Langsung ke konten utama

Menahan dan Melampiaskan (Ramadlan 10)

Menjadi cukup berbahaya jika puasa kita maknai sekedar tidak makan dan minum saja. Bukan hanya esensi dari puasa itu tidak bisa kita resapi tetapi secara psikologis akan cukup mempengaruhi diri kita.

Secara logika sederhana kegiatan menahan itu lawan katanya melampiaskan. Maka, kalau puasa kita berfokus hanya sekedar menahan, pada titik puncaknya nanti akan melampiaskan. Orang yang selama puasa selalu menanti-nanti kok belum sampai-sampai waktu buka, kemungkinan besar ketika buka akan melampiaskan apa yang dinanti-nantikannya. Biasanya dengan cara mengonsumsi makanan melebihi porsinya. Dan itu cenderung terus berlanjut sampai waktu sahur. Hal tersebut terus berputar sampai bulan Ramadlan selesai. Akhirnya, bulan Ramadlan hanya dilalui dengan pergantian siklus antara menahan dan melampiaskan.

Kalau kita menyikapinya dengan kesadaran yang berbeda, misalnya, puasa itu tidak hanya ketika subuh sampai maghrib saja, setelah waktu maghrib ada prinsip-prinsip puasa yang harus dilaksanakan yang tidak akan berhenti sampai kapanpun maka hasilnya pun akan berbeda juga. Ketika buka puasa akan teringat bahwa kalau buka dengan cara melampiaskan, balas dendam, makan sebanyak-banyak lalu apa gunanya seharian menahan makan dan minum. 
 
Kesadaran butuh konsistensi. Di sinilah letak perjuangan hidup manusia. Menjaga kesadaran di tengah kemungkinan yang setiap saat sangat mungkin mengintervensi ke berbagai arah. Termasuk ke arah yang negatif. 

Ibadah puasa adalah pergerakan terus menerus antara wilayah kontemplatif dan implementatif, pemaknaan dan praktek, rohani dan jasmani. Tidak bisa berhenti pada titik tertentu. Karena hidup tidak ada titik pemberhentiannya. Kalaupun ada seperti titik pemberhentian, itu bukanlah titik pemberhentian yang sebenarnya hanya seakan-akan saja.   

Namun, kembali lagi kepada kemungkinan yang pasti berkaitan dengan pilihan-pilihan. Setiap manusia diberi kesempatan untuk memilih. Termasuk akan menjadikan puasa hanya sebatas siklus menahan – melampiaskan, atau pergerakan kontemplatif – implementatif, pemaknaan dan praktek, rohani – jasmani.

Komentar