Desa adalah kekuatan sangat kokoh dari bangsa
Nusantara. Di desa orang-orang bisa menemukan ketentreman, kondusifitas diri
yang lebih kuat dari pada di kota. Di desa orang akan menemui bahwa hidup
adalah menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh tanpa berlebihan untuk
mengharapkan suatu pamrih-pamrih tertentu. Dan karena hal seperti itulah ikatan
antar manusianya lebih kuat daripada ikatan yang terbentuk hanya karena
kepentingan-kepentingan, pamrih-pamrih individu atau kelompok.
Kalau seseorang akan menyelenggarakan suatu kegiatan di desa tidak bisa menggunakan cara-cara profesional modern. Misalnya dengan cara membuat struktur secara rapi kemudian dibuat pembagian-pembagian tugas. Akan lebih berhasil jika berasal dari suasana dan nuansa kultural. Dari obrolan-obrolan ringan dengan tetangga, dari kegiatan kumpul-kumpul sambung rasa antara warga desa. Karena semangat desa bukanlah semangat ambisi, pamrih materi. Orang desa tidak peduli dengan kemegahan-kemegahan, tidak peduli dengan pencapaian-pencapaian, yang lebih penting dari itu semua, bagi mereka adalah bebrayan, paseduluran, silaturahmi, persaudaran. Ketika hal tersebut sudah tercapai orang desa akan merasa aman, nyaman, tentram, bahagia.
Warga desa dididik untuk menjadi manusia setengah malaikat. Pembelajaran budaya melayani orang lain sangat kental. Acara besar, kecil desa, siap mereka gotong royongi. Ibu-ibu memasak, bersih-bersih. Bapak-bapak membuat tenda, angkat jinjing. Anak-anak muda mendistribuskan makanan. Membantu tetangga hajatan apa saja siap mereka lakukan tanpa memikirkan pamrih materi sedikitpun. Seperti malaikat yang selalu siap dengan tugas pelayanannya. Itulah pembelajaran puasa kehidupan.
Di zaman modern ini hal tersebut rasanya sedikit-sedikit berusaha dihilangkan. Jadilah orang desa sendiri menjadi pemuja kota. Dipikirnya kota adalah masa depan yang cerah. Dipikirnya peradaban kota dengan persekolahan, karir, budaya agresif adalah sesuatu yang menjajikan dalam kehidupannya.
Peradaban modern kota merupakan hasil adobsi dari wilayah luar Nusantara. Impor dari negeri matahari terbit dari barat. Maka kita menemui suatu kejanggalan yang bertentangan dengan jiwa bangsa ini. Peradaban modern kota lebih mengutamakan kepada ambisi-ambisi, pembangunan-pembangunan material, kepemilikan-kepemilikan materi, sehingga acuan kebahagiaannya adalah materi itu sendiri. Tidak heran jika yang terjadi adalah budaya pamrih yang tinggi, ambisi, agresif, grusa-grusu atau terburu-buru (beda dengan cekatan).
Padahal, berabad-abad bangsa ini dipelihara oleh nenek moyang yang bertolak belakang dengan kondisi, suasana dan nuansa impor tersebut. Negeri ini dibangun dengan puasa kehidupan para nenek moyangnya. Mereka menempa diri dengan tidak berambisi. Selalu sabar menjalani laku hidup prihatin (menyengaja untuk sengsara) di sepanjang hidupnya. Dan ketika proses itu berlangsung peradaban matahari terbit dari barat datang, mengganggu. Sampailah kita sekarang di masa rekayasa untuk meng-amnesia-kan diri kita. Melupakan nenek moyang dan memuja pendatang.
Semakin ke sini obsesi untuk tidak menjadi diri sendiri tersebut semakin menjadi-jadi. Bangsa ini dipimpin oleh obsesi, ambisi, agresifitas yang sudah bisa ditoleransi lagi. Para generasi penerus bangsa lebih menyukai kejumawaan akademik dari pada kerendahhatian sosial. Para perempuan muda dengan emansipasinya mulai tidak menyukai kegiatan rumah tangga. Mereka lebih memilih pemuasan batin artifisial. Apakah itu fashion, make up, tongkrongan anak muda masa kini. Dan secara umum manusia sudah tidak lagi menyukai puasa. Mereka lebih suka menerobos batas-batas.
Desa adalah peradaban puasa. Kota adalah peradaban pelampiasan. Dan kini kita semakin tahu apa yang sedang dituju oleh manusia modern. Penghapusan peradaban puasa, menuju ke peradaban pelampiasan.
Ibu pertiwi menjadi saksi itu semua. Semoga beliau tidak murka, mengutuk anak-anaknya. Karena di wilayah yang tidak diduga-duga masih banyak yang mengelu-elukan dan merindukannya.
Kalau seseorang akan menyelenggarakan suatu kegiatan di desa tidak bisa menggunakan cara-cara profesional modern. Misalnya dengan cara membuat struktur secara rapi kemudian dibuat pembagian-pembagian tugas. Akan lebih berhasil jika berasal dari suasana dan nuansa kultural. Dari obrolan-obrolan ringan dengan tetangga, dari kegiatan kumpul-kumpul sambung rasa antara warga desa. Karena semangat desa bukanlah semangat ambisi, pamrih materi. Orang desa tidak peduli dengan kemegahan-kemegahan, tidak peduli dengan pencapaian-pencapaian, yang lebih penting dari itu semua, bagi mereka adalah bebrayan, paseduluran, silaturahmi, persaudaran. Ketika hal tersebut sudah tercapai orang desa akan merasa aman, nyaman, tentram, bahagia.
Warga desa dididik untuk menjadi manusia setengah malaikat. Pembelajaran budaya melayani orang lain sangat kental. Acara besar, kecil desa, siap mereka gotong royongi. Ibu-ibu memasak, bersih-bersih. Bapak-bapak membuat tenda, angkat jinjing. Anak-anak muda mendistribuskan makanan. Membantu tetangga hajatan apa saja siap mereka lakukan tanpa memikirkan pamrih materi sedikitpun. Seperti malaikat yang selalu siap dengan tugas pelayanannya. Itulah pembelajaran puasa kehidupan.
Di zaman modern ini hal tersebut rasanya sedikit-sedikit berusaha dihilangkan. Jadilah orang desa sendiri menjadi pemuja kota. Dipikirnya kota adalah masa depan yang cerah. Dipikirnya peradaban kota dengan persekolahan, karir, budaya agresif adalah sesuatu yang menjajikan dalam kehidupannya.
Peradaban modern kota merupakan hasil adobsi dari wilayah luar Nusantara. Impor dari negeri matahari terbit dari barat. Maka kita menemui suatu kejanggalan yang bertentangan dengan jiwa bangsa ini. Peradaban modern kota lebih mengutamakan kepada ambisi-ambisi, pembangunan-pembangunan material, kepemilikan-kepemilikan materi, sehingga acuan kebahagiaannya adalah materi itu sendiri. Tidak heran jika yang terjadi adalah budaya pamrih yang tinggi, ambisi, agresif, grusa-grusu atau terburu-buru (beda dengan cekatan).
Padahal, berabad-abad bangsa ini dipelihara oleh nenek moyang yang bertolak belakang dengan kondisi, suasana dan nuansa impor tersebut. Negeri ini dibangun dengan puasa kehidupan para nenek moyangnya. Mereka menempa diri dengan tidak berambisi. Selalu sabar menjalani laku hidup prihatin (menyengaja untuk sengsara) di sepanjang hidupnya. Dan ketika proses itu berlangsung peradaban matahari terbit dari barat datang, mengganggu. Sampailah kita sekarang di masa rekayasa untuk meng-amnesia-kan diri kita. Melupakan nenek moyang dan memuja pendatang.
Semakin ke sini obsesi untuk tidak menjadi diri sendiri tersebut semakin menjadi-jadi. Bangsa ini dipimpin oleh obsesi, ambisi, agresifitas yang sudah bisa ditoleransi lagi. Para generasi penerus bangsa lebih menyukai kejumawaan akademik dari pada kerendahhatian sosial. Para perempuan muda dengan emansipasinya mulai tidak menyukai kegiatan rumah tangga. Mereka lebih memilih pemuasan batin artifisial. Apakah itu fashion, make up, tongkrongan anak muda masa kini. Dan secara umum manusia sudah tidak lagi menyukai puasa. Mereka lebih suka menerobos batas-batas.
Desa adalah peradaban puasa. Kota adalah peradaban pelampiasan. Dan kini kita semakin tahu apa yang sedang dituju oleh manusia modern. Penghapusan peradaban puasa, menuju ke peradaban pelampiasan.
Ibu pertiwi menjadi saksi itu semua. Semoga beliau tidak murka, mengutuk anak-anaknya. Karena di wilayah yang tidak diduga-duga masih banyak yang mengelu-elukan dan merindukannya.
Komentar
Posting Komentar