Langsung ke konten utama

Anakmu Bukanlah Anakmu, Ia Adalah Putra-putri Kerinduan Kehidupan (Ramadlan 9)

Ungkapan seorang Khalil Jibran (Kahlil Gibran), “anakmu bukanlah anakmu. Ia adalah putra-putri kerinduan kehidupan”, adalah suatu ungkapan lembut penuh kebijaksanaan. Sebuah ungkapan kerendahhatian seorang manusia. Suatu sikap dinamis terhadap kehidupan yang pasti kita sadari akan terus berubah-ubah dari waktu ke waktu. 

Maka anakmu bukanlah anakmu, bukan juga dirimu, bukan hidup di zamanmu. Mereka adalah putra kerinduan kehidupan yang ada pada saat itu. Mereka adalah dirinya sesuai dengan latar kosmos kehidupannya. Zamannya sendiri. Berbeda dengan kita. Bahkan berbeda dengan orang yang lahir satu detik sebelum, bersamaan dan setelahnya. Kehidupan punya maksud tersendiri melahirkannya.

Memahami kehidupan memang harus disertai kebijaksanaan. Bukan hanya berbekal kepada pengalaman yang dipadatkan. Sejarah bukan berfungsi sebagai senjata untuk menjarah masa depan. Sejarah berfungsi untuk mengerti kebijaksanaan. 

Menurut saya, absurd kalau ada seorang guru, atau orang tua yang secara mendadak mengeluarkan statement, “kok seperti anak zaman sekarang seperti ini, kok beda dari yang dulu” atau “kalau dulu itu seperti ini, bukan seperti itu”. Memang seperti itu, memang beda.

Kita tidak bisa berpijak dengan penyikapan yang sama dengan masa lalu. Pembelajaran yang kita dapatkan dari masa lalu kita gunakan untuk mengembangkan penyikapan-penyikapan di masa depan.

Untuk bisa menuju tingkat bijaksana yang perlu dilakukan adalah puasa. Terutama berpuasa atas mempertahankan kebenarannya sendiri bahkan dari dirinya sendiri. Mempertahankan kebenaran tidak pasti disebut konsisiten. Terkadang bisa berposisi keras kepala. Jaraknya begitu tipis. Harus benar-benar akurat untuk menetukannya.

Memang tidak mudah. Kalau mudah bukan puasa namanya. Maka manusia harus benar-benar siap untuk puasa sepanjang hidupnya. Itulah hidup yang ini, bukan yang lain. Karena “anakmu bukanlah anakmu. Ia adalah putra-putri kerinduan kehidupan.” 

Komentar