Langsung ke konten utama

Hanyalah Sang Maha Ada (Ramadlan 24)

Manusia diberi kesadaraan ada oleh Yang Maha Ada. Sehingga manusia merasa benar-benar ada. Dan itulah cara Tuhan membuat subyek kecil bernama manusia ini supaya sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupannya. 

Seringkali kesadaraan ada ini disalahpahami. Manusia menganggap kesadaran ada itu ada dengan tolok ukur pancaindera. Sehingga ada itu dianggap sebatas yang mampu dicerna oleh pancaindera. Padahal pancaindera itu hanyalah bagian kecil fasilitas yang diberikan oleh Tuhan sebagai bagian dari pemberian kesadaran ada.

Kesalahpahaman tersebut adalah bias dari adanya kesadaran ada. Adanya bias tersebut menunjukkan bahwa kesadaran ada itu benar-benar diberikan oleh Tuhan dengan sungguh-sungguh jauh melebihi apa yang dianggap sungguh oleh subyek kecil bernama manusia. Sebagaimana cahaya yang menyinari suatu benda, pastilah ada bayangan dari benda yang terkena cahaya sehingga jelas bahwa dalam keadaan tersebut ada cahaya.

Bias itu mempunyai proporsi tertentu untuk menegaskan ke-ada-an sesuatu. Ketika bias melebihi proporsinya maka tidak tepat jika hal tersebut dianggap bias. Ilmu tentang proporsi ini sudah diberitahukan oleh manusia mulia, “berhenti makan sebelum kenyang”, begitu kata beliau.

Kesadaran akan proporsi terkikis sedikit demi sedikit. Bias dari kesadaran ada melebar. Sehingga sudah tidak bisa disebut bias lagi. Manusia semakin merasa bahwa dirinya adalah keadaan sebenar-benarnya melebihi kesadaran ada yang diberikan oleh Sang Maha Ada. Perasaan itu seakan-akan akan merubah ke-ada-an yang sebenarnya. Seakan-akan manusialah ke-ada-an terhebat sehingga ia akan menang dari Sang Maha Ada. 

Tidak perlu menjadi doktor untuk menyadari adanya ke-ada-an yang sesungguhnya. Karena seorang penggembala kambing pun akan dengan sangat mudah untuk menyadari bahwa ia sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah Sang Maha Ada.

Komentar