Langsung ke konten utama

Menunggu Baginda Ibrahim dan Muhammad (Ramadlan 6)

Sampai sekarang orang tahunya puasa itu sekedar urusan makan dan minum. Kalau mendengar kata Ramadlan yang diingat adalah waktu-waktu yang berkaitan dengan makan, misalnya waktu buka puasa atau sahur. Sehingga fokusnya orang tentang puasa hanyalah sebatas berusaha tidak makan dan minum di siang hari.

Padahal puasa itu ya seluruhnya. Hatinya, pikirannya, akalnya, tubuhnya. Latihan mengendalikan berbagai unsur jasmaniah ataupun rohaniah dalam diri manusia. Secara komprehensif, tidak sepotong-sepotong. 

Alih-alih sibuk  menertibkan hati dan pikiran supaya tidak serampangan dalam merasa dan berpikir yang mengakibatkan serampangan juga dalam bertindak orang-orang malah sibuk mempertanyakan kalau ngupil batal tidak, kalau membersihkan kotoran di telinga batal tidak, kalau gini-gitu batal tidak. Bukan bermaksud menyalahkan pertanyaan tersebut, hanya sekedar kritik saja, titik berat apa yang ditekankan dalam pertanyaan tersebut. Apakah jasmaniah atau rohaniah.

Penjasmanian puasa di era seperti ini memang sudah wajar kalau mengingat zaman ini adalah zaman pemadatan, penjasmanian, pematerian. Segala hal yang tidak padat, tidak jasmani, tidak materi dipadatkan, dijasmanikan, dimaterikan. Inilah zaman berhala yang sebenarnya. Menjadi tidak wajar kalau yang terjadi adalah sebaliknya.

Namun, apakah manusia akan tetap memilih kewajaran yang ini. Bukan kewajaran yang itu. Lebih wajar mana antara kewajaran yang ini atau kewajaran yang itu. Seberapa wajar kewajaran ini, seberapa wajar kewajaran yang itu.

Tidak tahu sampai kapan orang hobi memberhalakan sesuatu menjadi suatu kewajaran yang kukuh. Benar-benar dianggap wajar apa adanya. Apakah akan menunggu Allah mendatangkan Baginda Ibrahim dan Muhammad lagi supaya orang sadar bahwa manusia itu sedang menjalani suatu ketidakwajaran karena suka menciptakan berhala yang ia sembah sendiri.

Komentar