Pada keadaan yang remeh dan tidak terduga bisa saja kita sedang berposisi diuji oleh Allah. Ujian tidak pasti yang berat-berat. Terkadang kemampuan kita sebagai seorang manusia bisa terbukti dan teruji hanya melalui sebuah ujian yang dianggap remeh.
Misalnya
saja kita puasa seharian penuh, tiba-tiba saja menjelang buka puasa makanan
yang sudah kita persiapkan secara istimewa dikerubungi oleh banyak semut,
bagaimana sikap kita, marahkan atau dengan sabar membersihkan semut-semut
tersebut atau seperti apa. Jika kita memutuskan untuk marah mungkin bisa
dianggap sebagai pertanda bahwa puasa seharian kita kurang berhasil karena kita
masih belum bisa mengendalikan amarah kita, apalagi kalau ditambah dengan sikap
melampiaskan seperti membanting makanan tersebut atau membuangnya dengan muka
masam. Jika kita dengan sabar membersihkan semut-semut walaupun hati tetap menggerundal
berarti kita setia dengan apa yang kita jalani sehari penuh.
Secara
teoritis karena berjarak atau tidak mengalami hal tersebut, dengan mudah akal
kita mengatakan, pasti bisa sabar. Tetapi ketika benar-benar terjadi dan sudah
tidak berjarak dengan peristiwa tersebut atau sedang mengalaminya akan sangat
mungkin banyak terjadi pergeseran-pergeseran.
Hal
tersebutlah pekerjaan rumah besar manusia. Berusaha untuk terus arif dalam
menyikapi kehidupan baik dengan Tuhan, diri sendiri dan orang lain.
Asumsi
dasar kita dalam menjalaninya bukan pada memadatkan teori sehingga beranggapan
pasti mudah, pasti bisa. Tetapi pada suatu pengharapan yang tak henti-hentinya
kepada Allah supaya Allah mau memberikan hidayah kepada kita setiap saat,
kapanpun, dimanpun. Menyerah total kepada Allah. Karena, sebenarnya tidak ada
sedikitpun saham dalam hidup kita yang milik kita. Bahkan untuk menggerakkan
rahang supaya tersenyum lebar saja manusia tidak akan mampu kalau bukan Allah
sendiri yang menggerakkannya.
Komentar
Posting Komentar