Langsung ke konten utama

Rebutan Permen (Ramadlan 23)

Sepuh, sebuah kata yang familiar di kalangan orang-orang Jawa. Namun familiarnya kata tersebut tidak berbanding lurus dengan wilayah implementatifnya. Dalam kehidupan, sepuh semakin jarang ditemui.

Sepuh itu bukan tua. Tua itu hanya persoalan umur. Sepuh adalah suatu tingkat kematangan seseorang dalam kehidupan. Orang yang umurnya tua belum tentu sepuh, begitu juga orang yang umurnya masih muda belum tentu tidak sepuh. Bisa jadi orang yang umurnya masih muda justru yang sepuh. Kematangan tersebut tercermin dalam pengambilan keputusan-keputusan dan perilaku baik yang bersifat individu ataupun sosial.

Dalam kehidupan zaman modern yang terlanjur menyepakati kalah-menang sebagai sistem yang dianut ini, tuanya umur justru dimanfaatkan bahwa yang tualah yang terbaik, yang tualah yang menang. Hal tersebut bukan tidak berakibat apa-apa. Terjadi efek domino yang terus terjadi entah sampai kapan.

Pertunjukan kalah menang tersebut bukan hanya di wilayah sosial dalam skala kecil saja, tetapi juga sangat populer di wilayah sosial dalam skala besar. Dunia perpolitikan kita adalah bukti nyata dari hal tersebut. Tanpa berpikir panjang mayoritas manusia di negeri ini menyaksikan dengan berbahagia, mengamini pertunjukan-pertunjukan tersebut. Dan kita benar-benar menyaksikan pertunjukan bahwa orang-orang tua yang dipilih untuk memimpin negeri ini justru yang paling kanak-kanak karena semenjak kecil sampai tua kerjaannya sama, saling mengalahkan satu sama lain hanya untuk sekedar rebutan permen. 

Banyak sekali orang-orang yang umurnya tua, tetapi sangat sedikit orang-orang sepuh. Padahal dewan kasepuhan adalah unsur yang sangat penting untuk mencapai suatu keadaan yang kondusif, aman, damai dan tentram. Padahal para generasi penerus bangsa ini perlu orang-orang sepuh yang apabila didekatnya merasa tentram, merasa aman karena yakin sosoknya bisa menjadi pancaran cahaya yang menentramkan. 

Bangsa ini rindu akan ayah. Ia ingin ayahnya berhenti bertualang secara liar. Dan menolong ibu yang setiap hari diperkosa oleh banyak orang. Bangsa ini rindu akan harmonisasi antara Ibu dan Ayah, Ayah dan Ibu. Orang tua, yang sepuh dan dapat mengelola keluarganya sesuai kehendak Sang Pencipta.  

Komentar