Langsung ke konten utama

Saya Dloluman Jahula ? (Ramadlan 25)

Kehidupan ini berawal dari kerelaan-Nya untuk memisahkan diri dengan diri-Nya. Walaupun sejatinya tetaplah satu. Dalam keterpisahan itu diri-Nya yang sejati memberikan segalanya kepada yang terpisah. Pemberiannya tak terbatas. Tak akan pernah bisa dihitung, ditulis dan dirumuskan detailnya.

Ciptaan-Nya selain Manusia dan Jin, seperti Malaikat, Iblis, Setan, Alam, Batu, Tumubuhan, Hewan sudah diprogram sedemikian rupa untuk tidak mempunyai kemungkinan lain selain memberi. Malaikat total melayani. Iblis total menyediakan rintangan hidup, bersama setan, supaya manusia bisa meningkat kualitasnya, derajatnya. Alam menyediakan berbagai hal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Batu, tumbuhan, hewan tidak mempunyai kemungkinan lain selain siap memberikan seluruh dirinya untuk di khalifahi manusia.

Maka, memberi adalah suatu keniscayaan hidup. Tidak bisa tidak. Supaya kehidupan berjalan dengan seimbang segala unsur yang ada di alam semesta harus saling memberi satu sama lain. Kekasih-Nya pernah bilang, “berilah kepada orang lain dari milikmu yang terbaik”. Karena ia kekasih-Nya, ia mengetahui bahwa hidup itu salah satu essensinya adalah memberi. Dia, kekasih-Nya adalah yang paling maniak dalam hal memberi ini. Walaupun ia memutuskan untuk hidup jauh dari keberlimpahan materi. Ketika akhir hayatnya terbukti, ternyata diri-Nya tiada, dia berikan seluruh hidupnya untuk selain diri-Nya. Muncullah rintihah yang berbunyi, “ummati, ummati, ummati”. Dia tidak pernah menyerap. Dia selalu memberi. Kalaupun ada yang diserap dalam rangka memberi lebih dari sebelum-sebelumnya.

Kalau kita sedikit menengok kehidupan manusia di zaman modern ini kelihatannya logika memberi tidak begitu berlaku. Logika yang berlaku adalah logika menyerap. Manusia menjadi maniak dalam urusan menyerap dan menumpuk-numpuk kemewahan dunia. Mereka meyakini bahwa kebahagiaan adalah kebanggan akan pencapaian individu.

Padahal, Tuhan tidak seperti itu perilakunya. Memberi itu memecah, mencair, melunak, meniada. Menyerap itu mengeraskan, mengkristalkan, membekukan. Ketika kita memberi, berarti kita rindu untuk menyatu dengan-Nya. Ketika menyerap berarti kita asyik menjadi terpisah dari diri-Nya. Kita tidak rindu dengan asal-usul kita. Kita benci dengan diri sejati kita.

Ramadlan adalah wilayah kecil waktu dalam kehidupan yang hadir secara berkala yang salah satu fungsinya adalah mengingatkan manusia untuk tidak terlalu banyak menyerap, karena hidup itu memberi bukan menyerap. Tetapi memberi. Manusia dilatih secara radikal di siang hari untuk mengendalikan seluruh jenis hawa nafsu. Kalau kesempatan ini kita sia-siakan, saya kira manusia benar-benar dloluman jahula, dlolim dan bodoh.

Untuk selanjutnya, kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri. Yang lebih tepat tujuan hidup itu menyatu atau memisah. Yang lebih tepat, hidup itu melunak atau mengeras. Dan yang terakhir, “saya itu termasuk dari yang dloluman jahula atau bukan ?”

Komentar