Langsung ke konten utama

Sosmed dan Puasa (Ramadlan 7)

Teknologi informasi yang sudah menjadi media mainstream di negeri ini disikapi dengan berbagai jenis sikap. Ada yang diarifi, sehingga penggunannya tepat guna, akurat, tidak mubadzir. Ada juga yang dimanfaatkan secara serampangan entah itu sekedar anut grubyuk, elu-elu atau ikut-ikutan, atau malah menjadikannya sebagai media penyebar kebencian.

Mengarifi teknologi informasi membuat kualitas manusia semakin meningkat. Out put yang dihasilkan dari up to daten-ya seseorang yang dasarnya kearifan benar-benar sangat efektif jika dimanfaatkan sebagai sarana pembantu untuk meningkatkan kualitas diri. Untuk meningkatkan keilmuan misalnya. Atau sekedar untuk menjaga silaturahmi dengan saudara jauh. Bagi para pengusaha juga bisa dimanfaatkan untuk menunjang peningkatan omset.

Anut grubyuk, elu-elu atau ikut-ikutan adalah suatu peristiwa latah budaya. Karena di sana seperti itu,  kita di sini harus seperti mereka.  Mentang-mentang memakai sosmed ini terus apa saja dishare. Padahal, jika manusia sadar akan kesadaran kosmos ia mampu memilah, ibarat rumah ada terasnya, ruang tamunya, ruang keluarganya, dapurnya, kamar pribadinya, dan untuk urusan sosmed seharusnya yang dishare sebatas teras dan ruang tamu saja. Ruang keluarga, dapur tidak perlu, apalagi kamar pribadi. Entah kesadaran kosmos itu hilang karena ada sosmed atau memang sudah hilang sebelum ada sosmed yang pasti salah satu yang mencolok dari sosmed adalah apa saja dishare tanpa ada pemilahan-pemilahan tertentu.

Itulah porno. Porno tidak pasti membagikan, menampakkan aurat yang berkaitan dengan tubuh saja. Porno itu membagikan berbagai jenis aurat kemanusiaan, baik yang kasat mata maupun tidak. Bahkan lebih total pornonya. Apalagi yang disebarkan adalah virus kebencian-kebencian.

Jika dilihat dari perkembangan sosmed, semakin ke sini sosmed yang poluler lebih mengarah ke sosmed yang pragmatis, malas mikir. Salah satunya adalah sosmed dengan fitur utama share gambar dan video. Hal tersebut semakin mengukuhkan bahwa penyakit materialismenya manusia semakin menuju kepada puncaknya.

Memuncaknya materialisme mengisyaratkan bahwa zaman ini semakin bertentangan dengan prinsip puasa. Puasa itu prinsipnya membatasi sedangkan materialisme adalah tanpa batas. Untuk menjadi keren di sosmed harus total dalam membagi-bagikan informasi atau gambar, entah itu berbagi foto yang memikat seperti kecantikan dan ketampanan artifsial, atau membuat kalimat bernada aib, atau menjadi sok unik dalam video-video. Jadilah manusia sebagai maniak sosmed dengan menerobos batas-batas. Semakin disingkirkanlah puasa-puasa.

Komentar