan pelacur. Namun, bagaimana lagi, orang Indonesia kelihatannya agak malas mempelajari asal usul kata, sehingga lebih memilih memberi nama perkumpulan perempuan dengan nama Dharma Wanita, daripada Dharma Perempuan (sebagaimana yang dijelaskan Pak Manu pada acara tersebut). Dan mohon maaf sekali lagi, setelah tahu perbedaan makna antara wanita dan perempuan, mendengar kata Dharma Wanita menjadi agak aneh di telinga, agak risih di hati. Tidak hanya Dharma Wanita saja, seringkali dalam kesempatan lain, misalnya pengumuman lowongan kerja juga membuat salah satu kriteria untuk perempuan disebut penyebutan wanita.
Campur aduk penggunaan kata wanita, perempuan tersebut bukan tidak berpengaruh pada persepsi masyarakat Indonesia terhadap perempuan. Saya amati dalam kehidupan sosial maraknya penggunaan kata wanita benar-benar mempengaruhi persepsi masyarkat Indonesia tentang perempuan. Wanita itu penyebutan yang titik beratnya terletak pada syahwat. Sedangkan perempuan adalah penyebutan yang titik beratnya pada apresiasi terhadap proses yang dijalani dalam kehidupan. Maka di zaman ini, zaman Indonesia modern, entah itu laki-laki atau perempuan, menganggap makhluk yang bernama wanita ini sebagai mohon maaf obyek seksual saja. Lahirlah apresiasi yang terbatas pada fisik saja, entah itu cantik, entah itu lekuk indah tubuh, entah itu make up, entah itu mode pakaian seksi. Padahal kalau kita mau beranjak dari penggunaan kata wanita ke perempuan, sangat mungkin bisa merubah persepsi kita, misalnya penyikapan kita dalam fungsi sosial menjadi lebih menghormati perempuan dalam arti yang sebenarnya. Kita bisa memaknai bahwa perempuan semenjak nenek moyang bangsa Nusantara adalah manusia luar biasa yang mengemban tugas-tugas terhormat, yang mungkin secara berangsur bisa menyingkirkan persepsi yang sebatas pada obyek seksual, yang tidak dinilai hanya dari kecantikan, lekuk tubuh, make up tebal atau mode fashion saja.
Kalau
kita melihat sejarah melalui kata perempuan, bangsa ini juga tidak perlu impor
ideologi emansipasi wanita karena kata perempuan sudah menunjukkan bahwa
perempuan itu tangguh, yang konon, menurut cerita, asal-usulnya dari perjuangan
para lesbian Belanda yang ingin diakui. Justru dengan adanya emansipasi wanita
yang lagi-lagi memilih kata wanita daripada perempuan menunjukkan bahwa
perempuan itu lemah sehingga harus diberi pengertian dengan motivasi. Padahal
faktanya, silahkan pergi ke desa-desa, tidak ada satu pun perempuan desa yang
lemah, mengurus anak, mengurus rumah, bertani di tengah panas terik matahari,
berdagang di pasar, gotong royong di Masyarakat, semua dijalani perempuan tanpa
terlalu banyak mengeluh. Mereka tidak mengerti dan tidak ada urusan dengan
emansipasi. Secara otomatis sudah seperti itu kehidupannya.
Kalau
memang orang Indonesia mau ada semacam Hari Perempuan Nasional dari pada kita mengadopsi
emansipasinya barat dan dramatisasi cerita Kartini menurutnya saya lebih
bersifat maknawi kalau kita mengambilnya dari Islam. Islam sangat
memperjuangkan perempuan. Di masa pra Al-Qur’an turun, perempuan di wilayah
Arab sana benar-benar direndahkan serendah-rendahnya, bahkan bayi perempuan
yang lahir saja tidak segan-segan untuk dibunuh. Tidak sedikit yang dijadikan
budak yang salah satu fungsinya sebagai benda pemuas seksual bagi pemiliknya.
Tetapi setelah Al-Qur’an diturunkan oleh Allah, yang secara berangsur-angsur
juga menjelaskan banyak hal tentang perempuan, menceritakan tentang betapa
mulianya ibu, membela perempuan dari penyikapan para laki-laki yang hanya
menempatkannya sebagi obyek seksual, menceritakan kisah Maryam yang begitu
tinggi derajatnya, serta masih banyak sekali apresiasi, penghormatan yang
setinggi-tingginya untuk sosok perempuan, derajat perempuan di wilayah Arab
sana menjadi lebih tinggi. Akhirnya penyikapan yang rendah terhadap perempuan
mulai berubah.
Hari
Perempuan Nasional tersebut bisa disamakan dengan tanggal turunnya Al-Qur’an,
yang juga seharusnya jadi Maulid Nabi (sebagaimana yang sering diceritakan Mbah
Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam banyak acara maiyahan), karena Nabi Muhammad
resmi menjadi nabi pada hari tersebut, yaitu pada tanggal 17 Ramadlan. Momentum
turunya Al-Qur’an itulah, titik awal yang melahirkan penegasan, pengormatan,
apresiasi tentang betapa luar biasanya perempuan sehingga menurut saya pas
kalau juga dijadikan peringatan Hari Perempuan Nasional.
Tetapi,
saya kira itu hanyalah sebatas angan-angan saya saja. Sekarang Islam begitu
dicurigai sebagai sesuatu yang membuat gaduh Bangsa Ini. Sehingga lahir semacam
kelompok yang memproklamirkan diri sebagai kelompok Bhineka Tunggal Ika, dengan
semboyannya “saya Indonesia, saya Pancasila” (pernah dibahas dalam tulisan Mbah
Nun (Emha Ainun Nadjib) di rubrik khasanah dalam caknun.com dengan Judul Telur
Ayam Jantan dan Ibu Garuda Pertiwi, dan Rindu Menyatu). Kalau memang Bhineka
Tunggal Ika, semua diakui, jangan menegaskan dengan kata saya yang bersifat
individualistis, atau kami yang bersifat kelompok yang menggolong alias
golongan khusus. Bisa dengan kata yang bersifat mengajak kepada kebersamaan,
misalnya, “Kita pancasila, Kita Indonesia” (Pernah dibahas di tulisan Mbah Nun
(Emha Ainun Nadjib) di rubrik khasanah dalam caknun.com dengan judul Rindu
Menyatu). Kalau seperti itu kan semua yang ada di Indonesia, yang pasti
berbeda-beda ini bisa merasa tenteram, ayem
kalau istilah Jawanya, karena diajak untuk bersama-sama menjadi Bhineka Tunggal
Ika.
Padahal kalau ditelaah, pancasila itu berasal dari Islam. Silahkan dielaborasi secara seksama hubungan antara pancasila dengan rukun Islam (Ilmu Maiyah yang sering dijelaskan Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam berbagai acara Maiyahan). Supaya lebih komprehensif silahkan diperjelas elaborasinya dengan menelaah lagu ilir-ilir (Juga Ilmu Maiyah yang sering dijelaskan Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam berbagai acara Maiyahan. Juga sebuah lagu ciptaan buyut bangsa ini yang semasa hidupnya dihabiskan untuk menjaga Bangsa Nusantara dari gangguan-gangguan yang tidak penting, yaitu Sunan Ampel).
Lha kok sekarang, hanya karena ada rekayasa adu domba yang mengatasnamakan Islam, Indonesia jadi risih dengan Islam. Jadi gengsi kalau mengambil nilai, hikmah, pelajaran dari Islam. Mengelompok sendiri dengan semboyan, “Saya Pancasila, Saya Indonesia”. Seakan-akan melarang banyak perbedaan yang ada di Indonesia untuk menyebut, “Saya Islam, saya Indonesia”, “Saya Kristen, Saya Indonesia”, “Saya Budha, Saya Indonesia”, “Saya Hindu, Saya Indonesia”, “Saya Konghucu, Saya Indonesia”, “Saya Jawa, Saya Indonesia”, “Saya Sumatera, Saya Indonesia”, “Saya Kalimantan, Saya Indonesia”, “Saya Sulawesi, Saya Indoensia”, “Saya Maluku, Saya Indonesia”, dan masih banyak saya yang lain lagi yang seharusnya boleh mengaku sebagai Indonesia. Kalau memang Bhineka Tunggal Ika jangan mengindividu dong, jangan mengelompok dong. Akui saya yang jumlahnya banyak tersebut, apresiasi, dan diajak untuk bersama-sama menjaga tanah air tercinta kita ini.
Padahal kalau ditelaah, pancasila itu berasal dari Islam. Silahkan dielaborasi secara seksama hubungan antara pancasila dengan rukun Islam (Ilmu Maiyah yang sering dijelaskan Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam berbagai acara Maiyahan). Supaya lebih komprehensif silahkan diperjelas elaborasinya dengan menelaah lagu ilir-ilir (Juga Ilmu Maiyah yang sering dijelaskan Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam berbagai acara Maiyahan. Juga sebuah lagu ciptaan buyut bangsa ini yang semasa hidupnya dihabiskan untuk menjaga Bangsa Nusantara dari gangguan-gangguan yang tidak penting, yaitu Sunan Ampel).
Lha kok sekarang, hanya karena ada rekayasa adu domba yang mengatasnamakan Islam, Indonesia jadi risih dengan Islam. Jadi gengsi kalau mengambil nilai, hikmah, pelajaran dari Islam. Mengelompok sendiri dengan semboyan, “Saya Pancasila, Saya Indonesia”. Seakan-akan melarang banyak perbedaan yang ada di Indonesia untuk menyebut, “Saya Islam, saya Indonesia”, “Saya Kristen, Saya Indonesia”, “Saya Budha, Saya Indonesia”, “Saya Hindu, Saya Indonesia”, “Saya Konghucu, Saya Indonesia”, “Saya Jawa, Saya Indonesia”, “Saya Sumatera, Saya Indonesia”, “Saya Kalimantan, Saya Indonesia”, “Saya Sulawesi, Saya Indoensia”, “Saya Maluku, Saya Indonesia”, dan masih banyak saya yang lain lagi yang seharusnya boleh mengaku sebagai Indonesia. Kalau memang Bhineka Tunggal Ika jangan mengindividu dong, jangan mengelompok dong. Akui saya yang jumlahnya banyak tersebut, apresiasi, dan diajak untuk bersama-sama menjaga tanah air tercinta kita ini.
Komentar
Posting Komentar