Langsung ke konten utama

Ujian Remeh (Ramadlan 12)


Pada keadaan yang remeh dan tidak terduga bisa saja kita sedang berposisi diuji oleh Allah. Ujian tidak pasti yang berat-berat. Terkadang kemampuan kita sebagai seorang manusia bisa terbukti dan teruji hanya melalui sebuah ujian yang dianggap remeh.
 
Misalnya saja kita puasa seharian penuh, tiba-tiba saja menjelang buka puasa makanan yang sudah kita persiapkan secara istimewa dikerubungi oleh banyak semut, bagaimana sikap kita, marahkan atau dengan sabar membersihkan semut-semut tersebut atau seperti apa. Jika kita memutuskan untuk marah mungkin bisa dianggap sebagai pertanda bahwa puasa seharian kita kurang berhasil karena kita masih belum bisa mengendalikan amarah kita, apalagi kalau ditambah dengan sikap melampiaskan seperti membanting makanan tersebut atau membuangnya dengan muka masam. Jika kita dengan sabar membersihkan semut-semut walaupun hati tetap menggerundal berarti kita setia dengan apa yang kita jalani sehari penuh.

Secara teoritis karena berjarak atau tidak mengalami hal tersebut, dengan mudah akal kita mengatakan, pasti bisa sabar. Tetapi ketika benar-benar terjadi dan sudah tidak berjarak dengan peristiwa tersebut atau sedang mengalaminya akan sangat mungkin banyak terjadi pergeseran-pergeseran.

Hal tersebutlah pekerjaan rumah besar manusia. Berusaha untuk terus arif dalam menyikapi kehidupan baik dengan Tuhan, diri sendiri dan orang lain. 

Asumsi dasar kita dalam menjalaninya bukan pada memadatkan teori sehingga beranggapan pasti mudah, pasti bisa. Tetapi pada suatu pengharapan yang tak henti-hentinya kepada Allah supaya Allah mau memberikan hidayah kepada kita setiap saat, kapanpun, dimanpun. Menyerah total kepada Allah. Karena, sebenarnya tidak ada sedikitpun saham dalam hidup kita yang milik kita. Bahkan untuk menggerakkan rahang supaya tersenyum lebar saja manusia tidak akan mampu kalau bukan Allah sendiri yang menggerakkannya.

Komentar