Menjadi cukup berbahaya jika puasa kita maknai
sekedar tidak makan dan minum saja. Bukan hanya esensi dari puasa itu tidak
bisa kita resapi tetapi secara psikologis akan cukup mempengaruhi diri kita.
Kalau
kita menyikapinya dengan kesadaran yang berbeda, misalnya, puasa itu tidak
hanya ketika subuh sampai maghrib saja, setelah waktu maghrib ada
prinsip-prinsip puasa yang harus dilaksanakan yang tidak akan berhenti sampai
kapanpun maka hasilnya pun akan berbeda juga. Ketika buka puasa akan teringat
bahwa kalau buka dengan cara melampiaskan, balas dendam, makan sebanyak-banyak
lalu apa gunanya seharian menahan makan dan minum.
Ibadah
puasa adalah pergerakan terus menerus antara wilayah kontemplatif dan
implementatif, pemaknaan dan praktek, rohani dan jasmani. Tidak bisa berhenti
pada titik tertentu. Karena hidup tidak ada titik pemberhentiannya. Kalaupun ada
seperti titik pemberhentian, itu bukanlah titik pemberhentian yang sebenarnya
hanya seakan-akan saja.
Secara
logika sederhana kegiatan menahan itu lawan katanya melampiaskan. Maka, kalau
puasa kita berfokus hanya sekedar menahan, pada titik puncaknya nanti akan
melampiaskan. Orang yang selama puasa selalu menanti-nanti kok belum
sampai-sampai waktu buka, kemungkinan besar ketika buka akan melampiaskan apa
yang dinanti-nantikannya. Biasanya dengan cara mengonsumsi makanan melebihi
porsinya. Dan itu cenderung terus berlanjut sampai waktu sahur. Hal tersebut
terus berputar sampai bulan Ramadlan selesai. Akhirnya, bulan Ramadlan hanya
dilalui dengan pergantian siklus antara menahan dan melampiaskan.
Kesadaran
butuh konsistensi. Di sinilah letak perjuangan hidup manusia. Menjaga kesadaran
di tengah kemungkinan yang setiap saat sangat mungkin mengintervensi ke
berbagai arah. Termasuk ke arah yang negatif.
Namun, kembali lagi kepada kemungkinan
yang pasti berkaitan dengan pilihan-pilihan. Setiap manusia diberi kesempatan
untuk memilih. Termasuk akan menjadikan puasa hanya sebatas siklus menahan –
melampiaskan, atau pergerakan kontemplatif – implementatif, pemaknaan dan
praktek, rohani – jasmani.
Komentar
Posting Komentar