Ungkapan seorang Khalil Jibran (Kahlil Gibran),
“anakmu bukanlah anakmu. Ia adalah putra-putri kerinduan kehidupan”, adalah
suatu ungkapan lembut penuh kebijaksanaan. Sebuah ungkapan kerendahhatian
seorang manusia. Suatu sikap dinamis terhadap kehidupan yang pasti kita sadari
akan terus berubah-ubah dari waktu ke waktu.
Maka
anakmu bukanlah anakmu, bukan juga dirimu, bukan hidup di zamanmu. Mereka
adalah putra kerinduan kehidupan yang ada pada saat itu. Mereka adalah dirinya
sesuai dengan latar kosmos kehidupannya. Zamannya sendiri. Berbeda dengan kita.
Bahkan berbeda dengan orang yang lahir satu detik sebelum, bersamaan dan
setelahnya. Kehidupan punya maksud tersendiri melahirkannya.
Menurut
saya, absurd kalau ada seorang guru, atau orang tua yang secara mendadak
mengeluarkan statement, “kok seperti anak zaman sekarang seperti ini, kok beda
dari yang dulu” atau “kalau dulu itu seperti ini, bukan seperti itu”. Memang
seperti itu, memang beda.
Untuk
bisa menuju tingkat bijaksana yang perlu dilakukan adalah puasa. Terutama
berpuasa atas mempertahankan kebenarannya sendiri bahkan dari dirinya sendiri.
Mempertahankan kebenaran tidak pasti disebut konsisiten. Terkadang bisa
berposisi keras kepala. Jaraknya begitu tipis. Harus benar-benar akurat untuk
menetukannya.
Memahami
kehidupan memang harus disertai kebijaksanaan. Bukan hanya berbekal kepada
pengalaman yang dipadatkan. Sejarah bukan berfungsi sebagai senjata untuk menjarah
masa depan. Sejarah berfungsi untuk mengerti kebijaksanaan.
Kita
tidak bisa berpijak dengan penyikapan yang sama dengan masa lalu. Pembelajaran
yang kita dapatkan dari masa lalu kita gunakan untuk mengembangkan penyikapan-penyikapan
di masa depan.
Memang
tidak mudah. Kalau mudah bukan puasa namanya. Maka manusia harus benar-benar
siap untuk puasa sepanjang hidupnya. Itulah hidup yang ini, bukan yang lain. Karena
“anakmu bukanlah anakmu. Ia adalah putra-putri kerinduan kehidupan.”
Komentar
Posting Komentar