Langsung ke konten utama

Ghirah (Ramadlan 13)


Ghirah (Arab), gairah, semangat adalah sesuatu yang cukup misterius. Seakan-akan ia bisa dikendalikan, namun dalam keadaan tak terduga tiba-tiba menjadi hilang. Dan kebanyakan manusia tidak bisa merumuskan kemana hilangnya, apa penyebabnya. Juga dalam waktu yang tidak terduga, tanpa ada sebab yang jelas tiba-tiba ada bahkan bisa sampai meluap-luap.

Dengan adanya ghirah, gairah, semangat seorang manusia bisa melakukan upaya. Akalnya bisa bekerja, tubuhnya bisa bergerak untuk mengupayakan suatu tujuan hidup yang lebih baik ke depannya.

Dalam dunia modern ghirah, gairah, semangat selalu berkaitan dengan hasil puncak yang terkadang tergelincir menjadi obsesi dan ambisi. Misalnya, sukses itu sama minimal sama dengan kaya, maksimalnya kaya dan punya kekuasaan, sehingga dihormati oleh banyak manusia lain. Ghirah yang tadinya tidak padat dipadatkan menjadi pencapaian tertentu yang kasat mata.

Kalau kita hubungkan dengan fitrah kemanusiaan menurut Sang Pemilik Hidup langsung mungkin akan sedikit menemui apa sebenarnya tujuan dari adanya sesuatu yang disebut sebagai ghirah ini. Secara jelas Allah mengatakan tugas manusia pertama beribadah kepada-Nya, mengabdi kepada-Nya. Selanjutnya, masih dalam wilayah pengabdian manusia bertugas mengelola kehidupan di bumi. 

Jika hal tersebut yang dijadikan pijakan maka kita akan menemui ghirah itu diciptakan dengan orientasi kepada suatu pengabdian kepada Tuhan, juga pengelolaan dalam bingkai pengabdian kepada Tuhan. Pengabdian adalah proses tanpa henti. Bukan orientasi hasil.

Wilayah misterius ghirah seperti yang dibahas di awal tadi bisa kita hubungkan dengan pernyataan Allah, manusia itu yang memberi hidayah adalah Allah langsung dan menyesatkan juga Allah, apabila Allah menyesatkan maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk.

Sangat mungkin yang namanya ghirah itu adalah semacam hidayah dari Allah. Dan ketika tiba-tiba hilang adalah penyesatan dari Allah. Dan untuk waktunya terserah-serah Allah. Mau memberi hidayah kapan saja, mau menyesatkan kapan saja. Andaikan saja, manusia bisa menemui titik sadar ketika hidayah tiba-tiba datang, atau ketika penyesatan tiba-tiba datang alangkah bahagianya. Karena pada titik itulah manusia bisa menemui bahwa dirinya sangat dekat kepada-Nya.

Komentar